Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 13:39 WIB
Puisi-puisi Dedi Patigeni
| jodhi | Sabtu, 13 Maret 2010 | 01:19 WIB
|
Share:

NASA
Gugusan bintang di ruang angkasa. Di antaranya ada bintang-bintang yang memiliki planet

Altar Perjamuan Itu

oleh: Dedi Patigeni

Langit tak lagi mendung
ketika awan tipis berarak ke timur
berkejaran memburu waktu
meninggalkan jejak penuh rasa

Untuk apa kau sembunyi disitu
disaat angin mengirim desir rindu
untuk apa pula kau seduh asmara
disaat bibir indahmu enggan tersenyum

Jemari pun tlah kau genggam
kau remas tanpa geming
menyisakan buih diantara gelombang
menghentak tanpa bisa kau renggangkan

Sesobek kain usang kau jambak
kau saput dengan berahi membuncah
rasa kama tlah kita wedar
penuh makna diladang gersang

Kenapa pula kau bilang lelah
ketika tikar pandan baru kita gelar
oh dewi jalang, aku jadi merundung
gamang bila kau ijinkan mencumbu petang

Malam pun mulai berpendar bintang
namun hanya satu gemintang yang tersenyum
Ya.. hanya satu bintang
yang mampu membelah hasrat menggebu

Rembulan pun mulai pasrah
ketika mantra tua kau dendangkan
dendang asmara yang kita laras bersama
di altar senggama tempat bertahta

Hei kumbang malam
kenapa kau usik belahan jiwa
kenapa pula kau tikam manikam
ketika aku meretas sukma

Bukankah mantera kesucian tlah kusuguhkan
sebagai persembahan bukan pula kepasrahan
taukah kau tentang keillahian
tempat yang dijanjikan alam untuk kita

Dan bibir pun mulai mengering
merintih tertikam rasa
rasa dari segala rasa kita berdua
sarat makna tanpa butuh berkata-kata.

:Batavia, 7 Maret 2010:

Hanya Selembar Asa

Oleh : Dedi Patigeni


Adek....
Lengan kokoh itu telah melempar sauh
di dermaga sunyi sendiri
dingin diselimut kaki senja

Tanpa seulas senyum
lelaki kecil ringan melangkah
tanpa alas kaki di lembaran teras alam

Matahari tak lagi beringas
lelah menarikan kesenyapan sang lelaki
hadir dan berlari meretas sunyi

Adek...
Tahukah engkau kapan sang kaki itu lelah
kenapa pula kau siapkan dermaga
sementara kaki kecilmu tak lena melangkah

Bilur nafas lelaki kecil pun mulai terengah
menepis beban di raga nan rapuh
tak sanggup pula mengurai asmara

Adek...
Kenapa kau cabut anak panah di hatinya
disaat sang tajam terasa nyenyak disisinya
kenapa pula kau giring bayu rindu dekatnya
ketika kau belum rampung menanak asmara untuknya

Dan sang lelaki itu hanya tersenyum
tanpa berkata-kata di senja temaram
sarat makna
pasrah dalam belitan asa

Adek...
Masihkah kau sisakan secuil rembulan
disaat matahari mulai enggan tersenyum padanya

Dan lelaki itu hanya menunggu mimpi
mimpi tentang biduk di laut lepas
yang dijanjikan asmara untuknya...

=Jogjakarta, 1 Maret 2010=

Masih ada rasa

Oleh:Dedi Patigeni

Sore ini terasa lengang
tanpa jejak tanpa hasrat
desir angin demikian lembut
menerpa lelah tak berpangkal

Beranda yang kusiapkan masih sepi
kosong tanpa pahatan mantra
terserak tanpa arah

Gelaran tikar pandan masih sendiri
menyimpan jejak aroma tubuhmu
lekat memantul aura lembut bersahaja
sakral saat kita urai mimpi perih bersama

Wahai belahan jiwa
kenapa kau bunuh rindu di sudut ruang
bukankah disana kita menikam asmara
penuh peluh membasuh raga

Kenapa engkau sangka kita hanya titah
bukankah kita masih menyimpan lara
nesta hampa namun sarat makna

Kekasih, kita bukan pujangga
yang pandai mengobral kata
ya... benar katamu, kita hanyalah titah
dipaksa alam tak boleh merana

Aku hanya tahu asmara tak harus bicara
kemesraan tak harus berbait-bait syair
tak harus mengalir ke lembah tanpa daki
tak pula harus diratap air mata

Kekasih, bukankah kita tlah diajari alam
untuk menebar benih tanpa dahaga
memiliki tata krama untuk bicara
meski hanya untuk berujar cinta.


