Cerber Benny Benke
IV. Pertemuan; Luka dan Gavin.
Jakarta, 22.00 WIB, dan waktu terus berjalan.
DI sebuah pelataran parkir gedung BNI 46, Jalan Sudirman Jakarta Pusat, mobil Luka tampak telah menyusuri selasar parkir di salah sebuah gedung pencabik langit Jakarta itu. Setelah prosesi memarkir, mematikan mesin, mematikan tape yang memutar tembang ‘’Another Brick In The Wall (Part 3)’’ dari album Pink Floyd: Rogers Water ‘’The Pross and Cons of Hitch Hiking’’. Kemudian membuka pintu, menutup pintu, mengunci, dan berjalan menuju lift, dan menyongsong tempat yang telah ditentukan, Luka yang tenang telah sampai di kafe yang ditetapkan; di lantai 46, BNI 46, Jakarta.
Tidak berapa lama setelah Luka menempatkan diri di sebuah meja bagi dua orang, Gavin, laki-laki yang tampaknya dari tadi telah berhubungan dengannya via phone, telah memasuki dan menyusuri pelataran parkir yang sama. Setelah prosesi memarkir, mematikan mesin, mematikan tape yang memutar komposisi ‘’Jesu, Joy of Man’s Desiring’’, Cantata No. 147, Herz und Mund und Tat und Leben, dari album ‘’Greatest Hits Johann Sebastian Bach’’. Kemudian membuka pintu, menutup pintu, mengunci pintu dan berjalan menuju tempat yang telah ditentukan, Gavin yang yakin, pelan dan pasti telah berada di dalam lift, memencet angka 46.
Dalam waktu yang sama, Sita yang masih menimbun kepanikan pun telah memasuki dan menyusuri lobi sebuah perkantoran. Setelah prosesi membayar taksi sebanyak rupiah yang tertera di argo, membuka, dan membanting pintu, Sita turun dan menyegera menuju ke tempat café yang berada di dalam sebuah gedung perkantoran itu. Masih dengan kepanikan yang semakin nyata Sita telah songsong di sebuah café yang ia maksud. Nihil, ia tidak menjumpai orang yang dicari. Setelah menyelidik ke seluruh ruangan, Sita tetap tidak menemui apa yang dicari. Maka, bersegeralah ia menyambar hp-nya mencoba menghubungi seseorang di luar sana. Gagal, dia tidak berhasil menghubungi orang di seberang sana.
Sementara itu, Luka yang telah rapi di tempat duduknya, mulai asyik dengan telpon genggamnya. Di seberang sana, seseorang yang kemudian teridentifikasi sebagai Gavin mengangkat hp-nya . Luka bangkit dari duduk, mengangkat tangan kirinya, dan pemuda di seberang sana, Gavin yang celingukan, membalas mengangkat tangan kanannya, dan menyegera menghampiri meja Luka.
Setelah keduanya saling bersitatap beberapa jenak, dan tanpa jabat tangan, Luka mempersilakan Gavin duduk pada tempatnya. Kemudian, Luka berinisiatif memanggil seorang waitres untuk memesan minuman. Setelah waitres datang menghampiri, dan usai melayani pesanan Luka, ia bergeser ke arah Gavin. Tak berapa lama kemudian akhirnya waitres beranjak pergi.
Selama menunggu datangnya pesanan minuman, baik Luka dan Gavin, masing-masing bersetia dengan aduan matanya. Tanpa kata mati rasa. Dari sini kita seperti melihat pemandangan yang janggal, dilihat dari sudut pandang kacamata manapun. Dua orang yang belum saling kenal dan belum pernah bertatap muka, untuk kali pertama bersua. Yang terjadi adalah kecanggungan yang maha luar biasa.
Hingga akhirnya waitres datang juga dengan pesanan masing-masing. Luka dengan secangkir teh tawar mint pahit dan segelas bir hitam kegemarannya. Gavin, dua gelas es lemon tea kesukaannya.
Selama prosesi waitres menyajikan pesanan di atas meja mereka berdua; baik Luka maupun Gavin, masih tidak menyediakan satu kedip pun untuk menghiasi ketegangan diantara mata mereka. Luka dan Gavin masih saja mengadu pandangannya. Tidak mendulikan, dan mengabaikan waitres yang melayani pesanan mereka. Hingga Luka membuka kata, dan menyilakan….
‘’Silakan diminum’’.
‘’Makasih,’’ ujar Gavin.
Setelah keduanya masih saja saling bersitatap. Luka mengambil gerakan untuk mematikan hp-nya.
Mengetahui Luka mematikan hp, Gavin pun melakukan hal yang sama.
Masih dalam waktu yang sama, namun dalam lingkup tempat yang berbeda, Sita bersegera hengkang dari tempatnya semula, dan kembali ke jalan raya, mencegat taksi berikutnya. Masuk ke dalam taksi, membanting pintu, dan memencet-mencet hp-nya. Kesal, tidak ada respon dari hp yang ditujunya, Sita memutuskan pergi entah ke mana lagi, tergesa nuju ke gedung lainnya.
Luka yang masih bersemeja dengan Gavin, dengan ketenangan yang terlahir dari kedewasaan mereka masing-masing, mulai membuka kesempatan untuk dualog. Dua laki-laki usia 29 dan 25 tahun itu, mulai berbicara dengan datar, tenang, dan dingin, seolah karib yang telah lama tidak bersua. Penuh kehangatan yang dibuat-buat. Meski ikhwal yang dimusyawarahkan berkeniscayaan menyalakan api amarah diantaranya.
Setelah menyeruput teh mint pahit kegemarannya, Luka dengan datar membuka kata, ‘’Manusia macam apa sebenarnya dirimu! Merendahkan martabat laki-laki dengan mengobrak-abrik bahtera rumah tanggaku. Sebelum pada akhirnya, dengan penuh muslihat, kaucuri istriku dari rumahku."
Gavin diam saja, parasnya belum berubah. Luka pun meneruskan deretan kata demi katanya dengan emosi yang masih tertata rapi. ‘’Tidak adakah jalan hidupmu yang lebih baik, selain kau isi dengan perkara yang memalukan ini?’’ imbuh Luka.
‘’Sejak semula aku tidak memercayai diriku sendiri, kalau hubunganmu dengan istriku telah berjalan sekian lama. Namun, sejak saat ini. Mulai detik ini. Dengan segala kebaikan dan kesabaran. Sebagai sesama laki-laki; aku minta kau menyudahi hubungan diluar kepatutan ini’’. Lega memberondongkan kalimat yang menghimpit keteganganya yang lama di simpan rapi, Luka menarik nafas dalam dan panjang. Gavin belum bereaksi apa-apa.
"Kalau boleh tahu,’’ sambung Luka sembari merapikan letak duduknya. ‘’Muslihat apakah yang kaugunakan, sampai istriku seolah dengan segala kesertamertaan, dan seakan penuh kerelaan, berpaling dariku ke pelukan seorang laki-laki macam dirimu. Atau tidakkah kau malu pada dirimu sendiri, bahwa tindakanmu ini…,’’ Luka tidak melanjutkan kalimat panjangnya. Sebelum pada akhirnya ia, untuk kali kedua menarik nafas panjang, dan mulai kembali meneruskan, ‘’Tidakkah dapat kaurasakan kepedihan hatiku, ditelikung seorang istri yang teramat sangat disayanginya, atas nama sebuah perselingkuhan ?!’’

