Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 17:54 WIB
Puisi-puisi Terjemahan Wahyu Barata
| jodhi | Selasa, 9 Februari 2010 | 12:45 WIB
|
Share:

DINI KUSMANA MASSABUAU
Penggiring banteng berkuda.

KUDA -  HELA CAHAYA

                       Kita boleh berdusta meninggalkan hitamnya isi perut bumi,
                       tetapi hari-hari tetap benderang, menuai setiap
setiap tahun,
                       angkasa kadang-kadang biru.
                       Maka ingatlah.Perhatikan.

                       Perjuangan kita untuk memunculkan
                       setelah beribu-ribu tahun, maafkan aku,
                       untuk memecah dengan mimpi buruk. Pasangan
                       sepadan bagi kuda cahaya?

                       Lupakan itu. Saat aku tak suci
                       kerjaku akan lebih bodoh dari
                       menyalakan mesin penebahan gandum.
                       Tetapi itu bukan apa-apa; harga diri.

                        Kuhela kuat-kuat dari beban yang telah kutarik
                        seperti kuda Clydesdale* melewati seratus
                        generasi terakhir. Tetapi bagaimana dengan usia?
                        batas malam. Aku merasa terang

                         mendengar penggalian, bajak – membagi
                         mengoyak permukaan bumi
- berlanjut; membutakanku. Mendengar ringkikan di bawah
                   getaran cahaya bawah tanah. Biarkan kita ke luar
                   mengangkat tarikan baru kebodohan siang ini.
                   Biarkan kita berpacu dan  semakin lelah.
                   Ini kuda suci menghela cahaya.
                   Mari lihat mereka kehilangan apa. Mereka menjadi apa,


                        (Kathleen Jamie)

*Clydesdale : Kuda berkaki besar, di sekitar kakinya tumbuh bulu yang
sangat lebat. Hidup di Eropa, terutama di Inggris.Biasa dimanfaatkan
tenaganya untuk membajak ladang, menarik beban, tunggangan pasukan
kavaleri.

GELONDONG BERGULUNG, TAK BERGULUNG, BERGULUNG

selepas ketinggian lewati tempat salju menebal, udara lembut
    menggali-gali lorong jalan, menumpulkan dengan menghangatkan tepian
    es – potongan-potongan balok yang telah padat membeku di sepanjang
musim                             dingin

lalu musim semi membuka jalan-jalan ke malam, melubangi ketebalan
    kegelapan yang tak dapat ditembus karena bertambah kelabu seperti dia dulu
    mengabut
    gumpalan yang menyebar meneruskan jalan mereka untuk
    merambah bumi, lorong-lorong (meski di dalam batas hutan
    kau tak terlihat dari padang luas) membuat bentangan lahan layak hidup;

dan lalu yang sama, ketika tahun berganti lagi,
    melandai ke diagonal, balok-balok akan menjadi lebih dangkal,
    menarik ke dalam, pelebar dan penumpul, memutuskan menentang
    bentang hutan, hari-hari – ombak-ombak kecil berbalik pasang surut
menjadi lebih dangkal dan lebih dangkal, jangkauan mereka kepada pasir
lebih lemah
dan lebih lemah sampai

malam panjang, panjang wilayah tertutup yang tak terjamah malam adalah
     di sini lagi.


                                        (Jenny Joseph)

