Cerber Benny Benke
III. Photo.
Jakarta, 21.00 WIB, dan waktu terus berjalan.
DALAM kungkungan musim hujan yang sedang meraja, Luka seorang diri di rumah kontrakannya yang tidak seberapa luas, menekuni setiap photo yang terpampang di ruang tamu. Di luar hujan deras masih digdaya, padahal malam merambat semakin renta.
Dengan tenang, Luka takzim dan hanif menatap setiap photo yang terpampang di dinding rumah sederhananya. Photo yang ia tatap tak lain adalah photo masa-masa bahagia dengan istri terkasihnya; Sita. Dengan raut muka yang datar, dingin dan nyaris tanpa emosi Luka masih dengan tenang memandang semua photo yang terpampang di dinding, maupun terpacak di atas meja. Hingga akhirnya ia meraih handphone yang tersaku di celananya.
Setelah berbicara dengan seseorang di seberang sana, Luka memutuskan hengkang dari rumah kontrakannya. Pergi entah ke mana, menantang derasnya hujan di luar sana dengan mobilnya.
Pada waktu dan saat yang bersamaan, namun di tempat yang berbeda, Sita sedang menekuri meja kerjanya yang rapi. Di pojok kiri dan di sisi bibir mejanya, bersebelahan dengan seuntai kuntum mawar putih yang menjuntai dari dalam gelas kaca berisi air, terpacak photo sosok dirinya dengan suami terkasihnya, Luka. Dengan pandangan yang hampa, kosong, dan suwung ia menebar mata keseluruh meja kerja. Sembari sesekali menyeruput minuman hangat yang tercangkir di genggamannya.. Sebelum pada akhirnya ia melakukan aktifitas yang lumayan berarti dengan memencet tuts hp-nya.
Pada waktu dan saat yang bersamaan, namun di tempat yang berbeda pula, Gavin Harris, sedang asyik di teras rumahnya yang rindang, sesak dengan berbagai jenis tetumbuhan dan kembang.
Gavin, pemuda yang masih berusia 24-25 tahun itu, adalah pencinta flora dan kembang. Parasnya tampan, tenang dan matang, sematang tetumbuhan dan kembang yang mekar di hadapannya. Gavin, sebagaimana cerita Luka padaku, tidak sebagaimana pemuda kebanyakan yang cenderung sibuk dengan dirinya sendiri. Yang satu ini, sudah pandai menata hati, dan cenderung usai berperkara dengan dirinya sendiri.
Gavin yang sedang merapikan daun kering di sekitar tetumbuhan yang kembang, seketika dikejutkan oleh getar telpon genggam di sakunya. Ia berbicara dengan seseorang di seberang sana, sebelum pada akhirnya memutuskan menyudahi kesibukannya, masuk ke dalam rumah, berbenah, meraih kunci mobil dan pergi entah ke mana.
Sita, yang masih berada di ruang kerjanya, sebuah kantor asuransi mobil ternama dengan jaringan di mana-mana, pada saat yang bersamaan pula telah mengangkat telpon yang dari tadi di pencet-pencetnya. Tampaknya Sita juga sedang berbicara dengan seseorang di seberang sana. Sebelum pada akhirnya ia berpekik; ‘’JANGAN...!!!’’. Dan menyegera bergegas beranjak dari meja kerjanya. Sebelumnya, dalam hitungan gesa, Sita masih sempat merapikan berbagai piranti miliknya untuk dikemas dalam tas jinjing. Saking tergesanya ia, gelagatnya tak keruan, tak beraturan dan akibatnya ia malah lalai dengan kunci mobilnya….., yang menyelinap di sesela serakan buku di bibir meja kerjanya…Sita telah pergi dari meja kerjanya. Entah hendak menyongsong apa, SEMBURAT!
Malang, setelah sampai di tempat parkir dengan nafas satu dua, tersengal sengal, dan telah menjumpai mobilnya. Ketika hendak membuka pintu mobil…, kunci tidak tertemukan di tas jinjingnya…;’’ Ah……,’’ lenguh Sita. Tanpa berpikir panjang, ia tingggalkan mobil, bersijingkat dari tempat parkir, keluar gedung, dan bersegera menuju ke pinggir jalan raya, mengabaikan sekuriti yang menyapanya, mengabaikan tikaman hujan, mencegat taksi yang lewat.
Kini, ketiga anak manusia itu; Luka, Gavin, dan Sita telah berada di jalan raya kota Jakarta, di guyur derasnya hujan dalam dekapan malam yang merambat renta. Dalam waktu yang sama, di tiga tempat yang berbeda.
Jika Luka dan sebagaimana Gavin cenderung mampu memanajemen emosinya, yang nampak dari ketenangan paras mereka berdua. Tidak demikian dengan Sita. Istri Luka ini parasnya menceritakan dan menyimpan banyak persoalan. Mencitrakan kegundahan sekaligus kesepian, tipikal persoalan orang-orang kota. Di dalam taksi yang rawan tindak kejahatan, kegelisahan Sita bercampur aduk dengan banyak perkara yang bersemayan di kepalanya. Ia entah menuju ke mana? Hanya dari pergerakan bibirnya yang matang, Sita memberikan sebuah kalimat yang tampaknya sudah sangat dimengerti oleh supir taksi paruh baya. Paras Sita panik!

