Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 12:59 WIB
Puisi-puisi Emil W.E
| jodhi | Jumat, 5 Februari 2010 | 19:11 WIB
|
Share:

DOKUMENTASI BERITAJAKARTA.COM
ilustrasi

Puncak Gunung Panderman

Biru langit meluas cakrawala
Yang terbentang begitu lapang
Bertemanlah kedip bintang yang tenggelam
Di selasar cerah matahari yang hadir lagi

Menyapakan :
julangan gunung dan gugusan lembah
Gigiran jurang dan terjalan bukit

Memaku tiap resah dan pertanyaan manusia
Yang mencari dan ingin menemukan
Yang bertanya dan ingin terjawab

Akan tidur yang berpelukkan angin gunung
Tentang rindu alam retak dan meretakkan
Bunga-bunga yang mekar di musim pergantian
Pucuk daun muda yang bersemi di musim pancaroba

Di puncak Gunung Panderman :
Ilalang-ilalang bertautan
Menali dan menari
bersama tiupan angin berisik yang tertiup.

mereka menunggu setiap hari –
bahkan kali ini.

tentang rindunya dan rinduku dan rindu bunga-bunga Gunung Panderman
akan resahnya dan resahku dan resah bukitlembah Gunung Panderman
menanti setiap hari –
bahkan kali ini

sinar merah matahari terbit menyapakan sesuatu
membelai lembut wajahnya-jiwaku –ranting dahan dan daun-daun.
 
disini
melekas risau yang pergi dan akan datang lagi
rindu menatap cerat merah berliput awan kabut

menyinar
membelai
membuai
dan mematahkan kerinduanku lagi.

Puncak G Panderman 2000 m DPL,
14 Mei 2006 06.05

Pantai Goa Cina

Di sini:
Garis pemisah
Langit dan bumi
Begitu jelas

Suaka di sini:
Tuhanku hadir

Yang sepenuhnya mengingatkanku dengan diam
Yang keseluruhan memanggilku dengan karam

Ombak
Pasir
Buih
Dan karang

Di sinilah kebun para gelombang yang lapar
Menerkam- nerkam
Meraung- raung

Di sinilah tempat para takjup berhinggapan
Datang –diam –menekuk takluk

Tuhan –
Bukannya manusia seperti aku terpaksa memujiMu –tapi :
Jiwa siapakah yang tak karam disini.

Hinggap –diam –dan tundukku takluk

MemujiMu bersama pasir yang menderikkan keakbaran :
Allahu Akbar.

Memang begitulah adanya.

Pantai Goa Cina
07/07/2005 10.45

Di Tempat yang
tak mungkin bisa diam

Awan kali ini –
Putih.

Seperti cendawan raksasa : membumbung.

Tinggi menelungkup birunya langit.
Menyirat serak berarak arak.

Di sini,

Siapakah yang bisa menyangkalnya.

Hasrat alam menghempas hempas –Mendebur debur

Berkejaran melompat lompat
Liar. Seliar macan menerkam mangsanya.

Percik air yang melesakkan :
Rasakan saja.
Lepaskan saja takjubmu disini

Bersama alam yang lagi tak marah
Bersama diam yang lagi merejam

Tak ada yang hening disini
Apalagi senyap.

Biarkan saja :
Gemuruhnya mengeruh

Rasakan saja

Biarkan saja :
Amukannya merasuk

Rasakan saja

Dengarkan saja berisiknya dari sini
Mereka semua sedang bersuara.

Dan –
Sepakatlah kemudian para apa.

Diri dan ombak menyata :
memang Tuhanlah  segala.

Gemuruh Pantai Bajulmati,
7 Juli 2005  17.00

Senja Pantai Bajulmati,

Detak waktu –
Menjadi agung disini

Siapapun.
Siapakah yang bisa menyangkalnya

Mengingkari gemuruhnya
Mengingkari serikannya

Pulau pulau kecil itu masih berteman dengan deru ombak
Tiga –dan dua.
Hadir ta’dzim di cekungan panjang

Pantai ini pantai kebisingan

Yang bisingnya mengumandangkan gelora
Yang liarnya melantunkan hempasnya

Disini.
Tak ada selain disini lagi.

Senja, 07/07/2005
Pantai Bajulmati

Apriori

Lubang Lubang kepiting kecil
Merayap rayap
Gerakan gerak titah Tuhan
Bersamanya

Karang karang tajamnya tajam
Memucuk lancip
Bentukan bentuk titah Tuhan
Sekukuhnya

Gusar gusar resahnya diri
Yang disini :
melupaNya –
bukan jadi pilihan lagi

karena :
kalian manusia.

