A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: file_get_contents(http://xml.kompas.com/data/banner_on_keyword/on_keyword.php) [function.file-get-contents]: failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found

Filename: controllers/read.php

Line Number: 346

Sebuah Kemeriahan di Rumah Betang - KOMPAS.com
Jumat, 24 Oktober 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 24 Oktober 2014 | 14:01 WIB
Sebuah Kemeriahan di Rumah Betang
Penulis: Jodhi Yudono | Rabu, 10 Februari 2010 | 07:30 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

SEVERIANUS ENDI
Di rumah Betang, berbagai jenis budaya biasa ditampilkan, seperti kompetisi sumpit ini.

Suasana di "ruang tamu" Rumah Betang Sungai Sedik, yang semula sepi, perlahan-lahan menjadi ramai, Selasa (2/2/2010).

Jam di tangan sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB. Satu per satu penghuni rumah betang yang terletak di Desa Sungai Abau, Kecamatan Batang Lupar, Kabupaten Kapuas Hulu, itu bermunculan.

Biasanya mereka sudah terlelap sejak dua jam sebelumnya. Kecuali ada kegiatan khusus seperti gawai atau menyambut kerabat dan tamu yang datang jauh.

Kedatangan peserta "Jurnalis Trip" yang didukung Forest Law Enforcement Governance dan Trade European Union masuk kategori yang kedua.

Rumah betang merupakan tempat tinggal sekumpulan keluarga di kalangan masyarakat Dayak. Terdapat 14 kamar atau pintu di dalam Rumah Betang Sungai Sedik, masing-masing berjarak 6 meter. Seperti rumah betang lainnya, Rumah Betang Sungai Sedik berdiri di atas fondasi setinggi 4 meter.

Kolong rumah betang biasanya digunakan untuk memelihara ternak. Jarak yang tinggi sekaligus untuk keamanan kalau terjadi ancaman dari pihak lain.

Setelah menaiki anak tangga menuju rumah betang, kita akan bertemu teras panjang. Ukurannya seperti panjang rumah betang itu sendiri.

Kemudian ketika masuk ke rumah betang, ada "lorong" yang panjangnya seperti teras itu. Lorong ini lebarnya sekitar 5 meter. Lorong inilah yang digunakan untuk menerima tamu atau mengadakan kegiatan lain.

Selain tikar, alat tradisional masyarakat Dayak, terpajang juga poster pemain sepak bola internasional dan grup musik Slank di dinding.

Agustinus, Sekretaris Desa Sungai Abau, Kecamatan Batang Lupar, termasuk salah satu penghuni Rumah Betang Sungai Sedik.

Ia sudah tiga kali berpindah rumah betang sejak lahir tahun 1974. Menurut Agustinus, rumah betang tersebut mulai dibangun tahun 1987.

"Kalau tinggal di sini tahun 1988," kata Agustinus, yang punya tiga anak. Ia merupakan keturunan Dayak Iban.

Sebatang pohon tekam dengan diameter setinggi orang dewasa dan panjang sekira 45 meter ditebang untuk dijadikan kayu penyangga langit-langit rumah.

Mula-mula hanya tujuh kepala keluarga yang menempati rumah betang tersebut. Sekarang jumlahnya sudah bertambah empat kali lipat menjadi 28 KK atau 92 jiwa.

Meski tinggal di rumah betang, bukan berarti mereka mengabaikan pendidikan. Hal itu dapat dilihat dari pangaugayu yang digantung di langit-langit lorong di depan pintu masing-masing penghuninya.

Pangaugayu merupakan bukti bahwa penghuni di pintu tersebut sudah berhasil, baik di bidang pekerjaan maupun pendidikan.

Pangaugayu dibuat dari papan kayu yang dibuat berbentuk kotak tanpa alas. Membuat pangaugayu tidaklah mudah. Selain harus memenuhi syarat seperti bentuk keberhasilan, juga dibutuhkan biaya tidak sedikit karena ada ritual adat yang harus dilakukan.

Agustinus mengatakan, dalam ritual itu harus ada pesta dengan memotong hewan seperti babi seberat 50 kilogram, ayam, dan mengundang banyak orang. Satu pangaugayu untuk satu orang. Namun, ritual dan pembuatan pangaugayu itu hanya untuk kaum pria. "Khusus untuk pria, nanti mereka akan naik di pangaugayu tersebut," kata Agustinus.

Ia menyebut nama Obaja yang kini pejabat di Pemerintah Kabupaten Bengkayang sebagai salah satu yang berhasil dari Rumah Betang Sungai Sedik.

Keberhasilan Obaja secara tidak langsung ikut memacu generasi muda lainnya dari Rumah Betang Sungai Sedik untuk bersekolah setinggi mungkin.

Setia menenun

Jam sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB ketika seorang wanita sepuh secara perlahan mendekati alat tenun tradisional yang ada di dekat Agustinus.

Tawon (70) tanpa banyak bicara langsung memainkan tangannya memilah benang untuk ditenun.

Tubuhnya kecil dan bungkuk. Bungkuk mungkin karena sejak muda terbiasa mengangkut barang menggunakan tangkin.

Tangkin merupakan keranjang khas masyarakat Dayak berbentuk tabung. Diameternya sekitar 40 sentimeter, panjang setengah meter atau lebih, terbuat dari daun atau pohon tertentu. Tali untuk membawa tangkin salah satunya dipasang ke jidat.

"Sekali angkut, tangkin bisa membawa 15 sampai 20 kilogram barang," kata Dubah (40), wanita satu anak yang sudah pisah dengan suaminya.

