Cerber Benny Benke
KALI terakhir aku bersua dengan Sita pada saat prosesi pengebumian mendiang Bianca. Bersama Luka, Sita datang padaku dan memberikan simpati yang dalam atas kehilanganku. Memang, setelah pertemuan kami yang pertama, aku dan mendiang Bianca tidak pernah lagi bersemuka dengan Luka dan Sita secara bersamaan. Hanya sesekali dengan Luka.
Kesibukan Jakarta dengan segala pernak-perniknya membuat kami bahkan seolah tanpa daya untuk mengatur ulang pertemuan, sebagaimana kali pertama dulu. Dalam hal ini, benar ujaran Luka, rencana terbaik adalah spontanitas. Atas nama spontanitas pula, Luka dan Sita kembali menemuiku, tapi sayang, spontanitas kedua itu harus terjadi setelah Bianca ‘berpulang’.
Sita memang sempat menengok bayi Tristan ke rumah sakit, dan tentu saja di sana ia meneteskan berbulir-bulir air mata. Namun tampaknya ia sedikit lega setelah ibuku memberitahukannya kalau para nenek dan kakek Tristan akan turut campur membesarkan anakku.
Setelah masa berkabung usai, sebagaimana orang lain, Luka dan Sita mohon diri dengan meninggalkan bermakna-makna doa untuk kekuatanku. Tentu saja itu sangat berarti. Semenjak itu pula, aku tidak pernah bertemu dengannya. Kalaupun Luka datang menghampiriku, ia datang seorang diri. Kalaupun aku datang ke rumah kontrakan mereka di pinggiran Jakarta, di wilayah Cibubur sana, Sita sedang berada di tempat kerjanya, atau sedang di rumah kedua orang tuanya, yang terletak tidak seberapa jauh dari rumah kontrakan mereka.
Hingga akhirnya, aku dengar dari Luka, mereka berdua telah berpisah dengan baik-baik sekali. Baik-baik saja? Apakah ada perpisahan yang benar-benar diakhiri dengan baik-baik saja? ‘’Paling tidak kami berusaha untuk tetap baik-baik, dan sewajarnya menyelesaikan perpisahan kami,’’ tutur Luka padaku, ketika ia menyempatkan diri mampir ke rumah.
Apakah sebenarnya yang membuat mereka berdua berpisah? Inilah kisahnya.
II. Kisah Sepertemuan
KISAH Luka dan Sita adalah kisah sepertemuan tentang orang-orang yang menjalani kesempitan dan kelapangan dengan sama baiknya. Yang mengatasi kesenangan dan kesusahan dengan sama apiknya.
Yang senantiasa berusaha berpikiran baik terhadap jalan hidup yang paling tidak masuk akal sekali pun. Meski, tentu saja tidak semudah, dan seperti yang diharapkan.
Aku dapat menyimpulkan ini, karena setelah sekian lama berpisah dengannya, dan nasib terus mempertemukan kami kembali dalam keadaan seperti dulu, persis ketika kami masih sama-sama seorang diri, Luka, nyaris tidak berbeda sudut pandangnya dalam menyikapi hidup. Malah, menurutku, semakin cenderung matang saja, meski tidak seliar dulu, dan belum bijak benar tentu saja.
Sebagaimana perjalanan waktu yang memang dan sepatutnya memaksa, serta membuat seseorang untuk menjadi lebih baik.
Kesendirianku, sebagaimana kesendirian Luka memang bukan tanpa sebab dan maksud. Kami meyakini, ada banyak hal dibelakang itu semua. Salah satunya adalah garis nasib yang memang menakdirkan kami sendirian dengan segala konsekuensinya. Siap atau tidak siap, terima atau tidak terima kami harus bisa menerimanya. Syukur-syukur mampu mewarnainya, apalagi memberi makna dan merayakannya.
Ya, bahkan terkadang Luka berkata padaku mungkin dianya saja yang tidak terlalu pandai membaca bahasa Tuhan lewat anugerah kesendirian yang dilimpahkan padanya. Dia merasa tidak terlalu mampu menangkap simbol-simbol, dan makna-makna kesepian dan kesendirian yang berbicara kepadanya.
Tuhan terlalu super cerdas dan super jenius buatnya, sehingga ia tidak dapat menangkap maksud kesendirian dan kesepian yang disapa dan sajikan kepadanya. ‘’Seandainya Tuhan berbicara lewat bahasa yang lebih sederhana dan bisa dapat aku terima, mungkin lain ceritanya. Atau akunya saja yang terlalu bebal dan tumpul hati, sehingga tak dapat membaca rahasia-rahasianya-Nya,’’ katanya padaku suatu malam, ketika kami merenungi kesendirian setelah ditinggal pergi orang-orang yang kami cintai.
Luka dan Sita akhirnya memang berpisah, sebagaimana aku dan Bianca. Hanya bedanya, atas nama kesadaran, Luka dan Sita memisahkan diri. Jadi, tidak ada yang memaksanya. Sedangkan dalam kasusku, kematian bermahadaya. Kesadaran takluk oleh kesewenangan-Nya. Memang, meminjam bahasa Luka, tidak akan pernah sampai pikiran manusia untuk menjangkau-Nya.
Inilah senukil perjalanan Luka dan Sita menjelang waktu perpisahannya.

