Puncak Gunung Panderman
Biru langit meluas cakrawala
Yang terbentang begitu lapang
Bertemanlah kedip bintang yang tenggelam
Di selasar cerah matahari yang hadir lagi
Menyapakan :
julangan gunung dan gugusan lembah
Gigiran jurang dan terjalan bukit
Memaku tiap resah dan pertanyaan manusia
Yang mencari dan ingin menemukan
Yang bertanya dan ingin terjawab
Akan tidur yang berpelukkan angin gunung
Tentang rindu alam retak dan meretakkan
Bunga-bunga yang mekar di musim pergantian
Pucuk daun muda yang bersemi di musim pancaroba
Di puncak Gunung Panderman :
Ilalang-ilalang bertautan
Menali dan menari
bersama tiupan angin berisik yang tertiup.
mereka menunggu setiap hari –
bahkan kali ini.
tentang rindunya dan rinduku dan rindu bunga-bunga Gunung Panderman
akan resahnya dan resahku dan resah bukitlembah Gunung Panderman
menanti setiap hari –
bahkan kali ini
sinar merah matahari terbit menyapakan sesuatu
membelai lembut wajahnya-jiwaku –ranting dahan dan daun-daun.
disini
melekas risau yang pergi dan akan datang lagi
rindu menatap cerat merah berliput awan kabut
menyinar
membelai
membuai
dan mematahkan kerinduanku lagi.
Puncak G Panderman 2000 m DPL,
14 Mei 2006 06.05
Pantai Goa Cina
Di sini:
Garis pemisah
Langit dan bumi
Begitu jelas
Suaka di sini:
Tuhanku hadir
Yang sepenuhnya mengingatkanku dengan diam
Yang keseluruhan memanggilku dengan karam
Ombak
Pasir
Buih
Dan karang
Di sinilah kebun para gelombang yang lapar
Menerkam- nerkam
Meraung- raung
Di sinilah tempat para takjup berhinggapan
Datang –diam –menekuk takluk
Tuhan –
Bukannya manusia seperti aku terpaksa memujiMu –tapi :
Jiwa siapakah yang tak karam disini.
Hinggap –diam –dan tundukku takluk
MemujiMu bersama pasir yang menderikkan keakbaran :
Allahu Akbar.
Memang begitulah adanya.
Pantai Goa Cina
07/07/2005 10.45
Di Tempat yang
tak mungkin bisa diam
Awan kali ini –
Putih.
Seperti cendawan raksasa : membumbung.
Tinggi menelungkup birunya langit.
Menyirat serak berarak arak.
Di sini,
Siapakah yang bisa menyangkalnya.
Hasrat alam menghempas hempas –Mendebur debur
Berkejaran melompat lompat
Liar. Seliar macan menerkam mangsanya.
Percik air yang melesakkan :
Rasakan saja.
Lepaskan saja takjubmu disini
Bersama alam yang lagi tak marah
Bersama diam yang lagi merejam
Tak ada yang hening disini
Apalagi senyap.
Biarkan saja :
Gemuruhnya mengeruh
Rasakan saja
Biarkan saja :
Amukannya merasuk
Rasakan saja
Dengarkan saja berisiknya dari sini
Mereka semua sedang bersuara.
Dan –
Sepakatlah kemudian para apa.
Diri dan ombak menyata :
memang Tuhanlah segala.
Gemuruh Pantai Bajulmati,
7 Juli 2005 17.00
Senja Pantai Bajulmati,
Detak waktu –
Menjadi agung disini
Siapapun.
Siapakah yang bisa menyangkalnya
Mengingkari gemuruhnya
Mengingkari serikannya
Pulau pulau kecil itu masih berteman dengan deru ombak
Tiga –dan dua.
Hadir ta’dzim di cekungan panjang
Pantai ini pantai kebisingan
Yang bisingnya mengumandangkan gelora
Yang liarnya melantunkan hempasnya
Disini.
Tak ada selain disini lagi.
Senja, 07/07/2005
Pantai Bajulmati
Apriori
Lubang Lubang kepiting kecil
Merayap rayap
Gerakan gerak titah Tuhan
Bersamanya
Karang karang tajamnya tajam
Memucuk lancip
Bentukan bentuk titah Tuhan
Sekukuhnya
Gusar gusar resahnya diri
Yang disini :
melupaNya –
bukan jadi pilihan lagi
karena :
kalian manusia.
