Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 13:12 WIB
Puisi-puisi Na Lesmana
| jodhi | Rabu, 3 Februari 2010 | 21:42 WIB
|
Share:

NASA/H. Richer/University British Columbia)

PENCINTA, SEPI, DAN PESTA

Pencinta menangis di pinggir surau, membuang habis dunia gurau
Sepi menusuk dari segala arah, mengutuk semua noktah dalam cahaya:
Keduanya menghidangkan diri pada pesta: membiarkan Tuhan bergelora

Pencinta menyebut gelap sebagai cahaya, menyebut duka dunia ialah bahagia
Sepi telah sampai di kulit ari, menyisakan dingin malam di bulu-bulu roma
Hingga meja-meja bergetar: setiap kali detik menghujam ke tanah kenangan

Pesta telah dimulai sejak pecinta dilahirkan; setelah kesaksiannya di angkasa,
Perjuangan di zakar ayahanda, percintaan di rahim ibunda, hingga saat ini dunia
Telah mengenalnya sebagai manusia: tempat kealfaan bermuara

Namun ia baru datang sekarang, saat dunia melepehkan kewarasan

Sepi telah mengundang pencinta ke dalam pesta, tapi dunia seringkali pula
Menarik pencinta ke konser-konser duniawi: tanpa tiang yang menancap
Ke dasar kesadaran, manusia adalah kapas yang terlepas dari buah,
Dan terombang-ambing tanpa arah

Hingga ia baru datang sekarang, saat jaman semakin badai dan hidup begitu hujan

Pencinta menangis di pinggir surau, memeluk dinding yang dingin oleh angin
Menyesali kebodohan-kebodohan di masa silam, mengutuki semua kealfaan,
Sambil menampung air matanya di sebuah kendi: di jeda rakaat panjang,
Ia meminum airmatanya dalam sekali teguk yang penuh sengguk

Aduhai sepi yang meretakkan batu di dalam hati manusia: kau sadarkah
Tubuh lembutmu telah membelai wajah pecinta, dan menunjukkan cahaya
Yang memancar dari mihrab-mihrab pengabdian?

O pencinta yang memenuhi surau dengan isak tangis, dan air mata: di makam,
Telah kau kubur kah duniamu? Hingga ia tak mampu menahanmu pergi
Untuk pesta-pesta Ilahi

Hingga pesta terus berlangsung, pecinta tak lagi terpasung

Pecinta menggandeng tangan sepi, berjalan beriringan di karpet kehormatan:
Keduanya tak bisa dipisahkan, tak pula dapat tertukar!

/tangerang Januari 2010

LENSA
: andien dan danieta

Dengan mata lensa
Kalian melihat wajah negara
Yang semakin kabut, dan renta;
Anak-anak menangisi nasibnya
Orangtua mendaki gunungan sampah
Dan gedung-gedung tak mengenal
Tuannya:

Pemuda, kita akan ubah semua
Warna!
  /tangerang Januari 2010


TELUR DAN PAPAN

Telur bernama bumi akan pecah
Sekedip mata saja waktunya;
Setelah adzan terpenjara
Dan dua kalimat suci
Begitu mudah terlupa, dan terganti

Papan bernama langit akan rebah
Di atas pecah telur kita;
Sebelum rumah dibuka pintu
Dan kita mendengar lagu
(Mengiris masa denyut nadi
Yang lalu)
/tangerang Januari 2010

Na Lesmana, lahir di Tangerang 7 Juli 1992. Sekarang sedang bersekolah di salahsatu Sekolah
Kejuruan swasta di Tangerang, sambil sesekali menulis puisi dan prosa. Beberapa
puisinya masuk dalam buku solidaritas 25 sastrawan 3 negara; Indonesia, Malaysia dan Singapura “ Padang 7,6 Skala Ritcher” (Singapura, November 2009), selain itu: ia sajikan pula di facebook note, blog, dan media-media sekolah.