A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: file_get_contents(http://xml.kompas.com/data/banner_on_keyword/on_keyword.php) [function.file-get-contents]: failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found

Filename: controllers/read.php

Line Number: 346

Lionel Messi Sang Messias - KOMPAS.com
Jumat, 28 November 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 28 November 2014 | 16:25 WIB
Lionel Messi Sang Messias
Penulis: | Kamis, 25 Februari 2010 | 16:23 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

istimewa

Oleh : R. N. Bayu Aji*

Bola memang bundar. Artinya, tidak ada jaminan bahwa sebuah kemenangan dapat diraih sebelum bertanding diatas lapangan hijau. Ungkapan itu pantas dilekatkan kepada Lionel Messi sebagai semangat jiwa dalam memainkan si kulit bundar. Dia berlari dan mengejar bola, mengumpan kepada rekan satu tim dari menit awal hingga peluit akhir tanpa lelah untuk sebuah kemenangan. Bahkan dia juga piawai mencetak gol.

Itulah mahalnya sebuah harga kemenangan bagi sebuah tim sepak bola. Setiap pemain mempunyai beban untuk sebuah kemenagan dari para pelatih, pengurus serta petinggi klub sampai ribuan supporter dalam atmosfer suatu pertandingan. Tidak semua pemain sepak bola bisa mengemban dan menjalani beban berat tersebut. Mental dan semangat petarung inilah yang dimiliki oleh “the golden boy” Lionel Messi.

Lembar cerita kesuksesan Messi terajut ketika keberaniannya menuju daratan Eropa, jauh meninggalkan negara asalnya Argentina. Pemuda kelahiran Rosario Provinsi Santa Fe, kota kelahiran Che Guevara “sang reolusioner”, 21 tahun yang lalu ini dengan penuh kepercayaan diri berkarir di Barcelona B. Talenta yang ada dalam jiwa Messi semakin meningkat dengan didampingi sang ayah yang setia memberi semangat moral.

Manajemen Barcelona dengan cermat tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk mendapatkan tanda tangannya. Tanpa menunggu lama dan kehilangan sang “super star”, di restoran klub Tennis manajemen segera membuat kontrak perjanjian diatas selembar serbet. Bukan tanpa alasan dan itulah peluang barcelona agar Messi tidak diambil klub lain.

Carles Rexach, meminta kepada pelayan restoran untuk menjadi saksi kontrak perjanjian. Rexach menulis di secarik kertas “Saya sebagai direktur olahraga klub, menjamin bahwa klub bertanggung jawab pada kehidupan keluarga Messi jika mereka bersedia tinggal di Barcelona dan sang anak bergabung bersama klub.” (hlm. 14).

Secara perlahan tapi pasti sarana dan prsarana untuk Messi diperhatikan termasuk masalah kesehatan. Maklum saja, Messi memiliki kelainan kekurangan hormon pertumbuhan. Dana yang tidak sedikit dikeluarkan oleh Barcelona untuk biaya suntikan hormon pertumbuhan. Tinggi badannya pun bertambah dari 140 cm menjadi 169 cm.

Persembahan treble winner kepada Barcelona yakni meraih gelar la liga, copa del rey, dan liga champions merupakan persembahan terbaiknya bersama Barcelona. Atas persembahan itulah, Messi akhirnya meraih penghargaan sebagai pemian terbaik dunia 2009.

Titisan Maradona

Sejalan dengan pembinaan yang baik dan berkala, Messi menunjukkan dengan prestasi yang menjanjikan. Pada Piala Dunia U-20 tahun 2005 dia membawa Argentina menjadi juara. Gelar pemain terbaik serta pencetak gol terbanyak juga diraihnya dengan kerja keras diatas lapangan hijau. Hal itu sama dengan prestasi legenda hidup sepak bola Argentina Diego Maradona tahun 1979 di jepang.

Tanpa ragu-ragu atas prestasi itu, Barcelona menaikkan perjanjian kontrak Messi menjadi 100 juta Pounsterling (2,4 triliun) hingga tahun 2014. Kontrak yang fantastis bagi pemain yang baru berusia 18 tahun.  Nilai itu melebihi rata-rata gaji penghuni lama skuad Barcelona seperti Deco, Puyol, Valdes dan juga Xavi.