BENTANGAN MEGA

Mega datang dan pergi, membentang, menyandar
                           membuka
                                      angkasa
                  bagi bentangan biru, hampir menyentuh laut,
                          Mediteranian di udara, dan kemudian
  Di sanalah kelaparan, kerakusan asap, di sanalah tersembunyi
        cerobong-cerobong asap
       Melubangi kemarahan mereka, semua itu tak bisa diulang, yakin
                          takkan pernah
                        Langit yang sama siang atau malam, utara atau
selatan, indah atau mengerikan. Aku
                          butuh sikat atau terompet Mozart, ketenangan
atau sesuatu yang mendekati kesucian
                  Dorongan gerak hati, dan ada Tuhan di atas sana
     Tidak seperti yang kupikirkan di masa kecil duduk di atas awan
                  Tetapi lebih agung dengan menjaga keseimbangan udara,
         Dengan sederhana membiarkannya walau dalam kendali
      ranjing udara ini, napas ini yang mencurahkan bintang-bintang
               Dan menetapkan mereka sebagai jalan lintas kitaran kita. Awan
                   Mendapat kedamaian, pengitar mensucikan hampir semua
                   Pikiran dan isyarat, mengikat ke tiang kapal yang
dipandangnya
                 Bentangan panorama, yang pernah meluas ini,
tingkah-tingkah cahaya
          yang tak dapat diulang dan keseimbangan atau perubahan udara mendadak
      Pada yang kukagumi dan mendiamkan diriku dengan tatapan.


                                            (Elizabeth Jenning)

TROMPE L ‘ OE IL
(ILUSI KEDALAMAN FISIK)
(Kunjungan ke perempuan tua yang terpaku di rumah)

Perempuan tua
Terpaku
Merengkuh dari rentang kaki, dan sketsa garis bentuk
Raga tua kecil di buku-buku gambar;
Pembuluh darah tangan dengan kuat di atas lutut mengangkatmu
Dari mental membuang-buang waktu panas terbakar api
Diatur untuk menarik sesuatu, tertawa, mengasarkan suara tajam tiba-tiba,
Cukup alot layaknya sepatu tua yang melar
Untuk bongkol kaki yang tak satupun cocok dengan sepatu
Yang ditawarkan di toko-toko;-
Berhenti sibuk dan berlatih sebentar,
Palingkan kepalamu.
Aku telah menghancurkan pelindung yang kaugunakan setiap hari,
Kau dapat memperlihatkan sekarang anak kecil dari liku celah-celah
Udara di mana kau telah menyembunyikan darinya tentang pribadimu.
Dia melejit lewat kertas-kertas yang digambarinya beberapa kali
Dari jalan yang kausadari dan lihat dan daki,
Seperti bayangan menguat pada tenaga surya.
Adalah masih buah muda ini, tunas ini, bentuk kecil yang samar-samar ini
Dari pohon yang telah tumbuh,
Bukan anak di kandunganmu, atau anaknya itu anak, terpisah
Melanjutkan hidupmu di tempat lain, tetapi – menghilang jika kau suka,
Patokan tidak melebihi batas-batas isi pokok – lingkar-lingkar pohon
Masih hidup di hutan sampai delapan puluh tahun
Di sana juga.
Kau telah terasingkan mencari sesuatu untuk memperlihatkan kepadaku
Meninggalkanku dalam kelompok anak kecil yang cerdas
Terpaku api mengangkatnya perempuan yang iri hati dengan tangannya.


                (Jenny Joseph)

HALTE

  Dalam bahasa apa? Aku tak mengenalinya
   atau mengapa aku sempat berdiri di pemberhentian bis
   ketika bis internasionalmu berhenti.
   kau sungguh-sungguh tahu, di atas trotoar
   rambut gelapmu berembun beku (Tak kuduga sebelumnya)
   Kupikir, Dia takkan mengenaliku sekarang
   dalam pakaian rombeng ini, gelak tawaku – mengguratkan kesedihan
   dan melemah menjadi bayangan. Pintu-pintu ditutup perlahan.

   Apa yang kaulihat, Aku ingin tahu, selepas bis pergi?
   Kulihat sentilan-sentilanmu, penuh dari dekat rapat-rapat
   mencaci maki di kaca seperti apa yang kau inginkan?
   Apapun yang kaucibirkan sudah sangat terlambat.
   Aku memanfaatkan salju untuk menutupi wajahku
   dan menandakan bahwa aku benar-benar tak di sini
   atau di sana, dan telah melupakan bahasa-bahasa.
   Bibirku kaku untuk berkata-kata Aku tak dapat berucap.

