Cerber FX Rudy Gunawan
Ketika ia diminta untuk bergabung sebagai anggota TKWMM agar bisa menyumbangkan kemampuannya dalam menanggulangi wabah mata yang malas, Jeng Sri sudah merasakan bakal bertemu dengan orang-orang menarik. Orang-orang pintar dan penting. Ia dengan antusias menyambut tawaran itu karena memang ingin menyumbangkan kemampuannya sebagai seorang paranormal. Ternyata benar, ia bertemu dengan orang-orang menarik dan pintar, tapi Jeng Sri tak mengira bakal bertemu orang semenarik dan sepintar Sujati. Orang yang jika melangkah di tanah berlumpur, pasti jejak kakinya menjadi jejak yang membekas paling dalam. Bahkan bumipun seakan ingin menarik Sujati ke dalam pelukannya. Sepanjang perjalanan menuju tempat prakteknya di sebuah ruko di kawasan Bekasi, Jeng Sri terus memikirkan Sujati dan untuk sesaat ia seakan lupa pada persoalan wabah mata yang malas. Tapi seorang pengemis anak-anak yang tiba-tiba menabrak pintu mobilnya segera menyadarkan Jeng Sri pada wabah yang semakin mengancam penduduk Jakarta itu.
********
Ahmad Tisna, keluar dari ruang rapat dan langsung bergegas pergi begitu rapat luar biasa ke 5 ditutup. Wajahnya masih merah. Kemarahan tampak membersit di matanya. Rasanya ia ingin menghajar doctor filsafat sableng itu. Tapi orang itu begitu tenang, dingin, dan seakan tak tersentuh.
Orang itu benar-benar telah mempermalukannya di depan begitu banyak orang penting.
“Bangsat pukimak! Anjing benar tuh orang!”
“Haramjadah sia jurig filsafat!”
“Brengsek benar deh lu!”
Tadinya, Ahmad berharap pernyataan atau masukan darinya akan menjadi penutup rapat luar biasa yang menawan, manis, dan mendapat aplaus dari semua perserta rapat sampai ruang rapat gemuruh oleh tepuk tangan para anggota. Menurut pendapatnya sendiri apa yang disampaikannya itu sangat tepat sebagai penutup rapat itu. Nasionalisme. Bukankah itu sebuah penutup yang manis? Sial.
Harapan itu buyar. Berantakan sampai berkeping-keping oleh Si Doktor Filsafat sableng itu. Rasanya ingin Ahmad memukul dan menendang Sujati saat itu juga, di situ juga. Right now, right here. Tak pernah ia mendapat malu sebesar itu seumur hidupnya.
“Kemana kita Pak?”
Sopirnya, Si Jali yang hafal sekali seluk beluk dunia hiburan Jakarta berinisiatif membuka percakapan karena ia melihat wajah bossnya yang tak sedap dipandang. Dalam kondisi wajah seperti itu, Jali mengerti, ia harus bisa mengambil hati, menyenangkan bossnya, karena jika tidak pasti si boss akan memarahinya terus-menerus sepanjang hari.
“Kemana menurutmu kalau lagi sumpek gini Jali?”
Berhasil. Jail bersorak dalam hati. Ia tahu tempat-tempat untuk menyenangkan hati bossnya.
“Saya kira sebaiknya Bapak pijat dulu biar rileks. Di tempat biasa ada anak baru Pak. Masih 16 tahun. Badannya enak sekali untuk memijat tubuh dan pikiran yang kesal. ”
“Baik. Kita kesana Li.”
“Beres Pak. Jali segera meluncur.”

