BOTOL MIMPI
Aku kehilangan satu
puisi malam ini.
Tentang mimpi,
seorang anak yang lupa
nama desanya.
Yang badannya penuh
bau tumis cabe dan
tomat
Yang kini semua,berada
dalam botol.
I
Dengan menyebutnya
Dialah tayangan lumrah di Tv
Di langit dia bulan redup
Di rerumputan dia basah yang ditunda
Di matamu dia air mataku
Yang kehilangan manja seorang ibu.
II
Sebuah media mekar ditaman bangsa
Warna-warna cerah demokrasinya
Dan di bawah,
Akar sedang mencari keadilan Sang air.
Dan di sini,
Ku dengar penaklukan
Dan jawabannya,
Sebelum kita semua berada
di sini!
III
Dan telah kuketahui sedikit rahasia
Yang alam sampaikan
Yang alam hembuskan
Dan peka yang dipunya menangkap
mata angin yang berputar-putar
Cuma ulah angin sempoyongan
Yang membuat tragedi makin dimengerti
IV
Papan reklame yang dilepas
Oleh manusia pencabut nyawa
Yang hanya berani mengangkangkan kaki saja
Lalu bercerita tentang Kemaluannnya yang hambar
Dan berani juga mementaskan cerita tali yang berwarna-warni
Yang dikatakannya pelangi!
TITIK
Kau katakan buat rencana
Seperti membagi kain kafan
Buat kematian yang risau
Maka kembalikan semuanya
Seperti awal yang tak pernah
Dari akhir yang sederhana
Dalam menanti kata-kata
Harus kuakhiri dengan tanda baca
Titik kecil berwarna merah
Tanda terima kasih tiada tara.
I Putu Gede Pradipta, seorang mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Mahasaraswati Denpasar yang berusaha menjalani hari-hari dengan kesederhanaan.