   Orang lain menunggu di pemberhentian bersepatu
seluruhnya peka dalam pakaian dari kulit binatang berbulu tebal –
berlapis sepatu bot sedangkan
   Aku belum mengganti sandal gypsyku,
   Musim dingin telah datang begitu cepat. (Itu sudah dilaporkan
   bahkan pada berita tentang sepasang kupu-kupu
   yang tengah – terbang membeku, sayap-sayapnya tetap terbentang)
   Tak ada yang terjadi di Halte. Jika aku menggigil itu
   bukan apa-apa, kaki dingin, semua musim panas kita berpaling ke es.


                                                (Sylvia Kantaris)

BIBI EMILY

  Pendek gemuk, gelap dan pucat kekuning-kuningan, bibi angkatku
  yang selalu membilas rambutnya dengan vinegar*
  agar warnanya  tetap jelas tampak hidup seolah
  dia punya banyak alasan untuk merawat dirinya sendiri
  sudah mati tak terkira kematian bagi dalihku,
  terkini belum lama berselang pagi ini, dalam tidurnya.
  Kami takkan pernah melihat seperti dia lagi, dia membuat
  jemarinya menjadi tulang. Kusalahkan diriku sendiri,
  meski dia purba. Masih, itu senantiasa melukai.
  Aku menagis tersedu sewaktu kutulis ini
  di ketakberdayaan untuk menelpon dan bilang ku tak bisa
  mengarah ke novel Proust** hari ini (Waktu Yang Hilang).

  Saat ini aku akan menguburkannya di pemakaman.
  Orang-orang mengerti berduka cita, Aku harus
  menggubah untuk kebaikan hati mengirim,
  berjalan, memilih hymne*** , menggubah tulisan pada batu nisan.
‘Dalam Istirahat’ dugaan suara-suara menuju ‘Pengampunan Penuh Belas Kasihan?’
  (Terkadang mereka bergerak perlahan menuju keyakinan)

  Duka cita akan jatuh menetes ke atas alas
  di ketidakhadiranku jika kudapat rincian yang tepat.
  Kau harus menghitung semua dengan ujung-ujung jarimu,
  meski pada akhirnya hitungan yang sebenarnya adalah hanya
  bau kepulan vinegar itu, kata bibi Emily.
  Dia duduk terbujur, lengannya terlipat,  di kedamaian.


                     (Sylvia Kantaris)


Vinegar*  : cuka resep  obat yang dibuat dengan merendamnya dalam asam atetis.
Proust**  : Marcel Valentin Louis Eugene Georges Proust (10 Juli 1871–18 November 1922), sastrawan, eseis, novelis Perancis, yang menulis novel ‘Mencari Waktu Yang Hilang’, diterbitkan dalam bahasa Perancis ‘A la Recherche du Temps Perdu’ berisi tujuh volume dari 1913-1927.
Novel maha karya Proust yang mengajak pembaca melakukan napak tilas ke masa muda yang hilang, seperti ditulisnya sendiri, “Surga sesungguhnya adalah semua milik kita di masa silam yang hilang.”
Hymne***  : lagu khidmat untuk menghormati seseorang.

Puisi-puisi Kuda-Cahaya (Horse - Sun Drawn) karya Kathleen Jamie; Gelondong, Bergulung, Tak Bergulung, Bergulung karya Jenny Joseph; Cloud Scape (Bentangan Mega) karya Elizabeth Jennings; Trompe L 'Oe Il (Ilusi Kedalaman Fisik) karya karya Jenny Joseph; Halte karya Sylvia Kantaris, dan Aunt Emily (Bibi Emily) karya Sylvia Kantaris; diterjemahkan oleh Wahyu Barata dari Buku Kumpulan PuisiThe Poetry Book Society Anthology 1988-1989, disunting oleh David Constantine.
Puisi-puisi karya para penyair  Hutchinson ini edisi pertamanya dipublikasikan tahun 1988 oleh Hutchinson, an imprint of Century Hutchinson Ltd., Brookmount House, 62-65 Chandos Place, London WC2N4NW, dan oleh The Poetry Book Society Ltd.,21 Earl Court Square, London
SW-5 Century Hutchinson Australia (Pty) Ltd.