BAGI Atie Krisna (58), galeri tidak hanya sekadar sebagai ruang pamer, tetapi dapat digunakan sebagai tempat transformasi ilmu dan ide bagi penikmat seni. Tidak hanya itu, galeri juga menjadi sarana pengembangan diri perupa.
Karena alasan itulah, Atie masih mempertahankan galerinya yang hanya seluas 4,5 meter x 7 meter. Galeri Bu Atie tersebut memakai salah satu ruangan depan di dalam tempat tinggalnya yang dulunya pernah digunakan untuk berjualan pekaian.
Sejak menggeluti dunia seni rupa dalam lima tahun terakhir, Atie merasa perlu membagi apa yang dia miliki dengan pelaku seni rupa lainnya. Galeri Bu Atie menjadi salah satu tempat singgah bagi perupa yang mau terus belajar dan tidak berorientasi keuntungan.
Untuk itu, Atie tidak pernah membebankan biaya sewa bagi perupa yang menggunakan galerinya. Perupa hanya memberikan 15 persen dari hasil transaksi penjualan karyanya. "Jika tidak ada yang laku, maka perupa tidak perlu keluar duit," katanya di galerinya yang terletak di Jalan Borobudur Utara Raya, Kota Semarang, Kamis (24/12/2009).
Lokasinya yang berada di dalam rumah membuat biaya operasional galeri tidak besar. Pengeluaran rutin pameran juga menjadi tanggung jawab perupa, sehingga Atie masih bisa mempertahankan keberadaan galeri ini.
Taufiq Dahara, pemilik Galeri Dahara di kawasan Semarang Utara, juga memiliki kepedulian yang sama agar perupa mau berkembang. Taufiq hanya memungut 30 persen dari setiap hasil penjualan karya yang laku, tanpa biaya lainnya.
Taufiq bahkan harus merogoh kocek pribadi untuk mengganti biaya rutin operasional galerinya. Namun, karena letak galeri menjadi bagian dari kantor, maka biaya itu tidak terlalu terasa. Dia juga menanggung biaya pembuatan kata log, akomodasi, dan kurator dalam setiap pameran yang diadakan Dahara.
Pengeluaran operasional galeri tersebut didapatkan dari keuntungan usaha intinya, yaitu penerbitan dan toko buku. Selain itu, efisiensi biaya juga dilakukan seperti membuat katalog sendiri di penerbitan.
Sejak berdiri November 2005, Galeri Dahara memang dirancang bukan untuk tujuan komersial. Namun demikian, hal itu memengaruhi intensitas pameran karena Taufiq lebih selektif. "Tidak ada kejar tayang dalam pameran," katanya.
Pada awal 2009, dalam benak pengusaha penerbitan dan toko buku ini sempat terbersit keinginan untuk memberhentikan operasi galeri karena sempat vakum berbulan-bulan. Namun, Taufiq berhasil optimistis karena meyakini galeri tersebut memiliki kontibusi besar dalam pengembangan seni rupa.

