Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 04:52 WIB
Kesenian yang Membanggakan Sekaligus Dibaikan
Yurnaldi | jodhi | Rabu, 10 Maret 2010 | 22:12 WIB
|
Share:

Fransiskus Asisi Agung Setiawan
Ilustrasi pementasan ludruk

JAKARTA, KOMPAS.com--Meski dianggap penting serta banyak meraih prestasi dan penghargaan di kancah internasional, kesenian dan kebudayaan kurang mendapatkan perhatian dan dukungan yang memadai. Survei Public Interest Research and Advocacy Center (PIRAC) di 7 kota melaporkan, seni budaya hanya disumbang 3 persen masyarakat yang jadi responden.

Dukungan dari pemerintah maupun sektor swasta juga relatif minim. Hal ini secara mudah dapat dilihat dari minimnya APBN/APBD yang dikucurkan pemerintah, serta tiadanya kebijakan dan insentif yang mampu mendorong para pihak untuk mendukung kesenian dan kebudayaan. Sementara sektor swasta/perusahaan belum melihat seni budaya sebagai program prioritas untuk didukung dan didanai.

Demikian antara lain terungkap dalam diskusi publik bertajuk Mencari Format Pembiayaan dan Strategi Penggalangan Sumber Daya untuk Pengembangan Seni Budaya di Indonesia, yang digelar PIRAC dan Hivos , Rabu (10/3) di Erasmus Huis, Jakarta.

Di tengah kecenderungan itu, ternyata banyak seniman dan kelompok kesenian bisa survive, serta mampu mengembangkan dan melestarikan seni budaya. Mereka secara kreatif mampu menggalang dukungan individu dan swasta. Kebijakan beberapa pemerintah daerah yang inovatif juga berperan dalam mendukung upaya ini.

Erry Suharyadi dari Marketing Manager Jawa Pos mengatakan, kesenian tradisional sesungguhnya tidak pernah mati. Karena pada hakekatnya kesenian tradisional itu tumbuh dan dibesarkan oleh masyarakat itu sendiri. Dia merupakan part of the show dari masyarakat itu sendiri. Untuk tetap survive, mereka harus menata ulang konsep panggungnya, menata durasinya, dan harus siap lucu di setiap menit pertunjukannya, katanya.

Jawa Pos pernah mengasuh Srimulat dan ludruk selama hampir satu tahun. Bagi Jawa Pos dan perusahan-perusahaan lain yang mendukung, kata Erry, mempertunjukkan ludruk secara keliling lebih mudah dan enak daripada memanggungkan kembali Srimulat di Surabaya. Ludruk lebih terbuka, dan lebih mudah diarahkan, karena tidak ada bintang di situ. Berbeda dengan Srimulat, sifat kebintangan mereka, kadang menyulitkan. Kebiasaan tampil tanpa latihan, tidak ada naskah yang baku, tidak ada sutradara yang disegani, membuat Srimulat tampil ngos-ngosan. Tidak jarang kehilangan kelucuannya.

Mengangkat dan menghidupkan seni panggung membutuhkan kerja yang betul-betul riil. Tidak saja dibutuhkan semangat, tetapi juga kecukupan material dan ketegasan sikap dalam mengelola manajemennya, tandas Erry.

Direktur Jenderal Pemasaran Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Sapta Nirwandar mengatakan, APBN untuk kebudayaan dan pariwisata amat terbatas, sehingga tidak bisa mendukung semua aktivitas. Permintaan bantuan untuk kesenian banyak, namun karena keterbatasan anggaran hanya yang paling layak ditampilkan dan dapat bantuan, katanya.

Namun demikian, menurut Sapta, sense of marketing perlu, agar kegiatan kesenian tetap jalan dan menjadi tontonan yang menarik. Di Inggris, walau Phantom of the Opera sudah dipertunjukkan ribuan kali selama 30 tahun, tetap saja ramai penonton, dengan tiket mencapai 60 poundsterling. Kondisi ini tergantung income per kapita dan tingkat peradaban.

Kondisi Indonesia, menurut Sapta, di samping belum punya gedung kesenian yang memadai untuk pertunjukkan yang menampung ribuan penonton, juga seni pertunjukkan kita belum terjadwal dan rutin. Kementerian Pariwisata kewalahan juga menyikapi pertanyaan wisatawan asing, tentang di mana ia bisa menyaksikan pertunjukkan seni.

Sam Udjo dalam kesempatan itu sempat berbagi pengalaman bagaimana strategi pengemasan pemasaran program seni budaya di Saung Angklung Udjo, sehingga bisa bertahan selama 45 tahun. Strategi pengemasan dengan berdasarkan pada kearifan budaya local, tidak direkayasa. Hanya beberapa hal ada pengembangan. Juga karena didukung hubungan baik dengan pemerintah setempat dan daerah, katanya.

Sumber :
Kompas Cetak