Ciptakan buih ombak sedikit saja. Mana bisa.
Pantai Bajulmati,
Jumat, 08/07/2005 05.30
PROLOGUE
Entah- bagaimana caranya perjalanan datang.
Dan entah, bagaimana caranya ia berbicara kepada manusia
Apakah ia datang dari tempat yang teramat jauh.
Ataukah ia datang – dari tempat yang berjarak tak lebih panjang –
Dari toreh jejak dan lekuk kaki.
Padahal –
Apakah manusia semacam aku
Tertidur ketika waktu semakin berumur.
Ataupun,
Ketika perjalanan semakin menampakkan diri -
Melalui lelaki tua bertongkat renta
Kuakui,
Akupun lelah.
Dan sesekali ingin terduduk letih.
Padahal –
Aku masih ingin berjalan di dasar samudera
Aku masih ingin menyentuhi langit
Aku masih ingin merenung di palung-palung gunung
Tapi –entahlah.
Hidup dan perjalanan terasa seperti lorong yang magis
Terkadang terang –terkadang gelap.
Terkadang pula terbingung bermandi cahaya yang nyaris putus.
Ah diriku,
Aku ambigu –
untuk memilih antara hidup yang seperti angin - ataukah debu.
Jika seperti debu,
Aku ingin tabah belajar terbang kepada udara yang bertiup.
Aku bisa jatuh –aku bisa lepas.
Tapi aku bisa memahami bagaimana kepasrahan menjadi ideology.
Dan jika diriku ingin seperti angin,
Saat bertiup lembut –aku membelai sebuah paras seperti buai rindu seorang kekasih.
Saat aku menderu,
Aku bisa menerbangkan debu dan layang-layang belajar terbang
Aku bisa mengantar layar-layar dengan tegar
Aku bisa menggiring ombak melompati punggung karang
sedangkan jika aku menggeram,
Aku terlihat seperti putaran beliung hitam
Aku berbadai
Aku berderai
Aku menerjang siapa-siapa
Ah,
Apakah itu arti pejalan hidup yang kucari.
Mungkin saja.
Tapi –aku kini merasa perlu untuk lebih setia kepada waktu.
Bersedia mengambil diam.
Melepas kepal dendam.
Membuka jemari –
bagi jiwa dengan tangan yang masih saja rapat tergenggam.
Malang, Vinolia, 6 Agustus 2006
Sajak Tukang Bakso Mengenali Tuhan
Tok-tik
Tik-tok
Disini bunyiku
Disini jalanku
O Tuhan, perindah jalanku
Tik-tok
Tok-tik
Kupukul kanan-kiriku
Ritmisku
Tak hanya itu
Biar menari
Manusiaku
Memilihku
Kupukul yang itu
Biar kutahu
Kenapa yang itu
Kujentik yang ini
Biar kupetik
Kenapa kujentik
Resikoku
Manusiaku
Seperti tok-tik
Seperti tik-tok
Mencari hidupku
Dengan :
Tok-tik
Tik-tok
Mencari tarianku
Dengan :
Tik-tok
Tok-tik
Mencari Tuhanku
Dengan :
Tok-tik
Tik-tok
Disini bunyiku
Disini jalanku
O Tuhan, perindah jalanku
Tik-tok
Tok-tik
Kupukul kanan-kiriku
Ritmisku
Tak hanya itu
Biar menari
Manusiaku
Memilihku
Malang, 25/03/05
Tentang aku dan Kau
Dan maka Tuhan
Dendamku padaMu
Serasa
Akupun ingin mendekatMu
Dan maka Tuhan
Anggap saja percakapan ini
Serasa
Akupun ingin menangkapMu
Dan maka Tuhan
Langit yang membeda
Repih.
Yang awanpun berlarian
Menyirat seperti kuasaMu
Dan maka Tuhan
Jiwa ini ingin menatapMu
melesahMu teduh
teduh dan dalam
dalam dan tinggi
seperti biru langit
yang sampai kapanpun
masih akan tetap diam disana
Allahu Abar.
Monumen Bunga Apel, Malang
Boulevard Ijen.
11/03/05 05.15 pm
Emil W.E
A-222 Adventurers and Mountain Climber (AMC 1969) Malang. Anggota forum diskusi sastra Bengkel Imajinasi Malang.

