Oleh Uki Bayu Sedjati
Jawa Timur bahkan sejak sebelum masehi sudah tercatat di peta sejarah dunia--utamanya dari sudut pandang antropologi. Fosil-fosil manusia purba menjadi buktinya, juga kerajaan-kerajaan yang sudah memiliki peradaban yang dinyatakan melalui prasasti-prasasti, jejak-jejak dai mancanegara yang menyebarkan agama Islam, wali Sanga maupun ulama-ulama berpengaruh yang mendirikan pesantren, juga pahlawan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Kesemuanya tak pelak lagi memberikan sumbangsih besar dalam perjalanan bangsa – yang memiliki ribuan pulau di Nusantara, yang berproses terus menjadi Indonesia Raya.
Pada kurun waktu separuh dasawarsa saja, antara tahun 50-an sampai dengan 2000, tak sedikit tokoh dari Kabupaten Jombang yang hadir di pentas nasional, regional maupun internasional, Empat di antaranya, tentu kita mengenalnya, yakni Abdurrahman Wahid, Nurcholihh Madjid, Toto Asmuni dan Muhammad Ainun Nadjib, yang masing-masing memiliki panggilan akrab : Gus Dur, Cak Nur, dan Cak Nun. Sedangkan sang pelawak bukan dipanggil Cak To melainkan Pak As.
Sebagai cucu dari Hasyim Asyhari - pendiri pesantren Tebu Ireng dan anak dari Wahid Hasyim – Menteri Agama era Soekarno, Gus Dur tumbuh dan dibesarkan oleh kultur pesantren. Mengecap pendidikan tinggi di Universitas Al Azhar, Kairo dan di Irak menjadikan menguasai bahasa Ibu, Arab, Inggris, Jerman dan Perancis, serta menunjukkan keluasan wawasan, tingkat keilmuan maupun pergaulannya. Kelahiran Denanyar, 4 Agustus 1940 ini dikenal humoris, humanis dan pluralis.
Cak Nur putra pertama dari Abdul Madjid, pemilik dan guru Madrasah Al Wathaniyah, ini lahir di Mojoanyar 17 Maret 1939. Lulus dari pesantren Gontor, Ponorogo, dan rampung dari Fakultas Adab (Sastra dan Budaya) IAIN Syahid, ia melanjutkan studi di Universitas Chicago selama 6 tahun, lulus cum laude dengan disertasi "Ibn Taymiyya on Kalam and Falsafa".
Pak As, pria kelahiran, 17 Juni 1932, ini seorang seniman komedian grup Srimulat, terkenal dengan kumis kecil ala Charlie Chaplin, juga tidak lepas dengan blangkon di kepalanya. Di luar profesinya ia sempat menjadi pengusaha rumah makan, Warung Rujak Cingur Asmuni di Trowulan, Mojokerto dan membuka cabang di Slipi, Jakarta.
Cak Nun lahir di Menturo, 17 Mei 1953. Sempat mengecap pendidikan di pesantren Gontor, hanya beberapa bulan saja, ia “angkat koper” dan beroleh langsung asih, asah, asuh dari sang Ayah : Mohammad A Lathif – petani dan tokoh pendidik. Selanjutnya anak ke empat dari 15 bersaudara ini menempuh pendidikan SMP, SMA di Yogya, juga mencoba jadi mahasiswa Fakultas Ekonomi maupun Fakultas Filsafat UGM – yang tak mampu dilanjutkan karena faktor ekonomi.
Hil Yang Mustahal
Lumayan sering warga masyarakat silap menyebut Cak Nun dengan Cak Nur atau sebaliknya. Tapi sebagai orang Jombang keduanya tak pernah mempersoalkan, mafhum. Lebih dari itu, bertiga dengan Gus Dur, sumbangsih terhadap peradaban bangsa ini adalah kemampuan mereka menjembatani pemahaman ilmu pengetahuan “Barat” dengan ilmu pengetahuan “Timur” di lapangan kebudayaan, politik, maupun pemikiran keislaman. Mereka, masing-masing, diskusi serius mengenai masalah agama, sosial dan politik dengan berbagai kalangan lintas agama, suku dan budaya. Juga, ketiganya menulis dan menerbitkan buku-buku.
