Cerber FX Rudy Gunawan
Dalam rapat luar biasa TKWMM ke 5, sebenarnya sudah ada 3 orang anggota TKWMM yang mulai merasa terkena wabah mata yang malas. Ke 3 orang itu adalah satu orang birokrat dari Departemen Kesehatan, Pak Nyoman, satu orang dari perwakilan partai politik yang juga anggota DPRD DKI, Pak Krisna, dan satu orang lagi adalah Ibu Diana dari kalangan akademisi.
Ke 3-nya memang bukan anggota yang banyak bicara, mereka adalah tipe yang lebih suka bekerja daripada berbicara. Wabah itu ternyata memang tak bisa diduga modus atau pola penyebaran dan penularannya. Juga belum diketahui secara pasti factor-faktor apa saja yang membuat seseorang belum terkena, atau terkena tapi tidak parah, atau baru terkena setelah sekian lama baik-baik saja seperti ke 3 anggota TKWMM itu.
Rapat yang mengharukan dan menakjubkan itu diceritakan Yoe padaku dengan penuh semangat.
“Seperti sudah kukatakan sebelumnya, Pak Filsuf itu memang benar-benar hebat kan?”
“Kamu benar Yoe. Dia benar-benar hebat, mengagumkan! Tapi menurutku sih Pak Amit juga luar biasa dan sama hebatnya.”
“Ah aku tahu kamu pasti akan ngomong gitu.”
“Tapi memang benar kan Pak Amit-nya juga memukau kalian semua?”
“Ya sih, kami seperti tersihir sampai beberapa lama mendengar dia bicara dengan susah payah.”
“Itulah people power Yoe, kekuatan rakyat sejati yang merasuk dalam diri Pak Amit!”
“Kalau itu berlebihan dan terlalu Marxian tau!”
“Repot memang ngomong sama intel yang tau sedikit-sedikit soal Marxisme.”
“Hai, jangan sembarangan kawan, aku tau banyak soal Marxisme sekarang ini. Paling tidak riwayat hidupnya sudah selesai kubaca.”
“Pasti gara-gara kamu kagum sama Pak Sujati kan? Atau gara-gara kematian Elvie yang mengenaskan itu Yoe?”
“Ya, sepertinya aku memang mulai tertarik untuk belajar filsafat nih. Gimana menurutmu?”
“Intel belajar filsafat? Yang benar saja Yoe! Nggak cocoklah itu.”
“Sialan lu, bukannya mendukung malah ngejek.”
“Ha-ha-ha.”
“Jangan ketawa. Aku serius nih.”
“Jawabanku tetap Yoe: nggak cocok kalau ada intel belajar filsafat okay?”
Yoe menyulut sebatang rokok lagi, mengisapnya dalam-dalam dan menghembuskan asapnya keras-keras. Biasanya, jika dia berperilaku seperti itu, berarti ada sesuatu yang serius yang hendak disampaikannya padaku. Dan ternyata benar. Yoe sebagai intel ternyata sudah mencium adanya kelompok-kelompok dengan kepentingan politis yang mencoba memanfaatkan atau menunggangi TKWMM.
“Kurangajar sekali kalau benar begitu.”
“Ya, indikasinya sudah kucium.”
“Kelompok siapa ini Yoe?”
“Belum pasti, karena yang main ini orang yang bisa dibeli oleh siapa saja yang berani bayar mahal.”
“Kurang ajar sekali.”
“Itu biasa kawan.”
“Tidak Yoe, tidak biasa itu.”
“Buatmu, buatku dan buat orang-orang politik itu biasa.”
“Apa kepentingannya Yoe?”
“Belum tahu aku.”
“Kira-kira apa?”
“Kamulah yang seharusnya menganalisa. Aku kan cuma seorang intel kawan!”
“Ya, tapi kan intel pasukan elit. Intel istana kan?”
“Ketua TKWMM sudah menciumnya belum Yoe?”
“He-he-he, lucu kamu kawan, siapa tahu dia ikut main? Koq malah tanya sudah mencium belum, he-he-he….”
“Hei, aku bukan orang politik tau!”
“Masih belum hilang juga trauma politikmu ya?”
“Aku memang bukan orang politik Yoe, kamu tahu itu.”
“Tapi percuma kan? Orang politik atau bukan, kalau mau dijadikan korban atau tumbal, kekuasaan nggak peduli toh?”
“Sudahlah Yoe, kita kembali ke topik semula saja.”
“Baiklah.”
“Jadi kamu belum tahu apa kira-kira kepentingannya dan kelompok mana yang bermain?”
“Sebenarnya ini situasi sulit bagiku. Aku sedang tidak menjadi seorang intel, tapi insting, naluri intelku tetap saja jalan, tapi bagaimanapun aku hanyalah seorang intel, aku hanya akan setia pada atasanku. Itu sajalah yang kupegang saat ini.”
“Bagaimana kalau atasanmu juga ikut bermain?”
“Aku tetap akan setia padanya.”
“Gila.”
“Hai, meski pintar aku tetap seorang tentara. Ingat itu kawan. Dan sebagai tentara meskipun kamu sahabatku, aku tetap harus bisa membunuhmu kalau atasanku memerintahkannya!”
“Heran, mengapa aku tetap bisa bersahabat denganmu ya? Dari dulu aku benci tentara, tapi mengapa kamu tetap jadi sahabatku Yoe?”
“Sudahlah, jangan bicarakan soal itu.”
“Kalau kamu sampai harus membunuhku, kamu akan melakukannya Yoe?”
“Ya, paling tidak aku akan melakukannya dengan cepat dan tanpa rasa sakit, jadi kamu malah harus berterimakasih padaku.”
“Gila. Dasar intel gendeng kamu Yoe!”
“Setiap orang kan harus dan akan mati kawan. Bukankah malah lebih menyenangkan mati di tangan sahabat sendiri?”
“Sakit lu! Kamu dan semua tentara temanmu itu memang gila Yoe! Sakit! Gendeng!”
“Ha-ha-ha, sudahlah jangan bicara soal itu okay?”
Kadang, aku benar-benar tak mengerti mengapa dan bagaimana aku bisa bersahabat dengan manusia satu itu. Bahkan sampai puluhan tahun. Aku benar-benar tak mengerti.

