SURABAYA, KOMPAS.com--Aliansi Seni Surabaya telah menyiapkan enam komposisi dalam serangkaian pementasan di Sidoarjo, Solo dan Jakarta. Adapun keenam komposisi tersebut masing-masing berjudul Rajut, Kidung, Oseng, Kompilasi, Asimilasi dan Emosi.
Ketua Aliansi Seni Surabaya Solichin Jabar mengatakan, serangkaian pementasan musik oleh Komunitas Ali ansi Seni Surabaya di Sidoarjo, Solo dan Jakarta, tidak terlepas keberadaan komunitas musik Aliansi Seni Surabaya yang selama ini terus berproses kreatif, walaupun ada undangan pentas ataupun tidak ada sama sekali.
Proses jalan terus dan setiap hari Senin, kami latihan bersama dan mencari ide-ide baru dalam konsep bermusik, kata Solichin Jabar, Rabu (10/3), di Surabaya.
Dikatakan, pementasan musik Aliansi Seni Surabaya, 15 Maret mendatang, di Sidoarjo atas undangan penyelenggara Festival Topeng dan Batik Painting. Adapun, pementasan di Taman Budaya Solo, Jawa Tengah atas undangan I Wayan Sadra, seniman musik etnik-kontemporer yang juga penggagas pergelaran musik bertajuk Bukan Musik Biasa, 27 Maret.
Pergelaran musik Bukan Musik Biasa yang digagas oleh I Wayan Sadra sudah berlangsung ke-16 kali dan diselenggarakan setiap dua bulan sekali. Komponis besar, Slamet Abdul Syukur pun pernah diundang tampil di sana, katanya.
Cak Kin, sapaan Solichin Jabar mengatakan, dalam pementasannya di Solo, pihaknya telah mempersiapkan diri secara serius dengan pendekatan etnik dan modern dalam gubahan musiknya. Pasalnya, dalam event musik Bukan Musik Biasa , tidak sembarangan menghadirkan musisi atau kelompok-kelompok musik yang tampil.
Event musik Bukan Musik Biasa , bukan profit oriented, karena orientasinya lebih kepada dialog karya dan gagasan dalam bermain musik, katanya.
Menyoal komposisi yang diusung dalam pagelaran musik Bukan Musik Biasa , Solichin mengatakan, konsepnya berpijak dari unsur-unsur musik etnik Indonesia. Komposisi berjudul Rajut , misalnya, nuasanya etnik Minang yang digabung musik modern, Jazz. Adapun komposisi berjudul Asimilasi , nuansa etnik Sronen, Maduranya amat kental.Sedangkan komposisi berjudul Kompilasi , nuansa etnik Jepang, India dan Indonesia memadu ke dalam gubahan musiknya.
"Tangga nadanya kami gubah sedemikian rupa dari gabungan pentatonik khas Indonesia dengan unsur musik Raga India dan Jepang," katanya.
Selain pentas di Sidoarjo dan Solo, Aliansi Seni Surabaya bakal pula memenuhi undangan pentas musik di IKJ (Institut Kesenian Jakarta), 2 Mei mendatang. Sebelum pentas di IKJ, Aliansi Seni Surabaya, 1 Mei pentas dalam acara Semanggi Suroboyo yang diadakan oleh Surabaya Community Jakarta, katanya.
Dalam pementasannya nanti, demikian kata Solichin, Aliansi Seni Surabaya membawa dua kelompok besar dan kelompok kecil. Kelompok besar terdiri dari enam pemusik, Tohir (fluite/sronen), Hari Solas (kendang), Haris (bass/perkusi), Poer (perkusi kecil), Rusdiyanto (dhuk-dhuk) dan Solichin Jabar (kibor/sronen).
Untuk kelompok kecil, kami melibatkan tiga orang, Emma, Upik dan Paula, semuanya pemain teater dan mereka akan memainkan musik dari barang-barang bekas, katanya.
Solichin menyatakan, undangan pementasan musik oleh IKJ dan I Wayan Sadra dengan eventnya Bukan Musik Biasa , amat bermakna untuk Aliansi Seni Surabaya. Minimal punya jaringan lebih luas dan bisa memberikan kontribusi musik non entertainment. Apalagi wacana art musik yang berakar dari etnik, seperti di Belanda dan Hungaria sudah menjadi genre art musik, katanya. (TIF)

