Cerber FX Rudy Gunawan
Di jalanan,
“
“Nggak,
“Pemimpin itu apa sih
“Pemimpin itu….”
“Pemimpin itu sama dengan presiden ya
“Pemimpin itu orang yang hebat, orang yang mau berkorban untuk orang lain, tapi
“Oo, gitu ya
“
“Kalau orang yang nggak bisa memimpin terus jadi presiden berarti itu kebetulan juga
“Ha-ha-ha….”
Seorang lelaki yang berada persis di belakangku tertawa ngakak keras sekali mendengar pembicaraanku dengan Btari.
“Hebat, hebat sekali, anak ini benar-benar hebat! Ha-ha-ha….”
“Kenapa Bung? Kenapa anak itu?” seorang lain bertanya pada si pendengar pertama.
Pendengar pertama itu menceritakan apa yang didengarnya dan mendapat reaksi yang sama.
“Ha-ha-ha…, betul anak itu memang hebat. Hebat sekali, ha-ha-ha….”
Selanjutnya cerita tentang pembicaraanku dengan Tari bergulir dari mulut ke mulut dan memancing tawa berkepanjangan yang susul-menyusul dari depan ke belakang.
“Ha-ha-ha….”
“Ha-ha-ha….”
“Ha-ha-ha….”
“Hebat, anak hebat!”
“Ya benar-benar anak hebat!”
“Ha-ha-ha….”
Aku geleng-geleng kepala, kucium pipi Btari dengan gemas sambil kuturunkan untuk berjalan sendiri. Pegal tanganku menggendong terlalu lama. Kubiarkan Btari berjalan dalam gandenganku. Anak itu tampak ceria dan bahagia membuatku merasa seperti sedang berada dalam rombongan piknik, bukan rombongan pengunjuk rasa yang setiap saat bisa meledak. Keberadaan Btari sungguh menolongku dan menolong seluruh
Kami memenuhi seluruh ruas jalan ketika memasuki jalan Jend. Sudirman. Panjang rombongan kami mungkin sekitar 100 meter. Orang-orang terus bergabung tanpa terkontrol. Pada saat memasuki Jl. Jenderal Sudirman, handphone berdering. Ternyata Yoe yang meneleponku.
“Hallo,” aku berbicara setengah berteriak untuk mengatasi suara riuh rendah seluruh anggota rombongan pengunjuk rasa.
“Kau di mana kawan?”
“Aku di jalan sedang menuju ke kantormu.”
“Haah? Ke kantorku?”
“Ya, ke kantormu Yoe.”
“Maksudmu kamu ikut unjuk rasa?”
“Aku malah kebetulan memimpinnya kawan.”
“Hei, kau jangan main-main. Situasinya sedang gawat sekali tahu?”
“Ya, aku tahu, tapi aku tak bisa menolak. Ini takdir sepertinya Yoe!”
“Berapa orang
“Besar sekali Yoe, mungkin sekitar 2000-an orang lebih!”
“Gila kamu, itu sangat berbahaya kawan. Kamu akan dihadapi dengan keras oleh orang-orangku nanti. Aku sendiri yang akan memimpin langsung untuk menghadapinya nanti. Cepat kamu hentikan atau tinggalkan saja
“Tidak bisa kawan. Aku tak mungkin meninggalkan mereka, kalau kutinggalkan keadaan bisa lebih kacau. Lebih anarkhis. Ini adalah
“Suruh orang lain untuk menggantikanmu!”
“Sulit, resikonya terlalu besar!”
“Gila! Kamu akan berhadapan denganku tahu?”
“Nggak harus kok. Aksi ini adalah aksi damai Yoe! Keberadaanku di sini adalah untuk menjaga agar aksi ini tetap menjadi aksi damai!”
“Nggak mungkin! Kau nggak bisa melakukannya. Aksi itu bisa disusupi siapa saja untuk mengacaukannya, dan kau nggak mungkin bisa mengontrolnya lagi ketika picu kerusuhan sudah disulut. Cepat kau tinggalkan saja
“Nggak mungkin Yoe, lagi pula aku tidak memintanya, aku tidak merencanakannya, aku tidak menginginkannya. Ini terjadi begitu saja dan di luar kekuasaanku untuk mencegah atau menolaknya. Aku menerimanya sebagai takdir dan bentuk pertanggungjawabanku pada hidupku dan hidup orang lain. Ini sudah final Yoe!”
“Kau sudah siap mati untuk itu?”
“Kau tahu aku nggak pernah takut mati
“Gilaa!!”
“Sudahlah Yoe, kita hadapi dan terima saja semua ini okay? Kalau kau harus membunuhku karena tugasmu ya lakukan saja seperti yang pernah kau bilang dulu….”
“Hei, kau tahu aku tak akan melakukan itu
“Entahlah Yoe, tapi kalaupun itu terjadi ya itulah mungkin takdir kita: bersahabat untuk kemudian berhadapan sebagai musuh, untuk kemudian bahkan mungkin saling bunuh!”
“Kau benar-benar tak bisa meninggalkan arena ini kawan?”
“Maaf Yoe, aku tak bisa.”
“Kau siap dengan apapun resikonya?”
“Aku siap.”
“Mati sekalipun?”
“Sudahlah Yoe, tak perlu kau desak aku seperti itu! Aku bersama Btari sekarang, jadi kuminta satu hal saja padamu: kalau ada apa-apa denganku tolong selamatkan dan jaga dia. Kembalikan dia ke rumahnya. Itu saja permintaanku.”
“Kamu benar-benar gila. Gila!”
“Hei kau dengarkan permintaanku tadi
“Aku dengar. Jangan khawatir soal itu. Aku akan suruh beberapa orangku khusus untuk menjaga dia kalau terjadi bentrokan nanti. Kau benar-benar gila kawan….”
Mungkin benar yang dikatakan Yoe bahwa aku gila, tapi aku sendiri sama sekali tidak merasa seperti itu. Jika selama ini aku bertanya-tanya tentang makna hidupku dan tak pernah menemukan jawaban yang memuaskan, maka saat ini aku telah menemukan jawaban yang memuaskan: untuk peristiwa inilah aku hidup. Peristiwa inilah makna hidupku.

