Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 12:50 WIB
Mata yang Malas (73)
| jodhi | Rabu, 10 Februari 2010 | 07:09 WIB
|
Share:

shutterstock
ilustrasi

Cerber FX Rudy Gunawan

 

Banyak makhluk laut mampu melihat ke segala arah sekaligus. Kebanyakan ikan mempunyai mata pada ke dua sisi kepala sehingga dapat melihat 360 derajat penuh.

 

Ketam canggah mempunyai mata yang bertangkai sehingga dapat digerakkan kemana-mana untuk memperluas horizon pandangannya. Sujati, memperhatikan gambar ketam canggah dengan mata bertangkainya itu dari sebuah buku tentang makhluk-makhluk laut. Doctor filsafat itu termenung di meja kerjanya.  Mata makhluk-makhluk laut itu mempesona pikirannya. Keong ratu yang besar dan mengembara di laut mempunyai mata yang terletak di ujung dua bilah sungut panjang. Siput dara juga mempunyai dua bilah sungut mirip tanduk yang agak peka cahaya dan melengkapi daya mata pada pangkal sungut-sungutnya.

 

Apakah makna mata manusia? Apakah substansi dari mata manusia? Pada hampir semua makhluk hidup, Sujati menemukan betapa mata adalah organ tubuh yang paling unik dan vital. Mata majemuk pada serangga terdiri dari ratusan tabung relatif panjang yang terjambak menjadi satu bagaikan rambut yang diikat model ekor kuda, atau bagaikan seikat sedotan minuman soft drink.  Ikatan tabung itu agak memekar di luar, membuat mata faset agak membulat sehingga jangkauan penglihatan menjadi sangat luas. Pada binatang, hampir semua jenis mata berhubungan dengan cara binatang itu mencari mangsa atau makan. Mata adalah organ utama untuk bertahan hidup karenanya mata binatang mempunyai warna, bentuk, dan ukuran yang sangat beragam yang mencerminkan penyesuaian mata binatang secara evolusi terhadap kebiasaan dan lingkungannya. Ular pucuk-hijau memiliki mata dengan bentuk pupil seperti lubang kunci sehingga ular itu dapat menyapukan pandangannya ke depan lewat bagian horizontal lubang itu sementara untuk memandang lebih langsung ke arah samping, bagian yang bundarlah yang digunakan ular itu. 

 

Tapi pada manusia, mata nyaris sama bentuknya, kecuali warna irisnya. Namun meski nyaris sama, setiap pasang mata manusia selalu berbeda dalam sorotnya. Sujati menganggap perbedaan itu sangat elementer dan eksistensial. Menurut pikirannya, untuk masuk pada eksistensi seseorang, matalah pintu pertama dan utama yang harus ditembus. Makna mata manusia adalah makna keberadaan manusia itu sendiri. Substansi mata manusia adalah eksistensi manusia itu sendiri. Pikiran ini membuat Sujati menolak ikut rombongan Jeng Sri menengok Tania. Ia memilih tinggal di kantor TKWMM sendiri untuk menerobos lebih jauh lagi pikirannya tentang substansi mata.

 

Pada manusia, mata tak ubahnya sebuah kamera yang memotret realitas di hadapannya. Mata langsung berhubungan dengan otak[1] dan tak dapat dilepaskan dari hubungan ini.  Jika otak terluka atau cidera berat, penglihatan pun akan terganggu. Luka parah pada otak bahkan bisa mengakibatkan kebutaan total dan permanen. Jadi mata sebenarnya adalah kepanjangan tangan otak manusia. Jadi mata adalah bagian langsung dari otak manusia. Sujati menggaruk-garuk kepalanya yang benar-benar menjadi gatal. Pengetahuannya tentang mata masih sangat terbatas untuk memikirkan organ penting itu secara filosofis. Dalam situasi segawat saat ini, Sujati merasa tak bisa berpikir dengan baik. Ada suatu proses yang sulit dimengerti tapi orang tak pernah memperhatikannya karena setiap mata mampu melakukannya, kecuali mata orang buta. Proses itu sangat rumit. Proses yang terjadi antara mata dan otak bagi Sujati merupakan sesuatu yang sangat misterius. Ketika mata menerima, mengumpulkan dan memumpun cahaya, semuanya masih cukup jelas, tapi ketika cahaya menimpa retina, terjadilah keajaiban. Sel-sel peka di retina mengubah energi cahaya menjadi isyarat-isyarat yang kemudian disampaikan ke otak. Ini adalah keajaiban. Cahaya diubah menjadi isyarat[2]. Isyarat yang menerjemahkan sebuah realitas, yang memotret sebuah kenyataan hidup. Pernahkah orang membayangkannya?

