YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Bersama Kota Manila di Filipina, Yogyakarta saat ini menjadi pusat seni rupa di Asia Tenggara. Dalam level yang berbeda, dua kota tersebut memiliki iklim yang sangat mendukung perkembangan seni rupa.
Hal itu dikatakan Karim Raslan, pengamat seni rupa asal Malaysia, dalam kuliah umum Biennale Jogja X dengan tema Seni Rupa di Asia Tenggara, Jumat (8/1/2010).
Raslan menuturkan, identitas Asia Tenggara yang diperkuat dengan organisasi ASEAN sebenarnya dimunculkan untuk kepentingan politik dan ekonomi. Sedangkan seni rupa di kawasan Asia Tenggara sebenarnya berkembang sendiri-sendiri di setiap negara, dalam tegangan antara nilai lokal dan universal.
Namun, dunia telah menganggap Asia Tenggara sebagai sebuah komunitas bersama sehingga muncul juga istilah seni rupa Asia Tenggara. Tidak ada yang disebut gaya melukis Asia Tenggara, seperti juga tidak ada yang disebut sebagai identitas Asia Tenggara. "Asia Tenggara adalah wilayah persilangan budaya. Namun dunia sudah telanjur menganggap kawasan ini sebagai suatu komunitas seni, sehingga kalau ada Biennale internasional, mereka perlu mengundang perupa dari Asia Tenggara," jelasnya.
Menurut Karim, satu hal yang mungkin menyamakan perkembangan seni rupa di kawasan Asia Tenggara adalah pengalaman dengan krisis ekonomi. Pascareformasi, terjadi ledakan seni rupa di semua negara. Perupa merespon perubahan dan kebebasan politik dalam karya mereka.
Dalam komunitas Asia Tenggara tersebut, lanjut dia, Yogyakarta dan Manila menjadi pusat perkembangan seni rupa. Berada di dua negara yang secara ekonomi belum begitu maju, dua kota ini justru memiliki iklim yang sangat mendukung perkembangan seni rupa.
Karim menambahkan, Singapura dan Malaysia mungkin punya segala hal yang bisa mendukung seniman. Tapi di dua negara itu tidak ada iklim sebebas Yogyakarta. Kelemahan institusi budaya milik negara di Indonesia justru menguntungkan seniman dalam berkarya.
Di Malaysia, seniman yang didukung pemerintah tentu harus menuruti keinginan pemerintah. Ini membuat seni rupa tidak berkembang. "Di Yogyakarta, lihatlah Biennale, di sini kita bisa melihat begitu banyak hal. Sedangkan di Filipina, ada banyak institusi pendidikan seni dengan pengajar berkualitas sehingga bisa seni terus berkembang," katanya.