Meski, untuk kalangan ulama Islam yang “tradisional” telaah dan pendapat ketiganya sering disalah-tanggapi, bahkan di cap kontroversial alias “nyleneh.” Wacana memang bisa dan biasa mengundang pro kontra. Buat ketiganya tentulah semuanya, segalanya, diawali niat baik. Ijtihad penting untuk membuka lebih luas wawasan keagamaan dan keberagamaan umat Islam di Indonesia dari kejumudan. Nabi Muhammad SAW menyatakan umat kita bakal terbagi dalam belasan kelompok, dan semua itu sebenarnya sudah dilandasi semangat “perbedaan adalah rahmat.”
Telaah Cak Nur tentang sekularisasi dan pluralisme beroleh reaksi keras terutama dari kalangan masyarakat Islam yang menganut paham tekstualis literalis pada sumber ajaran Islam. Demikian pula ketika Cak Nur menyatakan "Islam Yes, Partai No?", sementara waktu itu sebagian masyarakat Islam sedang gandrung untuk berjuang mendirikan kembali partai-partai yang berlabelkan Islam.
Ingat mencuatnya perdebatan saat Gus Dur melontarkan wacana “Assalamu’alaikum boleh diganti dengan Selamat pagi?” tentulah memiliki latar belakang pemahaman yang mumpuni. Demikian pun, ketika Gus Dur menolak masuk dalam organisasi ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia). Tidak hanya menolak bahkan menuduh organisasi kaum ‘elit Islam’ tersebut sama dengan organisasi sektarian.
Boleh jadi berkaitan dengan itulah muncul kalimat "Hil yang Mustahal" yang dipopulerkan Asmuni. Ujaran ini adalah plesetan yang menegaskan sesuatu “Hal yang Mustahil” terjadi. Dengan gaya pengucapan yang meyakinkan dan penekanan pada kata mustahal, dijamin yang mendengarnya pasti tertawa, tulis seorang pengamat humor. Bahkan mendengarnya puluhan kalipun tetap lucu kalo yang mengucapkan itu Asmuni.
Kecendikiaan bukan hak milik manusia yang berpendidikan tinggi, melainkan dapat dilabelkan kepada siapapun. Ini sepadan dan sejalan dengan semakin diakuinya local jenius yang melahirkan local wisdom - beberapa tahun belakangan ini.
Adakah yang “salah” dengan ICMI, sehingga sebagian cendikiawan menolak menjadi anggotanya? Sewaktu saya bersama Cak Nun ikut dalam perhelatan peresmian di Malang, ketika para peserta mendiskusikan nama yang pas untuk oraganisasi, Cak Nun mengusulkan Ikatan Muslim Cendekiawan Indonesia, IMCI. Alasannya: karena pengakuan sebagai muslim harus lebih dahulu dari julukan cendekiawan. Lahir, tumbuh, besar, menganut dan dalam tradisi pendidikan ajaran Islam, baik di rumah, di lingkungan ketetanggaan, maupun dari lembaga seperti madrasah, pesantren jelas lebih dulu, lebih mendarah-daging, daripada sebutan cendekiawan yang diperoleh setelah seseorang dewasa. Tapi sebagian besar peserta – para intelektual yang rata-rata berpendidikan luar negeri, apalagi yang dekat dan atau menjadi bawahan pak Habibie, yang kala itu menjadi pimpinan BPPT – boleh jadi lebih bangga pada ke-cendekiawan-annya daripada muslimnya, sehingga lebih menyetujui label Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia, ICMI.
“Tapi Emha sempat didaftar jadi anggota ICMI waktu itu, kan?!” Sergah teman saya.
Ya. Benar. Tapi, menurut Cak Nun, ia memantapkan niat meninggalkan organisasi ini, utamanya ketika pak Habibie menyatakan bahwa setiap anggota ICMI harus shalat!
“Lho, itu kan betul. Setiap muslim kan wajib shalat, rukun Islam!”
Mmmh, kok baru sekarang menyatakan pentingnya mematuhi ajaran Islam, memantapkan diri sebagai muslim, waktu pendirian dan penetapan nama ICMI ke mana aja?: Jadi yang benar usulan Cak Nun, kan, IMCI. Mmmh, intelektual kok telmi..!
Tingkat pendidikan memang tak sama sebangun dengan keluasan wawasan dan kematangan pribadi.
