Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 00:09 WIB
Mata yang Malas (38)
| jodhi | Kamis, 24 Desember 2009 | 00:01 WIB
|
Share:

shutterstock

Cerber FX Rudy Gunawan

Jeng Sri benar-benar kagum dan jatuh cinta pada Sujati. Ia ingin tidur dengan doctor filsafat itu. Ingin membelainya, menciuminya, menggigit, meremas, dan menindih tubuh yang besar itu lalu menelanjanginya dan….

Orang itu pada usianya yang menjelang 60-an mempesona dirinya habis-habisan.  Sebagai seorang paranormal Jeng Sri bisa melihat Sujati meski sudah berusia 60-an tapi ibarat macan tidur, begitu dibangunkan tetap akan mengaum dengan dasyat.

Kekuatan lelaki itu dirasakannya begitu besar. Jeng Sri juga tahu, beberapa anggota TKWMM terus-menerus melirik dan mengedipkan matanya dengan mesum ketika melihat dirinya. Salah satunya adalah Mansyur Jali.

Tapi ia tak tertarik. Kliennya banyak orang-orang semacam Mansyur Jali, dan jika bukan klien maka orang semacam itu dimatanya semata-mata menyebalkan belaka. Anggota lain yang juga bolak-balik melirik tubuh bahenol Jeng Sri adalah Nashir Abdullah, tapi berbeda dengan Mansyur, anggota yang satu ini, tidak cukup percaya diri dan terkesan malu-malu mengekspresikan hasratnya. Terhadap Nashir, Jeng Sri juga tidak tertarik sedikitpun.

Ketika Sujati mengusulkan Pak Amit untuk bicara, semua orang terhenyak kagum dan malu pada dirinya masing-masing, tapi Jeng Sri tidak. Ia hanya bertambah kagum dan tambah bernafsu pada doctor filsafat itu. Sepanjang pengalaman praktiknya sebagai paranormal dan peramal masa depan, Jeng Sri baru sekali ini menemukan jenis manusia semacam Doktor Sujati.

Ia tahu banyak tentang lelaki-lelaki sejati dengan potensi seks besar yang didambakan kaum perempuan, tapi yang memiliki daya tarik unik seperti Sujati baru ditemukannya pada diri doctor filsafat itu. Jeng Sri pernah mengenal seorang pelukis besar yang sampai akhir hidupnya masih berpikir dan menginginkan seks. Jeng Sri juga tahu seorang seniman panggung besar yang masih meminta istrinya untuk memasturbasi dirinya secara oral ketika seniman itu terkapar sakit dengan kondisi yang serius.

Tapi Sujati tetap lain dibandingkan lelaki-lelaki “hebat” itu. Bedanya terletak pada hubungan mereka dengan seks. Si pelukis besar dan si seniman panggung, adalah lelaki-lelaki yang “dikuasai” nafsu seksnya yang besar sementara Sujati menurut “penglihatan” Jeng Sri adalah lelaki yang “menguasai” nafsu seksnya yang sebenarnya juga sebesar pelukis atau seniman panggung itu.  Jeng Sri memiliki kemampuan ESP atau extrasensory perception  yang kuat secara alamiah. Matanya seakan dapat melihat muatan dalam gelombang-gelombang electromagnetic, akan berakibat apa dan akan kemana gelombang itu. Dengan kemampuan itu, Jeng Sri bisa melihat kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di masa depan yang tidak bisa diprediksi oleh kemampuan logika atau ilmu pengetahuan dan tehnologi.

Logika, ilmu pengetahuan, dan tehnologi hanya bisa memprediksi kemungkinan-kemungkinan masa depan berdasarkan fakta-fakta yang diketahui, tapi Jeng Sri hanya perlu bermeditasi untuk menjajaki kemungkinan-kemungkinan masa depan. Untuk membaca masa depan seseorang Jeng Sri harus benar-benar berjarak secara emosional dengan orang yang menjadi kliennya.

Jika ia terlibat secara emosional, baik itu menyukai atau membenci, Jeng Sri tak bisa “melihat” dengan jernih kemungkinan-kemungkinan masa depan orang itu. Perasaan yang dirasakannya terhadap Sujati, adalah hal yang harus dipantanginya dalam berpraktek sebagai seorang paranormal.

Perasaaan tertarik yang begitu kuat, membuatnya sama sekali tak bisa melihat masa depan Sujati, bahkan sejak pandangan pertama ia bertemu dengannya.