Jumat, 10 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS.com
Jumat, 10 Februari 2012 | 06:05 WIB
Baru 15 Naskah Kuno Pakualaman Diremajakan
Mawar Kusuma Wulan | wah | Rabu, 10 Februari 2010 | 19:33 WIB
|
Share:

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO
Kirab budaya mewarnai peringatan hari ulang tahun atau Pengetan Tingalan Dalem ke-72 Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Paku Alam IX, Sabtu (15/3). Melalui kegiatan yang bertema "Memperteguh Komitmen untuk Kesejahteraan Budaya Rakyat" ini, Pura Pakualaman bertekad untuk terus menjadi lembaga budaya yang menghubungkan antargenerasi, juga pemimpin dengan rakyatnya.

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Pura Pakualaman sebagai salah satu kerajaan di Pulau Jawa memiliki 251 naskah kuno yang terbuka untuk dimanfaatkan bagi kepentingan pendidikan. Dari jumlah itu baru sekitar 15 naskah kuno yang telah diremajakan untuk pelestarian. Peminat naskah kuno juga masih terbatas karena minimnya pengetahuan masyarakat tentang Pura Pakualaman.

"Kami masih terhambat keterbatasan sumber daya penerjemah. Naskah kuno biasanya berupa tembang dengan huruf dan bahasa Jawa," ujar Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada yang juga abdi dalem Pura Pakualaman Pengelola Perpustakaan Pakualaman Sri Ratna Saktimulya, Rabu (10/2/2010).

Untuk pelestarian naskah, Raja Pura Pakualaman, Paku Alam IX memerintahkan peremajaan naskah dengan mutrani atau memindahkan naskah berhuruf Jawa ke kertas lain tanpa sama sekali diubah. Pelestarian juga dilakukan dengan alih aksara dari huruf Jawa ke latin, penerjemahan, maupun penyaduran.

Naskah kuno koleksi Pura Pakualaman memiliki keunggulan karena bersifat scriptorium. Tiap teks dari banyak naskah di perpustakaan tersebut saling berkaitan satu sama lain sehingga harus dipelajari secara menyeluruh. Teks berhuruf Jawa yang indah juga semakin menarik karena dipadukan dengan gambar bercerita.

Pura Pakualaman juga sengaja menyimpan beberapa naskah kun o lainnya di ruang pusaka karena dianggap keramat. Beberapa naskah kuno keramat ini hanya bisa diakses oleh kerabat Pura Pakualaman seperti Naskah Khyai Sarahdarma dan Kyai Jati Pusaka. Kyai Jati Pusaka berupa tembang kawi berkisah tentang kejadian di m asa Mangkurat serta perpecahan di dalam Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.