Ciptakan buih ombak sedikit saja. Mana bisa.
Pantai Bajulmati,
Jumat, 08/07/2005   05.30

PROLOGUE

Entah- bagaimana caranya perjalanan datang.
Dan entah, bagaimana caranya  ia berbicara kepada manusia

Apakah ia datang dari tempat yang teramat jauh.
Ataukah ia datang – dari tempat yang berjarak tak lebih panjang –
Dari toreh jejak dan lekuk kaki.

Padahal –
Apakah manusia semacam aku
Tertidur ketika waktu semakin berumur.

Ataupun,
Ketika perjalanan semakin menampakkan diri -
Melalui lelaki tua bertongkat renta

Kuakui,
Akupun lelah.
Dan sesekali ingin terduduk letih.

Padahal –
Aku masih ingin berjalan di dasar samudera
Aku masih ingin menyentuhi langit
Aku masih ingin merenung di palung-palung gunung

Tapi –entahlah.
Hidup dan perjalanan terasa seperti lorong yang magis
Terkadang terang –terkadang gelap.
Terkadang pula terbingung bermandi cahaya yang nyaris putus.

Ah diriku,
Aku ambigu –
untuk memilih antara hidup yang seperti angin - ataukah debu.

Jika seperti debu,
Aku ingin tabah belajar terbang kepada udara yang bertiup.
Aku bisa jatuh –aku bisa lepas.
Tapi aku bisa memahami bagaimana kepasrahan menjadi ideology.

Dan jika diriku ingin seperti angin,
Saat bertiup lembut –aku membelai sebuah paras seperti buai rindu seorang kekasih.

 Saat aku menderu,
Aku bisa menerbangkan debu dan layang-layang belajar terbang
Aku bisa mengantar layar-layar dengan tegar
Aku bisa menggiring ombak melompati punggung karang

sedangkan jika aku menggeram,
Aku terlihat seperti putaran beliung  hitam

Aku berbadai
Aku berderai
Aku menerjang siapa-siapa

Ah,
Apakah itu arti pejalan hidup yang kucari.

Mungkin saja.
Tapi –aku kini merasa perlu untuk lebih setia kepada waktu.

Bersedia mengambil diam.
Melepas kepal dendam.

Membuka jemari –
bagi jiwa dengan tangan yang masih saja rapat tergenggam.

Malang, Vinolia,  6 Agustus 2006

Sajak Tukang Bakso Mengenali Tuhan

Tok-tik
Tik-tok

Disini bunyiku
Disini jalanku

O Tuhan, perindah jalanku

Tik-tok
Tok-tik

Kupukul kanan-kiriku
Ritmisku
Tak hanya itu

Biar menari
Manusiaku
Memilihku

Kupukul yang itu
Biar kutahu
Kenapa yang itu

Kujentik yang ini
Biar kupetik
Kenapa kujentik

Resikoku
Manusiaku

Seperti tok-tik
Seperti tik-tok

Mencari hidupku

Dengan :
Tok-tik
Tik-tok

Mencari tarianku

Dengan :
Tik-tok
Tok-tik
Mencari Tuhanku

Dengan :
Tok-tik
Tik-tok

Disini bunyiku
Disini jalanku

O Tuhan, perindah jalanku

Tik-tok
Tok-tik

Kupukul kanan-kiriku
Ritmisku
Tak hanya itu

Biar menari
Manusiaku
Memilihku

Malang, 25/03/05

Tentang aku dan Kau

Dan maka Tuhan
Dendamku padaMu
Serasa
Akupun ingin mendekatMu

Dan maka Tuhan
Anggap saja percakapan ini
Serasa
Akupun ingin menangkapMu

Dan maka Tuhan
Langit yang membeda

Repih.

Yang awanpun berlarian
Menyirat seperti kuasaMu

Dan maka Tuhan

Jiwa ini ingin menatapMu
melesahMu teduh
teduh dan dalam
dalam dan tinggi

seperti biru langit
yang sampai kapanpun
masih akan tetap diam disana

Allahu Abar.

Monumen Bunga Apel, Malang
Boulevard Ijen.
11/03/05 05.15 pm

Emil W.E
A-222 Adventurers and Mountain Climber (AMC 1969) Malang. Anggota  forum diskusi sastra Bengkel Imajinasi Malang.