Gunung Kidul, Kompas - Wilayah Gunung Kidul merupakan satu-satunya kabupaten di DIY yang memiliki peninggalan sejarah dari zaman purbakala. Namun, hingga kini, masyarakat belum memperoleh keuntungan secara ekonomi dari kehadiran peninggalan purbakala tersebut.
Pemerintah Kabupaten Gunung Kidul mengaku baru akan mendata peninggalan-peninggalan purbakala agar bisa dimanfaatkan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Menurut Bupati Gunung Kidul Suharto, peninggalan purbakala yang sudah lumayan tertata dengan baik hanyalah Situs Sukoliman di Desa Bejiharjo, Karangmojo. Situs yang menyimpan kekayaan berupa peninggalan purbakala dari zaman megalitikhum atau batu besar ini masih sangat jarang dikunjungi wisatawan. "Gunung Kidul punya banyak potensi situs purbakala, tapi perlu pendataan yang lebih konkret. Kami baru akan mendata situs mana yang potensial," ujar Suharto, Selasa (19/1).
Untuk penelitian
Kepala Desa Bejiharjo Yanto menambahkan, hanya Situs Sukoliman yang mulai dikunjungi wisatawan. Kunjungan masih sangat terbatas untuk keperluan penelitian dari dalam serta luar negeri dan pendidikan. Padahal, di wilayah Desa Bejiharjo terdapat peninggalan purbakala di beberapa lokasi lain seperti di Dusun Gunungbang.
Menempati lahan seluas 2.000 meter persegi, Situs Sukoliman memiliki lima kubur batu,
80 menhir, dan kapak batu yang dikelilingi pagar kawat. Ada- pun Situs Gunungbang sama sekali tidak terawat, hanya beberapa kubur batu muncul dari dalam tanah di antara rerimbunan tanaman. Masyarakat di sekitar situs cenderung tidak dibekali sejarah situs. Masih banyak peninggalan purbakala yang dibiarkan terpendam di halaman rumah warga.
Karena pengelolaan situs telah diserahkan ke Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala, pemerintah desa tidak punya kewenangan untuk penataan. Sejauh ini, pemerintah desa juga belum mendapat manfaat dari wisata purbakala yang telah berjalan. "Masih sepi pengunjung. Karena itu, belum layak jadi aset desa," ujar Yanto. (WKM)


