Totok Wijayanto
Ahmad Syafii Maarif
JAKARTA, KOMPAS.com — Mantan Ketua PP Muhammadiyah Syafii Maarif mengkhawatirkan Papua lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia atau NKRI.
"Kondisi di Papua itu seperti api dalam sekam. Kalau Papua lepas dari Indonesia, saya tidak bisa membayangkan lagi dengan provinsi yang lain," kata Buya Syafii dalam jumpa pers Maarif Award 2010 di kantor Maarif Institute di Jakarta, Senin (1/2/2010).
Buya mengatakan, keadilan yang dicita-citakan pendiri bangsa sejak proklamasi sampai saat ini belumlah terwujud di Indonesia. "Keadilan masih jauh dari lorong sejarah," katanya.
Dia melihat kekayaan alam Papua disedot pemerintah tanpa mempedulikan kemaslahatan dan kemakmuran rakyat Papua. "Tambang diambil, hutan dieksploitasi, tapi rakyat diabaikan," katanya.
Apabila paradigma keadilan digunakan pemerintah untuk pembangunan di Papua, Buya yakin, rakyat Papua akan ikhlas untuk tetap menjadi WNI. "Tetapi kalau mereka (Papua) lepas dari Indonesia, saya pikir belum siap karena SDM belum siap," katanya.
Sama seperti yang terjadi di Timor Leste, Buya Syafii melihat ada penyesalan pada rakyat Timor Leste untuk berpisah dengan Indonesia karena mereka belum siap.


