Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 13:10 WIB
Gita Cinta dari SMA (21)
| jodhi | Rabu, 10 Februari 2010 | 07:13 WIB
|
Share:

istimewa

Novel Eddy D Iskandar

PAGI itu seperti biasa Erlin dan Mimi menjemput Ratna. Ketika sampai di halaman rumah, Mbak Ning menyambutnya.
"Nana ada, Mbak?"
"Ada... tapi nggak bisa sekolah," jawab Mbak Ning perlahan.
Wajah Erlin dan Mimi melongo, keheranan.
"Kenapa, Mbak?!" tanya Erlin.
"Gawat, Dik."
"Gawat? Gawat kenapa? Apakah Nana sakit payah?"
"Tidak... tapi... Mari di pavilyun ceritanya," kata Mbak Ning sambil melangkah menuju ke pavilyun.

Erlin dan Mimi mengikutinya dari belakang. Kemudian mereka duduk di kursi.
"Kemarin Nana dimarahi ayahnya, Dik." "Kenapa?" tanya Mimi.
"Karena ketahuan berhubungan dengan Dik Galih."
"Memangnya Galih kenapa, Mbak?"
"Entahlah. Yang sempat Mbak dengar, ayah Nana tak memperbolehkan anaknya berhubungan dengan suku Sunda."
"Lantas kenapa Nana dilarang sekolah?"
"Karena sudah dua kali diperingatkan, Dik Nana tak mau menurut. Malahan kemarin, sehabis berenang dengan kalian, Dik Nana ditampar oleh ayahnya."
"Oh!" pekik Erlin tertahan.
"Kasihan, Nana...." keluh Mimi.
"Mbak tidak bisa menolong, kecuali menghibur hatinya, agar dia tidak putus asa."
"Saya tak mengira kalau Nana akan mengalami nasib demikian, apalagi karena Nana tak pernah menceritakan kesulitannya kepada saya," kata Erlin.
"Mbak juga tak mengira. Kejadian ini benar-benar di luar dugaan."
"Di mana Nana sekarang, Mbak?" tanya Mimi.
"Ada di kamar."
"Boleh saya menemuinya?" "Kalian tidak akan kesiangan?"
"Tidak, Mbak. Jam pelajaran pertama dan kedua bebas."
"Kalau begitu, baiklah. Mari ke dalam, Dik!"
"Ada ayah Nana?" tanya Erlin.
"Tidak ada. Sudah berangkat ke kantor." Kemudian mereka masuk ke dalam. Di ruang tengah berpapasan dengan ibu Ratna. "Selamat pagi, Bu."
"Selamat pagi... Mau menjemput Nana?"

"Ya, Bu."
"Ayo, temui saja di kamar. `Kan ada Mbak Ning. Nana lagi sakit."
Ketiganya perlahan masuk ke kamar.

Tatkala Erlin dan Mimi melihat Ratna sedang telungkup dengan rambut yang kusut, keharuan datang menyelimuti hati kedua sahabat itu. Dengan hati-hati mereka duduk di tepi ranjang.
"Nana...." panggil Mimi.
Ratna seakan tak mendengar. Dia tak bergerak.
"Nana..." Mimi memanggilnya agak keras. Perlahan Ratna menggeliat. Menatap Erlin dan Mimi sambil telentang.
"Erlin... Mimi..." sendatnya. Bening mengembang di kelopak matanya.
"Nana..."
"Kalian mau menjemputku?"
"Ya."
"Maafkan... hari ini aku talc bisa sekolah... aku... aku..."
"Sudahlah, Nana. Persoalanmu, kami telah tahu dari Mbak Ning."
"Aku tak tahu mesti bagaimana... Pikiranku benar-benar gelap."
"Kau harus tabah."
"Tapi aku tak bisa begini terus-menerus. Aku kesal. Lebih baik aku mati!"
"Nana, kau jangan pesimis. Jangan sempit pikiran. Masih banyak jalan untuk mewujudkan cintamu."
"Jalan bagaimana? Ayahku telah mengeluarkan ancaman; andaikan Galih tidak menulis surat putus padaku, aku tidak akan diperkenankan masuk sekolah lagi."
"Aku akan berusaha menolongmu," kata Erlin.
"Menolong bagaimana? Kupikir akan siasia saja. Ayahku tidak akan merubah pendiriannya."
"Sssttt... aku punya akal," bisik Mimi yang dari tadi diam saja.
"Akal bagaimana, Mi?" tanya Ratna, menatap penuh harap.
"Akan kuceritakan kejadian ini kepada Galih, lalu..."
"Jangan! Jangan kauceritakan kepada Galih. Kasihan dia, Mi! Aku takut sekolahnya terganggu. Kasihan keluarganya."
"Cepat atau lambat akan ketahuan juga." Ratna menggigit bibir.
"Kau harus yakin, Galih pasti bisa kunasihati."
"Rencanamu bagaimana?"
"Setelah hal ini kuceritakan kepada Galih, • aku akan meminta agar Galih menulis surat putus buatmu."
"Putus? Aku tak mau, Mi! Aku tak mau!" sendat Ratna ketakutan.
Mimi tersenyum.
"Ini bukan putus sungguhan. Maksudku, surat putus itu hanya buat mengelabui ayahmu, agar kau bisa sekolah lagi. Dan hubunganmu tetap terpelihara."
"Mimi... bisakah rencanamu itu dilaksanakan?"
"Demi kau! Pokoknya kita tetap kompak. Asal kau jangan putus asa!"
Wajah Ratna berseri-seri.
"Terima kasih, Mi. Kau dan Erlin memang sangat baik," ujar Ratna terharu.