 

Sujati tak bisa membayangkannya. Sebagai seorang doctor filsafat, pikirannya yang terliar sekalipun tak bisa membayangkan bagaimana cahaya diubah menjadi isyarat-isyarat hanya dalam hitungan detik oleh retina dan langsung dikirim ke otak, juga dalam hitungan detik.

“Tok-tok-tok.”

Suara ketukan di pintu ruang kerjanya, membuyarkan pengembaraan pikiran Sujati.

“Ya, silahkan masuk.”

“Permisi Pak, maaf saya mengganggu.”

“O Pak Amit, nggak apa-apa, silahkan masuk.”

“Terimakasih Pak Jati.”

Ada apa Pak Amit?”

“Saya…, saya ingin menyampaikan sesuatu….”

“Ya, silahkan. Pak Amit bebas untuk bicara apa saja dengan saya, tidak perlu ragu-ragu.”  

“Saya….”

“Pak Amit tenang dulu dan yakinkan diri bahwa memang ingin bicara dengan saya.”

“Ini sesuatu yang sulit Pak Jati, tapi saya…, saya yakin ingin menyampaikannya pada Bapak.”

“Kalau sudah yakin, silahkan Pak Amit bicara.”

“Saya tadi diminta mengantar kopi ke ruang Pak Ketua, lalu sebelum saya mengetuk pintu, secara tidak sengaja saya mendengar…, saya mendengar….”

“Mendengar pembicaraan Pak Ketua?”

“Ya, saya mendengar sepotong saja, tapi yang saya dengar justru sesuatu yang membuat saya takut Pak Jati….”

“Apa yang Pak Amit dengar?”

“Saya mendengar ada yang bicara tentang korban…, tentang mengorbankan seseorang Pak Jati…, saya tidak tahu siapa yang bicara, tapi di sana ada Pak Ketua, Pak Asep, dan Pak Mansyur….”

“Mengorbankan seseorang?”

“Ya, itu yang saya dengar dan membuat saya takut.”

“Baiklah, Pak Amit tenang saja. Tidak usah takut, saya akan menyelidiki hal ini dengan diam-diam. Sekarang Pak Amit tenang dan bekerja saja seperti biasa.”

“Baik Pak Jati. Terimakasih atas perhatian dan kebaikan Bapak.

“Sama-sama, saya juga berterimakasih atas kepercayaan Pak Amit pada saya.”

“Saya tahu Pak Jati orang baik, hati saya sudah merasakannya sejak saya melihat Bapak.”

 

Sujati menggaruk-garuk kepalanya yang semakin gatal. Bagian tengah kepalanya yang mulai botak digaruk-garuknya sampai berbunyi: kruk-kruk-kruk. Ia shock mendengar informasi yang disampaikan Pak Amit. Sujati percaya pendengaran Pak Amit masih cukup baik, kemungkinan salah dengar sangat kecil. Kemungkinan bohong atau mengada-ada lebih kecil lagi karena ia tahu persis orang semacam Pak Amit sangat menjaga den menjunjung tinggi kejujuran sebagai prinsip hidup utama mereka. Ia banyak mengenal Pak Amit-Pak Amit lain di berbagai desa yang pernah dikunjungi dan ditinggalinya. Almarhum ayahnya sendiri adalah salah satu Pak Amit juga. Orang desa sederhana yang sangat sampai akhir hidupnya. Mungkin selama 72 tahun hidup, ayahnya bisa jadi tak pernah berbohong. Kalaupun ada sesuatu yang tidak dikatakannya maka itu hanyalah sesuatu yang tidak perlu atau tidak baik untuk dikatakan. 



[1] Kurang lebih pada tahun 1500, Leonardo da Vinci sudah membuat sketsa tampang lintang kepala manusia yang menggambarkan langsung hubungan langsung antara mata dan otak. Meskipun belum lengkap dan sempurna, namun sketsa da Vinci pada dasarnya benar.

[2] Di dalam mata terjadi suatu proses kimia ketika cahaya memasukinya, penemuan ini untuk pertama kalinya ditemukan oleh Franz Boll, seorang ahli biologi Jerman pada tahun 1877 yang melakukan ekspreimen dengan mata seekor kodok.