A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: file_get_contents(http://xml.kompas.com/data/banner_on_keyword/on_keyword.php) [function.file-get-contents]: failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found

Filename: controllers/read.php

Line Number: 346

Budayaku Tergilas Zaman - KOMPAS.com
Selasa, 23 September 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Selasa, 23 September 2014 | 03:14 WIB
Budayaku Tergilas Zaman
Penulis: | Selasa, 16 Maret 2010 | 04:23 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

ICHA RASTIKA
Wayang Golek Sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia

Oleh Hendri R.H

Sebuah kebudayaan dalam kelahiran dan perkembangannya, selalu berkutat pada masalah apresiasi masyarakat dan pelestariannya. Sedangkan, membicarakan dua masalah tersebut akan mengakar pada satu masalah pokok yaitu waktu. Waktu dalam dimensi kebudayaan, sesungguhnya mempunyai dua arti penting. Pertama, kebudayaan bisa menjadi lebih baik karena para penganutnya memperlakukan kebudayaan tersebut sebagai sebuah barang berharga yang harus dijaga. Kedua, biasa saja kebudayaan tersebut hanya akan menjadi bahan ajar dalam buku sejarah, artinya kebudayaan tersebut hilang tergilas zaman.

Perkembangan zaman yang berkedok modernisasi mau tidak mau akan berbenturan pada kebudayaan yang lahir sebelum manusia modern mengenalnya. Hal ini dapat kita lihat dalam kebudayaan tradisional kita. Kebudayaan yang oleh penghayatnya masih dipandang sebagai kebudayaan spiritual dan kebudayaan filosofis.

Perubahan budaya yang terjadi di dalam masyarakat kita,  yakni perubahan dari mental simpatik menjadi antipatif, dari nilai-nilai yang dihayati menjadi sebuah beban perkembangan zaman. Inilah menurut saya mahluk modern yang menamakan dirinya globalisasi.

Lebih mengkhawatirkan lagi, kebudayaan kita cenderung mengarah kepada budaya-budaya yang datangnya dari luar, entah itu baik atau buruk yang penting dapat dianggap sebagai manusia modern yang menjunjung globalisasi. Misalnya saja, setiap hari kita disuguhi tayangan TV yang bermuara dari negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, Korea melalui stasiun televisi di tanah air. Belum lagi siaran TV internasional yang bisa ditangkap melalui parabola yang kini makin banyak dimiliki masyarakat Indonesia. Nah yang menjadi pertanyaan adakah kesenian atau budaya kita yang nampak? Anak-anak lebih senang disuguhi heroisme kesatria Madangkara atau lebih memilih kesatria Baja Hitam? Coba Anda tanyakan sendiri.

Fakta yang demikian memberikan bukti bahwa negara-negara lain lebih berhasil memasarkan budaya mereka sendiri dibanding negara kita. Coba kita balik, adakah masyarakat luar misalnya Amerika yang kecanduan menyanyi jaipong atau berkawih Jawa, justru bangsa kita yang menelan mentah-mentah budaya mereka. Lalu dimanakah kebudayaan Indonesia berada? Apakah hanya di  buku sejarah?

Peristiwa transformasi seperti itu mau tidak mau akan berpengaruh terhadap keberadaan kesenian kita. Padahal kesenian tradisional kita merupakan bagian dari khazanah kebudayaan nasional yang perlu dijaga kelestariannya. Di saat bangsa lain maju dengan teknologi informasi yang semakin canggih seperti saat ini, kita harusnya memanfaatkan potensi yang ada, misalnya sebagai negara yang “pandai-pandai” melestarikan budaya.

Jika kondisi demikian masih berlanjut, anak cucu kita mungkin akan kehilangan identitas bangsanya sendiri. Saya hanya berharap ada orang Indonesia yang meniru negara lain dalam memasarkan budayanya. Misalnya membuat Game Real Time Strategy (RTS) yang mengisahkan kerajaan-kerajaan nusantara misalnya kerajaan Mataram, Pajaran dan Majapahit. Jika bangsa amerika bangga dengan game bergaya modern kita perkenalkan kebudayaan tradisional lewat “muka” modern.

Satu lagi, jika Jepang punya budaya kuat dalam dunia komik misalnya Naruto. Kita sebenarnya bisa membuat komik dengan latar budaya kita sendiri. Anak-anak selalu berkilah bahwa Naruto mempunyai gaya bercerita dan spesifik kekuatan yang unik. Ya, kita jawab juga bahwa orang-orang Indonesia juga sakti-sakti. Bisa kita bayangkan ada komik yang mengangkat seluk beluk kisah Kerajaan Majapahit. Jika hal ini dilakukan, hal-hal yang berbau modern tidak lagi dianggap “beban”, tetapi sebagai alat untuk melestarikan dan mendampingi kesenian tradisional.

-----
Hendri R.H, lahir di Sumedang 4 Agustus 1989. Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Pecinta bahasa dan penikmat sastra. Menulis Esai, cerpen dan dan opini.

Editor :
jodhi