Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 02:00 WIB
Puisi-puisi Neka Tragedinita
| jodhi | Jumat, 8 Januari 2010 | 02:27 WIB
|
Share:

KOMPAS/AGUS SUSANTO
Hujan di Jakarta.

SONETA HUJAN..
: a tribute to Kevellania Nona Pamela; dalam ketidaksempurnaanmu, nyata kutemui sesempurnanya kuntum bunga
 
Hujan: minikam-tikam
Air mata: merembes-leleh
Dimanakah lingkup itu?
Aku merindumu:
 
Sejati sayang menjelma rerupa bulir gerimis di sore hari; lindap namun pasti
Mengukir luka di kubangan mimpi indah beratasnama masa lalu
Ah, kembali aku tercebur dalam romansa kenang
 
Kata di ujung pena, yang dulu menjadi mahar cinta kita:
Kini, menjadi belati yang menyayat tubuh alirkan darah sampai menjadi nanah
Sudah!aku ingin pergi aku ingin ingkar aku ingin tak luka
 
Yang dicinta kan pergi, yang dipuja kan musnah
Tapi, jujur aku bukan sepah: lalu mengapa kau buang aku tanpa susah?
Deminya!
 
Lab, 141009 10:51

AKU, RINDU!..
 
Aku, rindu!
Saat kau belai rambutku, aku rindu kau peluk
Saat kau belai rambutku sambil kau peluk, aku rindu kau kecup
Saat kau belai rambutku sambil kau peluk sambil kau kecup, aku rindu kau cumbui
Saat kau belai rambutku sambil kau peluk sambil kau cium sambil kau cumbu; aku masih tetap rindu
: dirinya!
 
Lab, 270309 09:40

[saat raga menandak luka..]
 
Perih, pedih, kemana hendak jiwa kurepih?.
Sebab malam masih mendendam. Sebab amarah pagi masih tinggi.
 
Lab, 030709 10:55

[saat sesal mencumbu hati]..
 
Sayat sembilu telah lampau. Perih ini lebih.
 sebab sadari; coklat daun tak lagi dapat hijau kembali..
 
Lab, 030709 11:00
 
 neka tragedinita. lahir di jember 06 oktober 1983. suka menulis puisi, belum punya buku puisi sendiri.