PENCINTA, SEPI, DAN PESTA
Pencinta menangis di pinggir surau, membuang habis dunia gurau
Sepi menusuk dari segala arah, mengutuk semua noktah dalam cahaya:
Keduanya menghidangkan diri pada pesta: membiarkan Tuhan bergelora
Pencinta menyebut gelap sebagai cahaya, menyebut duka dunia ialah bahagia
Sepi telah sampai di kulit ari, menyisakan dingin malam di bulu-bulu roma
Hingga meja-meja bergetar: setiap kali detik menghujam ke tanah kenangan
Pesta telah dimulai sejak pecinta dilahirkan; setelah kesaksiannya di angkasa,
Perjuangan di zakar ayahanda, percintaan di rahim ibunda, hingga saat ini dunia
Telah mengenalnya sebagai manusia: tempat kealfaan bermuara
Namun ia baru datang sekarang, saat dunia melepehkan kewarasan
Sepi telah mengundang pencinta ke dalam pesta, tapi dunia seringkali pula
Menarik pencinta ke konser-konser duniawi: tanpa tiang yang menancap
Ke dasar kesadaran, manusia adalah kapas yang terlepas dari buah,
Dan terombang-ambing tanpa arah
Hingga ia baru datang sekarang, saat jaman semakin badai dan hidup begitu hujan
Pencinta menangis di pinggir surau, memeluk dinding yang dingin oleh angin
Menyesali kebodohan-kebodohan di masa silam, mengutuki semua kealfaan,
Sambil menampung air matanya di sebuah kendi: di jeda rakaat panjang,
Ia meminum airmatanya dalam sekali teguk yang penuh sengguk
Aduhai sepi yang meretakkan batu di dalam hati manusia: kau sadarkah
Tubuh lembutmu telah membelai wajah pecinta, dan menunjukkan cahaya
Yang memancar dari mihrab-mihrab pengabdian?
O pencinta yang memenuhi surau dengan isak tangis, dan air mata: di makam,
Telah kau kubur kah duniamu? Hingga ia tak mampu menahanmu pergi
Untuk pesta-pesta Ilahi
Hingga pesta terus berlangsung, pecinta tak lagi terpasung
Pecinta menggandeng tangan sepi, berjalan beriringan di karpet kehormatan:
Keduanya tak bisa dipisahkan, tak pula dapat tertukar!
/tangerang Januari 2010
LENSA
: andien dan danieta
Dengan mata lensa
Kalian melihat wajah negara
Yang semakin kabut, dan renta;
Anak-anak menangisi nasibnya
Orangtua mendaki gunungan sampah
Dan gedung-gedung tak mengenal
Tuannya:
Pemuda, kita akan ubah semua
Warna!
/tangerang Januari 2010
TELUR DAN PAPAN
Telur bernama bumi akan pecah
Sekedip mata saja waktunya;
Setelah adzan terpenjara
Dan dua kalimat suci
Begitu mudah terlupa, dan terganti
Papan bernama langit akan rebah
Di atas pecah telur kita;
Sebelum rumah dibuka pintu
Dan kita mendengar lagu
(Mengiris masa denyut nadi
Yang lalu)
/tangerang Januari 2010
Na Lesmana, lahir di Tangerang 7 Juli 1992. Sekarang sedang bersekolah di salahsatu Sekolah
Kejuruan swasta di Tangerang, sambil sesekali menulis puisi dan prosa. Beberapa
puisinya masuk dalam buku solidaritas 25 sastrawan 3 negara; Indonesia, Malaysia dan Singapura “ Padang 7,6 Skala Ritcher” (Singapura, November 2009), selain itu: ia sajikan pula di facebook note, blog, dan media-media sekolah.

