Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 13:03 WIB
Gita Cinta dari SMA (20)
| jodhi | Selasa, 9 Februari 2010 | 12:25 WIB
|
Share:

istimewa

Novel Eddy D Iskandar

Ratna menggigit bibir. Berusaha menahan kesedihannya agar tak terlihat Galih.
"Aku sedang menghayati hidup ini..." jawab Ratna meniru ucapan Galih. Dan Galih mencolek pipi Ratna.
"Nana...apakah kita akan selalu bersama?" "Aku tak tahu, Galih," jawab Ratna lemah. "Ya...aku juga tak tahu."
"Kita masih muda."
"Ya, kita masih muda."
"Kau tak usah berkhayal. Yang penting; kita telah siap menghadapi apa pun yang terjadi di masa yang akan datang."
"Nana...." Galih menatap Ratna.
Ratna memalingkan muka, seakan menghindari kedukaan yang tergambar dari wajahnya.
Galih mengambil sebuah batu. Digenggamnya.
"Lihatlah batu ini, Nana. Akan kulemparkan sekuat tenaga. Kalau batu ini sampai ke ujung irigasi itu, berarti harapan yang kita idamkan akan kesampaian."
"Jangan main-main, Galih! Nanti batunya tak sampai!" kata Ratna berusaha mencegah.
Galih tak mempedulikan. Ia lemparkan batu itu sekuat tenaga.
Dan... pluk! Kena air, tak jauh dari ujung irigasi sebelah sana.
"Tak sampai..." keluh Ratna.
"Tak sampai..." keluh Galih.
Keduanya saling berpandangan. Saling melukis haru.

MENJELANG Magrib Ratna sampai di rumah. Galih dan kawan-kawannya tidak mampir dulu. Terus saja pulang. Waktu Ratna masuk dari pintu depan, ayahnya sudah siap berdiri tegak menghadangnya.
"Dari mana?"
"Dari irigasi, Pak. Saya berenang dengan kawan-kawan."
"Kawan-kawan siapa?"
"Banyak, Pak. Kawan-kawan sekelas." "Dan lelaki gondrong itu ada, bukan?" "Ya, Pak."
Ayah Ratna melotot.
"Dan kau pacaran di sana?"
"Tidak, Pak."
"Jangan dusta! Kau memakai pakaian renang. Kau pasti pacaran di dalam air!"
"Sungguh mati, saya tidak berbuat apaapa. Saya tidak pacaran di dalam air."
"Jangan dusta!"

Plak! Sebuah tamparan mendarat di pipi kanan Ratna. Ratna memekik. Ibunya segera melerai. Ratna berlari ke dalam kamar. Mbak Ning memburunya.
"Anak tak tahu diri!" teriak ayahnya.

Ratna menangis terisak-isak. Sementara itu, makian ayahnya masih sempat terdengar.
"Awas, mulai besok, kau kularang sekolah. Dan kau baru kuijinkan sekolah lagi, kalau sudah dapat surat pernyataan putus dari lelaki itu!"
"Bapaa....kk," tangis Ratna semakin keras. Mbak Ning membelai rambut Ratna penuh kasih sayang.
"Sudahlah, Dik Nana. Tabahkan hatimu." "Mbak!" Ratna menjatuhkan wajahnya ke pangkuan Mbak Ning.
Mbak Ning menghela napas. Yang telungkup di pangkuannya seakan dia sendiri, ketika menangis di pangkuan sahabat karibnya.
"Asal kau tahu saja, ayahmu bersikap seperti itu, karena menurut ibumu, dulu ayah-
mu pernah dikecewakan oleh seorang gadis asal Priangan. Gadis itu meninggalkan ayahmu, memilih lelaki lain, seorang pengusaha sukses..."
"Tapi kenapa saya yang jadi tumpuan kekecewaan..." sendat Ratna. "Ini tidak adil..."