Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 01:16 WIB
Sastrawan Muda Harus Dikenalkan dalam Kurikulum
Jodhi Yudono | jodhi | Kamis, 24 Desember 2009 | 02:29 WIB
|
Share:

KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA

SEMARANG, KOMPAS.com--Novelis Islam, Habiburrahman El Shirazy mengatakan, keberadaan para sastrawan muda Indonesia dengan karya-karya sastra yang dihasilkannya harus dikenalkan dalam kurikulum pendidikan yang diterapkan di sekolah.
     "Selama ini, kita hanya mengenal para sastrawan era tahun 1960-an," katanya usai peluncuran buku "The Inspiring Life of Habiburrahman El Shirazy" karya Muhammad Mujib El Shirozy di Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang, Rabu.
     Menurut pria yang akrab disapa Kang Abik tersebut, perkembangan sastra di Indonesia, terutama sastra Islam sebenarnya cukup pesat, namun karya-karya para sastrawan muda Indonesia belum banyak dikenal masyarakat, karena kurangnya publikasi.
     Ia mengatakan, selama ini masyarakat lebih mengenal para sastrawan yang seangkatan dengan Chairil Anwar, sedangkan para sastrawan muda jarang dikenal, padahal banyak karya-karya mereka yang sebenarnya tidak kalah dan dapat dibanggakan.
     "Pengenalan karya-karya para sastrawan-sastrawan muda dalam kurikulum sekolah sangat penting untuk merangsang dan membangkitkan semangat anak-anak untuk berkarya" kata Kang Abik yang melejit lewat novelnya berjudul "Ayat-Ayat Cinta" itu.
     Kang Abik menilai, anak-anak perlu dikenalkan sejak dini terhadap karya para sastrawan muda agar ada semacam regenerasi karya sastra dan mereka juga dapat menjadikannya sebagai teladan atau tokoh panutan dalam kehidupan.
     "Karena itu, perlu adanya kebijakan untuk memasukkan karya sastrawan muda Indonesia dalam kurikulum sekolah, sebagai upaya publikasi dan pengenalan," kata Kang Abik yang menyelesaikan kuliahnya di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir itu.
     Berkaitan dengan perkembangan satra di Indonesia, terutama sastra Islam, ia mengatakan, karya sastra Islam saat ini cukup berkembang pesat dan semakin diminati, dan Indonesia sebenarnya memiliki banyak jejak sastra yang belum terpublikasi.
     "Saat ini banyak sastrawan-sastrawan muslim yang menulis karya sastra bernuansa Islami, ini cukup menggembirakan, meskipun banyak juga sastrawan yang tidak menamakannya sebagai sastra Islam, namun hakikatnya sebenarnya tetap Islami," katanya.
     Ditanya tentang buku terbaru karya Muhammad Mujib yang juga adiknya itu, ia mengatakan, dirinya merasa gembira karena proses kreatif berkarya dapat disampaikan.
      "Dia (Muhammad Mujib, red.) melihat dan mengikuti bagaimana saya menulis," kata Kang Abik.
     Ia mengatakan, dirinya mengharapkan buku tersebut dapat menjadi inspirasi bagi para pembacanya, terutama para anak-anak muda agar mereka dapat terus kreatif dalam menciptakan karya sastra.
     Sementara itu, Muhammad Mujib El Shirozy mengaku, buku tersebut merupakan gambaran utuh tentang sosok sang kakak, Habiburrahman El Shirazy, termasuk gambaran saat bahagia, sedih dan terpuruk bersamanya.
     "Dia (Kang Abik, red.) banyak memberikan inspirasi bagi saya dan berharap buku ini juga dapat menjadi inspirasi bagi banyak anak-anak muda untuk menjadi generasi yang lebih baik," kata Muhammad Mujib.

Sumber :
ANT