Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 15:50 WIB
Kau Kukejar, Kini Kutangkap
| jodhi | Rabu, 10 Maret 2010 | 23:02 WIB
|
Share:

DHONI SETIAWAN
Kepala Pusdokkes Mabes Polri Brigjen Pol dr Musaddeq Ishaq menunjukkan foto tersangka teroris Dulmatin di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (10/3/2010). Pihak kepolisian melalui hasil tes DNA dan ciri fisik lainnya, memastikan Dulmatin sebagai salah satu dari tiga tersangka teroris yang tewas saat penggerebekan di daerah Pamulang, Selasa 9 Maret 2010. KOMPAS IMAGES/DHONI SETIAWAN

Oleh Hendri R.H

"Romatisme" Densus-88 dan para teroris kini terulang kembali. Belum genap sepekan aksi teroris di Aceh, kini pertunjukan kembali digelar di Pamulang Banten. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memastikan bahwa teroris yang tewas adalah Dulmatian alias  Amar Usman alias Muktamar alias Djoko Pitono. Beliau menyampaikan pesan tersebut sewaktu kunjungan kenegaraan ke Australia.

Dari beberapa tokoh teroris yang masuk ke dalam buronan Interpol, hanya masuk hitungan jari saja manusia yang dihargai 10 juta Dollar ke atas, diataranya Dulmatin. Dari penawaran yang dikeluarkan pemerintah AS , kita bisa bayangkan betapa berbahayanya orang ini. Daftar muka lama seperti Dr.Azhari dan Noor Din M.Top sudah masuk liang kubur, belum lagi tiga serangkai pelaku bom bali Imam Samudra, Amrozi dan Ali Ghufron.

Tapi tentu saja Dulmatin berbeda dengan teroris lain yang sempat berkeliaran di Indonesia. Sejak peristiwa bom Bali, ia dianggap sebagai dalang di balik peristiwa tersebut. Dari tahun 2002 setidaknya sudah 8 tahun ia buron, bandingakan dengan nama-nama besar teroris di Indonesia yang sudah lebih dulu diciduk. Bahkan yang mengejutkan pemerintah Filipina mengklaim bahwa Dulmatin telah mati. Hal ini tentu saja menjadi bumerang bagi polisi karena tentu saja orang yang sudah mati tidak akan dicari, bahkan yang menerbitkan berita kematian tersebut adalah pemerintah otoritas Filipina. Mudah-mudahan Densus-88 tidak salah mengindentifikasi.

Sisi lain yang cukup mengherankan adalah momentum aksi dan penangkapan teroris. Entah ini kebetulan atau apa, tapi yang pasti peristiwa aksi teroris dan perburuannya selalu berada dalam sebuah momen waktu yang kurang tepat. Kita masih ingat kedatangan Manchester United yang dibatalkan gara-gara peristiwa bom di Ritz Chaltron. Peristiwa ini sehari sebelum pertandingan digelar. Tentu saja membuat wajah Indonesia kembali tercoreng, citra damai yang dibangun runtuh sekertika dan di cap sebagai Negara “tidak aman”.

Tapi memang, sesungguhnya kebetulan dalam sebuah persitiwa besar hanya isapan jempol belaka, kita mungkin berpikir ‘’ini ada yang membetulkan”. Kita tengok peristiwa Dulmatin, sejalan dengan kedatangan para delegasi Amerika terutama Obama yang bakal menginjakan kaki di Jakarta. Apakah Obama akan tetap datang kesini? Saya kira akan sulit dan perlu waktu yang cukup lama lagi, jika memang Obama jadi ke Indonesia mungkin pengamannya akan dua kali lipat kedatangan Bush kala itu.

Setidaknya kedatangan Obama bukan saja dipandang dari sisi negative sebagai “bola-bola kapitalis”, tetapi menjadikan Indonesia yang layak untuk dikunjungi. Orang mungkin berpikir Presiden AS saja datang ke Indonesia, mengapa saya tidak, berarti disana aman. Bisa dibayangkan pendapatan aspek pariwisata kita akan meningkat.
Selain itu, dukungan pemerintah AS setidaknya mendongkrak pasar ekspor kita, setelah tertelan oleh “serangan” produk China. Tapi setelah peristiwa itu akankah lobi AS-Indonesia berjalan?

Hendri R.H, lahir di Sumedang 4 Agustus 1989. Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Pengamat sosial dan aktivis kampus. Menulis Esai, cerpen dan dan opini. Aktif dan bergabung Komunitas Anak Sastra UPI www.anaksastra.blogspot.com.