Cerber Benny Benke
Kami bertiga tersenyum bersama, sebelum pada akhirnya aku menghubungi Bianca. Di seberang sana, Bianca hanya bertempik sorak setengah tidak percaya, Luka ada di rumah kami bersama seseorang yang diindikasikan sebagai istrinya, Sita. Tanpa keraguan, tanpa pertanyaan tambahan, Bianca pun bersegera bersijingkat pulang ke rumah. Ah, sebenarnya memang sudah jam pulang rumah pastinya.
Ketika bertiga kami sedang asyik berbicara tentang segala hal, dan mulai lancar menemukan topik yang berkenan, ketika itu pula tiba-tiba Bianca telah mengetuk pintu apartemen kami. Selanjutnya, setelah memekik tanda ketidakpercayaan bersua dengan Luka, menjabat erat tangan dan berpelukan dengannya, Bianca kemudian menghampiri dan saling berciuman pipi dengan Sita. Rupanya Bianca, sebagaimana dugaanku suprise tidak terkira.
‘’Gila,’’ tukas Bianca, ‘’baru dua Minggu yang lalu kau datang seorang diri kepada kami, dan tidak menyinggung soal apa-apa tentang pernikahan, tidak juga tentang tali perkasihan, dan sekarang, tiba-tiba?!,’’ imbuh Bianca tanpa melanjutkan ketidakmengertiannya kepada Luka. Sita hanya tersenyum datar, dan menjawab dengan datar pula, ‘’Saya tidak tahu permasalahan kalian bertiga, apakah ada rahasia antara kalian semua?’’.
Kami hanya tertawa mendengar Sita berkata demikian. ‘’Karena saya juga mengundang kawan-kawan terdekat saya, meski tidak semua, dan aku pikir, jagoanku ini telah mencantumkan semua list kawan dekatnya. Seharusnya kalian mengejar pertanyaan kepada suamiku ini, bukan padaku,’’ lanjut Sita. Ah, benar Sita, memang brengsek Luka.
Dalam hitungan detik, akrablah antara Bianca dan Sita. Maka, berkumpullah kami para pengantin baru.
Kami berbicara tentang apa saja, nyaris tanpa henti, semua topik kami hadirkan. Dari pertanyaan soal keheranan kami atas pernikahan Luka dan Sita yang di mata kami, seolah diam-diam seperti siluman, karena kawan dekatnya seperti aku tidak diundang tidak juga diberitahukan, hingga rencana-rencana ke depan.
‘’Apa yang aneh dengan pernikahan kami, sebagaimana pernikahan kalian berdua,’’ ujar Luka, dan Sita seperti biasa, hanya senyum-senyum saja.
‘’Iya sih. Kau ingat, kemarin, sebulan yang lalu, aku mempertanyakan siapakah yang lebih gila diantara kalian berdua? Ternyata sama gilanya, udah ah, yang penting selamet semua. Udah mari kita masak Ta,’’ ajak Bianca kepada Sita, sembari menuntunnya ke arah dapur kami yang tidak seberapa.
Maka, akrablah kami selanjutnya....Para istri memasak, para suami menonton siaran langsung sepak bola, apalagi kalau tidak menekuni kesebelasan racikan sang arsitek jempolan, Sir Alex Ferguson. Sebuah kombinasi pembagian kerja yang sempurna dalam rumah tangga!
Demikianlah perkenalanku dan Bianca dengan Sita, yang terhitung singkat, namun dalam nuansa yang hangat dan sahaja. Hingga akhirnya tanpa terasa kami telah mengabaikan waktu ketika seolah malam semakin tua. Setelah masing-masing diantara kami beristirahat, pagi sekonyong-konyong telah jelma, dan kami pun harus meneruskan nasib kami masing-masing.
‘’Selamat dan baik-baik untuk kalian berdua ya,’’ ujar Bianca setelah berpeluk cium dengan Sita yang memohon pamit.
‘’Pasti, kalian baik-baik juga ya,’’ jawab Sita.
Aku pun melakukan hal yang sama terhadap Luka, berpelukan erat dan saling mengucapkan selamat tanda doa untuk kelancaran perkara hidup kami masing-masing.