Tenun ikat yang dibuat Tawon bernama sidan. Terkadang sidan digunakan untuk selimut, kain, atau bahan baju. Tenun ikat dikerjakan para wanita di rumah betang setelah ada waktu luang sehabis bekerja di ladang.

"Kadang tidak tentu selesainya. Kalau sudah jadi, titip dengan keluarga atau penampung lain," kata Dubah.

Setiap hari, pukul empat pagi biasanya mereka sudah bangun. Kemudian memberikan makan untuk ternak seperti babi dan ayam, baru pergi ke ladang mereka yang terletak di kaki bukit. Tidak mudah mencapainya. Harus berjalan kaki menyusuri kaki bukit selama berjam-jam. Terkadang Dubah dan wanita lainnya baru tiba di rumah betang pada pukul 16.00.

Anak yang masih bayi pun dibawa dan digendong di tangkin.

Selain berladang, mereka biasanya juga menoreh getah. "Yang laki-laki kadang ikut juga kalau tidak merantau," kata Dubah.

Tidaklah mengherankan kalau pukul tujuh malam mereka sudah terlelap di peraduan.

Malam hari menjadi pilihan wanita Dayak Iban untuk menenun. Mereka sudah belajar menenun sejak masih berusia belasan tahun. Dubah sendiri tidak ingat persis kapan ia mulai belajar menenun atau menganyam tikar. Akan tetapi, anak semata wayangnya yang kini kelas III SMP Negeri Lanjak sudah belajar menenun dan menganyam sejak usia 11 tahun.

Sungkit merupakan kain tenun yang pengerjaannya gabungan antara tenun dan sulam serta menggunakan benang emas. Yuliana Kinun (22), ibu satu anak, mengakui pengerjaan sungkit jauh lebih sulit dibandingkan dengan sidan.

Sehelai kain sungkit butuh waktu sampai lima bulan. Yuliana Kinun pun tidak mau memaksakan diri untuk menyelesaikan sungkit buatannya. "Beberapa kali ditinggal, pergi ke Putussibau," kata Yuliana Kinun.

Tak lama lagi musim panen padi tiba. Dubah pun bersiap-siap membuat tangkin, atau capen dalam bahasa Dayak Iban.

Bahan baku dari bemban, daun yang berukuran lebar dan dapat ditanam sendiri di sekitar rumah betang, atau daun kulan yang tumbuh di danau, tetapi mengambilnya lebih sulit.

"Kadang sampai menginap dan membawanya ke rumah betang pakai ditumpangkan ke truk," kata Dubah.

Jarak dari Rumah Betang Sungai Sedik ke Lanjak, ibu kota Kecamatan Batang Lupar, sekitar 10 kilometer. Lanjak berada di tepian kawasan Taman Nasional Danau Sentarum.

Sebuah pesta

Entah siapa yang memulai, terbentuk lingkaran kecil yang terdiri dari penghuni Rumah Betang Sungai Sedik dengan sebagian peserta "Jurnalis Trip". Semuanya 16 orang, baik laki-laki maupun wanita.

Malam pun semakin larut. Hari Rabu telah tiba beberapa saat.

Beberapa ekor ikan toman yang dibeli di Lanjak sudah dihidangkan. Ikan toman (Channa micropeltes) atau giant snakehead banyak dipelihara masyarakat di kawasan Taman Nasional Danau Sentarum. Biarpun direbus dengan bumbu asam jawa, tetap terasa nikmat di lidah.

Berat satu ikan toman dapat mencapai lebih dari 1 kilogram. Namun, butuh waktu panjang untuk mencapai ukuran tersebut, setidak-tidaknya dua tahun.

Satu ceret air raru` seguer lalu-lalang di dalam lingkaran manusia itu. Raru` seguer merupakan minuman khas masyarakat Iban yang dicampur dengan tanaman tertentu. Mereka meyakini minuman tersebut sebagai obat. "Bisa untuk mengobati stroke," kata Dubah sambil meneguk segelas seguer.

Bagi yang tidak biasa, jangan coba-coba meminumnya dalam jumlah banyak. Bisa-bisa terkapar karena tidak mampu mengontrol diri. Kepala pusing dan hilang keseimbangan risikonya.

Seorang ibu bergegas ke dalam. Tak lama ia kembali dengan mengenakan baju dari tenun ikat berwarna merah.

Kemudian, sembari sedikit malu, ia mulai menari di tengah lingkaran. Ada yang memukul gong kecil, ada yang menabuh semacam gendang.

Suasana semakin meriah dan menghibur semua penghuni. Beberapa pintu yang sebelumnya tertutup telah terbuka lebar. Tua muda, besar kecil, terlihat di sepanjang lorong tempat berlangsungnya pesta kecil tersebut.

Puas menari, dilanjutkan dengan berbalas pantun antara tuan rumah dan tamu.

Menggunakan campuran bahasa Indonesia dan Dayak Iban, prosesi berbalas pantun tetap berlangsung seru. Sesekali diselingi tertawaan atau seruan tertahan tiap-tiap kubu.

Temanya beragam, tentang alam, etika, sampai canda remaja.

Namun, waktu jualah yang harus mengakhiri semua. Pantun "sayonara", atau sampai jumpa lagi, akhirnya meluncur dari kedua kubu.

Jam di tangan sudah menunjukkan pukul tiga pagi, Rabu (3/2/2010). Perlahan-lahan lorong tersebut kembali sepi.

Sumber :
ANT
Editor :
jodhi