Makanya, bolehlah diingat ujaran yang acapkali diucapkan Asmuni untuk mengakhiri sebuah pernyataan, yakni Wassalam. Maksudnya ini adalah keputusan, tak bisa dibantah - akhir dari segala kontroversi – yang diharapkan mensejahterakan.
Alim & Tawadldlu
Tahun-tahun lewat dengan membawa masalah-masalahnya sendiri. Juga kemudian : Jombang berduka.
Cak Nur meninggal dunia pada 29 Agustus 2005 akibat penyakit sirosis hati yang dideritanya. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata meskipun merupakan warga sipil. Cak Nur telah diakui banyak berjasa kepada negara.
Sabtu, 21Juli 2007, sekitar pukul 13.30 WIB Asmuni meninggal dunia saat dalam perawatan di RS Rekso Waluyo, Mojokerto, dan dimakamkan di tanah kelahirannya, Diwek, Jombang, Jawa Timur.
Setelah beberapa kali menjalani pengobatan mata – bahkan di luar negeri – maupun terkena serangan stroke, fisik Gus Dur makin melemah. Jelang akhir Desember letih oleh perjalanan ziarah ke makam leluhur di Jombang menjadikan sempat dirawat di RS kota kelahirannya itu. Setelah merasa sedikit membaik, Gus Dur disarankan untuk pindah perawatan di Surabaya. Di tengah perjalanan ia meminta agar kembali ke Jombang karena mendadak ingin ziarah ke makam Kakek, Bapak dan Ibunya di pesantren Tebu Ireng. Setelah permintaan itu terpenuhi, ia dibawa ke Surabaya dan langsung diterbangkan ke Jakarta, kemudian menjalani cuci darah dan rawat inap di RSUP. Namun, 30 Desember 2009, jam 18.45, Presiden ke 4 RI ini pulang ke rahmatullah, dan esoknya dimakamkan berjejer dengan makam Kakek, Bapak dan Ibunya.
Tiga tokoh asal Jombang telah kembali ke hadirat Allah SWT dengan meninggalkan berbagai kebajikan ilmu amaliah – amal ilmiah, namun Jombang – juga seluruh warga bangsa Indonesia - tak boleh larut dalam kesedihan, melamun dtinggal panutan, merasa gamang, hidup seperti di awang-awang, ngambang.
Apalagi manusia yang mendapat amanah memimpin. Mulai dari memimpin diri sendiri, keluarga, kelompok, masyarakat, apalagi memimpin negara tak boleh gamang, ojo ngambang. Karena pemimpin menyandang dan menjalankan tanggungjawab sosial dikendalikan oleh kemampuan intelektual yang dilandasi moral spiritual. Dan, karena itu pula kudu mau membuka diri menerima masukan: baik saran maupun kritik.
”Diri” yang ’alim dan tawadldlu, yang intelektual, yang rendah hati. Dengan itu akan memperoleh kejernihan pendengaran terhadap muatan, volume dan frekuensi suara yang datang,....yang kemudian dibawa ke”diri” jabatan, ”diri” kekuatan dan kekuasaannya (Emha Ainun Nadjib,”Titik Nadir Demokrasi”).
Ya, Cak Nun masih ada, juga puluhan bahkan ratusan orang muda, yang menolak jadi ngambang – melainkan siap untuk ngembang – berkembang. Artinya, siapa saja yang jadi pemimpin seperti yang telah diteladankan oleh Gus Dur dan Cak Nur – yang berani menyatakan membela kebenaran demi tegaknya keadilan dan meningkatkan martabat serta kesejahteraan rakyat. Kuncinya adalah: integritas alias istiqamah melapangkan toleransi terhadap sesama mahluk hidup tanpa membedakan latar belakang agama, budaya, dan semacamnya.
Pertemuan kebersamaan ”Maiyah” di Jakarta, Yogya, Semarang, Surabaya, Makasar, dan di kota-kota lain, yang diawali di pertemuan Padhang mBulan, di Menturo, Jombang, adalah bagian dari ”metode” yang diwedarkan Cak Nun untuk menampung itu semua.
Masih banyak pekerjaan rumah, memang. Tapi ojo ngambang, sebab semua bakal terasa ringan jika kita kerjakan bersama-sama. Mari. (Uki..7-1-2010)