Publik katalan lantas menyamakan Messi dengan Maradona. Hal itu tidak terlapas bahwa debut pertama timnas Argentina senior yang dilakukan Messi dan Maradona adalah sama-sama melawan Hungaria. Kemudian dia mencetak gol ke gawang Getafe di Copa del Rey 2007 dengan mendribel bola dari tengah. Gol itu mirip dengan gol Maradona ke gawag Inggris di Piala Dunia 1986.
Tidak berhenti sampai disitu, dia juga mencetak gol “Tangan Tuhan” ke gawang Espanyol. Layaknya gol Maradona yang kontroversi ke gawang Peter Shilton (Inggris) tahun 1986, Messi pun semakin lekat dengan julukan Messidona (titisan Maradona).

Tak lama berselang, sang legenda hidup sepak bola Argentina pun ikut berkomentar. “Sejak awal, saya telah yakin dengannya. Sebab hanya Lionel Messi seoranglah yang pantas menjadi reinkarnasi saya. Ia berbeda, tak sama dengan Aimar, Riquelme, D’Alessandro. Messi punya gigi ekstra, seperti mobil dengan enam kecepatan.”

Messias

Bagaikan malam yang merindukan bulan, kehadiran Messi bagaikan juru selamat Barcelona dan negaranya Argentina. Dalam laga gengsi El Classico liga primera 2007 melawan Real Madrid, dia mencetak hattrick pertamanya ke gawang Iker Cassilas untuk menyamakan kedudukan menjadi 3-3  di injury time.

Ketika para pilar Barcelona seperti Eto’o yang masih cedera, Ronaldinho yang performanya menurun, Henry yang sedang mandul, Messi merupakan solusi tepat bagi tim. Tak salah julukan “sang juru selamat (the messiah) semakin terpatri dalam dirinya. Dia juga turut membawa El-Barca juara Pila Champions dan Liga Primera 2005-2006.

Di negara asalnya Argentina, Messi juga merupakan harapan bangsa setelah era Kempes, Maradona, Batistuta, serta Crespo. Masyarakat pecinta sepak bola Argentina dan juga para penggemarnya di seluruh dunia berharap gocekan dan gol-golnya membawa kejayaan Argentina di Kejuaraan Piala Dunia 2010 di Afrika nanti.

Meskipun ditulis oleh seorang Mahasiswa Pendidikan Sejarah, buku ini patut untuk di apresiasi bersama dalam penulisan biografi polpuler. Semangat untuk memberikan pengabdian dan kerja keras yang diceriterakan dari sosok Messi dapat dijadikan pelajaran bagi semua orang.

Buku ini juga merupakan bacaan yang menunjang bagi para olahragawan, mahasiswa Keolahragaan, maupun pecinta sepak bola di tanah air. Bagi para praktisi olahraga, pembinaan sejak dini yang ditempuh oleh Messi patut untuk dijadikan pelajaran bagi dunia persepakbolaan di negeri kita ini. Sehingga, banyak bibit-bibit muda berbakat masa depan, bukan kekerasan dan kerusuhan yang dialami sepak bola indonesia saat ini.

Dengan bahasa yang mengalir dan ringan dicerna, buku ini menandakan bahwa penulisnya cukup cermat untuk merekonstruksi sejarah kehidupan Lionel Messi.


* R. N. Bayu Aji
Penulis buku “Tionghoa Surabaya dalam Sepak Bola”
Alumnus Departemen Ilmu Sejarah Unair
Peneliti HISTra (History Institute for Society Transformation)
Alamat  : jl. Manyar Sabrangan 135, Surabaya


Judul Buku : Messidona, Biografi Lionel Messi
Penulis  : Sigit Budi Prasetyo
Penerbit : Bio PustakaYogyakatra
Cetakan : Pertama, 2008
Tebal  : vi + 124 Halaman

Editor :
jodhi