-) Batavia – Sore 12 Maret 2010.

Menatap Bintang

Oleh: Dedi Patigeni


Dear...
Malam ini gelisah merabaku
Tak bisa dipatah emosi
Desir angin malam tak lagi mengantar lelap

Dear....
Masihkah kau ingat kata-kataku
Rangkaian kata yang membalut pedih
Di ujung malam berselimut sepi

Dear....
Adakah lagu rindu masih berguman
Ketika rona mata indahmu kian menyipit
Akan pula kau rela melantunkan tembang asmara

Dear ....
Kata penyair, cinta bersetubuh air mata
Namun asmara yang kita buai adalah realita
Walau dalam bayang fatamorgana

Dear ....
Malam ini aku ingin melihat bulan
Namun sang awan tak rela kita binal

Dear ....
Ijinkan aku menatap bintang
Sekalipun gemintangnya juga terhalang awan

Dear ....
Aku tak mampu berlari
Meski sebenarnya aku masih ingin berdiri
Memayungi malam-malammu yang sunyi

Dear ....
Kenapa kau biarkan awan merenggut rembulan
Kenapa pula kau peluk gemintang
Ketika aku ingin membelainya

Dear ....
Itukah dirimu yang dulu


--Pati - 25 Feb 2010--

Sastra Jendra

Oleh: Dedi Patigeni

Lelaki itu hanya menunduk
berlalu meninggalkan tapak luka
gundah menyelimuti perjalanan
tanpa batas tanpa kata akhir

Sang lelaki hanya diam
bak syair menunggu diungkap
bagai gending menunggu disimak
tanpa arah menepi belantara khidmat

Apa yang kau buntal dalam teduhmu
kenapa pula kau senyapkan bisu yang membiru
bukankah temaran telah tersenyum
kenapa kau campakan seyuman

Lihatlah betapa indah bibir itu
betapa lembut rambut itu menari dielus angin
lihat pula bening matanya
bukankah itu surgawi yang dijanjikan alam

Wahai lelaki malang
kenapa kau tinggalkan rasa sebelum bermakna
mengapa kau wedar sastra jendra
ketika kau tak sanggup merapalnya

Senja tak menuntut bela
tak menghiba kata mesra
dan senja menjadi bermakna
ketika dicumbu mesra sang sukma

Kau telah melaras tembang kemesraan
menerjang sekat penuh luka
menikam duka tanpa berkata-kata
datang lalu berlalu tanpa jejak

Sang lelaki sesaat menoleh
ragu membumi di batinnya
langkah kakinya tenang
menemui rasa yang hendak dicampakan

Sastra jendra kembali dia buka
dia simak dengan penuh keraguan
perjalanan pun menyisakan cemas
tanpa rundung luka dan merana.

*)Batavia - 10 Maret 2010.

Untuk Engkau

Oleh: Dedi Patigeni

Sampur usang itu telah robek
tak lagi mampu menampung gelora membuncah
oh... sang malam wisik apa yang dikirim untukku

Dan sang musyafir pun berlalu
meninggalkan dendam kepiluan
dingin membeku tanpa mampu dilarung

Rindai germis kelabu
menawar pagi berbalut nestapa
dirancah takdir dalam bingkai kelam

Hei... dewi jalang
untuk apa kau rapal mantra senyap
ketika rona mentari memulai tariannya

Untuk apa kau menunggu genitnya malam
ketika sang kelam tak mungkin bertandang
sang penari hanya diam memandang bintang
gemintang terakhir di akhir malam

Tembang rindu pun tak mampu kau laras
dihela secuil angin kerinduan.

-----
-Kudus, 23 januari 2010-

Dedi Patigeni, lahir di Klaten 30 tahun silam. Menyelesaikan pendidikannya di FISIP Universitas Gajah Mada (UGM) Jogjakarta. Menulis puisi dan membaca adalah hobbynya. Saat ini tinggal di Jakarta.