Jumat, 10 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS.com
Jumat, 10 Februari 2012 | 21:02 WIB
Tiga Wajah Ibu
| jodhi | Selasa, 22 Desember 2009 | 23:35 WIB
|
Share:

shutterstock
Ilustrasi

Oleh Dara Jingga

Saat ini, disebuah lembah sunyi pinggiran kota Bandung....kutuliskan kenangan ketiga sosok bunda, lewat tinta emas. Bersamanya burung-burung berhenti berkicau, turut menyimak detak bathinku dengan penuh khidmat.

"Ini pertamakalinya aku bicara tentang sosok bunda dalam kehidupanku. Sosok yang selalu kugenggam erat jemarinya dengan tangan kecilku. Sosok yang penuh senyum dan kehangatan hati yang penuh kasih. Bunda yang kukenal sepanjang hayatku. Bunda yang masih dengan suka cita mau menyuapkan bubur ayam ke mulutku langsung. Meski aku sudah SMA dan bahkan sampai aku kuliah. Bunda yang tak pernah mengeluh dengan kemanjaanku yang “sempurna” menurut kakak-kakakku yang suka menggoda dan mengerjaiku, membuatku menangis kesal. Bunda yang selalu bersikap
netral pada anak-anaknya, namun selalu kumonopoli untuk selalu memperhatikanku. Bunda yang dengan kesabarannya merawat sakitku, dan sering kupergoki menangis diam-diam dalam gelapnya malam, sambil mengelus tubuhku. Bunda yang selalu setia menunggu di teras depan hingga di pintu pagar saat aku pulang terlambat hingga maghrib tiba.

Bunda yang satu ini adalah bunda dalam dunia nyataku yang sempurna. Bunda yang sebenar-benarnya dalam logikaku yang naïf. Pagi ini, kutuang kembali segenap perasaan yang melimpahi memori lamaku. Tentang sosok bunda yang kedua. Yang membangkitkan kenangan masa kecilku. Kenangan yang bergelimang kemesraan.

"Ini adalah pertamakalinya aku membayangi sosok bunda di sebuah kota di pusat pulau Jawa. Sosok yang mengundang tanya, yang pernah kutemui pada masa kecilku yang ceria meski dalam kesepian tanpa teman sebaya bermain. Bunda yang merasa sudah lama mengenalku namun aku tak pernah benar-benar mengenalnya. Bunda yang entah dari mana andilnya, hingga harus kuakui sebagai bundaku tercinta. Bunda yang selalu mengusik malam-malamku dengan suaranya yang serak dan lembut lewat sapa dering telepon sebagai media komunikasinya denganku. Bunda yang selalu menanyakan, apakah aku baik-baik saja. Bunda yang tak pernah lagi kutemui hingga kini. Yang hanya kuingat pernah memangkuku di saat aku berkunjung ke kotanya dulu bersama kedua orangtuaku. Sebuah kota budaya yang terkenal seantero jagad. Saat itu aku masih enam tahun."

Malam ini, di saat lembah berselimut kabut. Kubuka email yang rajin berdatangan dalam setahun ini. Dengan kisah yang tak hendakku tahu, bagaimana menyikapinya. Sebuah kisah lama dari negeri Sakura. Lagi-lagi tentang sosok bunda. Biar kutuliskan saja lewat jemariku yang bergetar.

"Ini adalah pertamakalinya aku mengetahui tentang bunda yang tak pernah kudengar namanya selama ini. Bunda yang harus kupanggil sebagai okasan. Atau ibu dalam bahasa negeri matahari terbit. Bunda yang kuketahui dari sebuah document yang dikirimkan langsung dari seberang lautan. Bunda yang hanya kupandang lewat album fotonya. Bunda yang dari parasnya seolah membuatku tengah bercermin. Siapakah bunda yang satu ini? Yang melemparku ketengah samudra teka teki dalam hidupku
yang tak sepenuhnya sempurna? Mengapa begitu mirip denganku diantara
bunda-bundaku yang lain? Kehidupan apa yang sedang kujalani? Mengapa hidupku penuh dengan teka teki yang seolah tak berujung bagaikan sinetron kehabisan ide kreatifnya?"

Aku pandangi lagi ketiga wajah bunda lewat gambar diri yang seolah membelah kehidupanku. Ketiga wajah itu, ah…mengapa menyumbangkan senyumnya demikian tulus padaku? Mengapa pula kutemukan aura sepi dan sedih dalam tatap mata mereka?

Ketiga wajah bunda yang berlainan kota, yang demikian jauh sekarang.. Yang sudah meninggalkanku selamanya. Sebagian lagi yang masih mencari cari hatiku yang belum mampu digenggamnya kembali.

Hari ini adalah hari ibu. Hari yang special bagi para ibu….seharusnya. Karena tak semua ibu mampu merasakan kespesialannya di hari itu kurasa. Ibu dengan segala problema hidupnya. Dan mungkin anak-anaknyapun tak kan mengingatnya.
Aku tercenung, bagaimana dengan diriku sendiri? Akankah aku berpura-pura untuk tak selalu mengingat sosok-sososk penuh misterinya sendiri itu? Bagaimana aku akan menyikapinya? Bunda yang dekat denganku selama ini sudah meninggalkanku selamanya. Bunda yang selalu menyapa dengan sebutan “putri kecilku”, padahal aku sudah besar.

Bunda….aduhai bunda…Apakah dirimu sebenarnya sedang bereinkarnasi?
Mengapa dua sosok bunda lainnya tiba-tiba bermunculan dalam hidupku?
Mengapa sebuah document seakan berhak memisahkan dirimu dengan diriku?
Tak cukupkah alam yang berbeda kini telah memisahkan kita berdua?
Hingga aku tak lagi mampu menjangkau mu secara fisik., Berlari ke
pelukanmu saat petir berdentam di sore buram. Tak lagi mampu mengurai
rambut panjangmu dengan jalinan yang sempurna.

Bunda..duhai bunda…Siapapun engkau, namamu berlarian dalam benakku.
Biarlah waktu yang kan menghantarku menemukan kebenaran itu. Bagiku
sungguh tak penting mana kebenaran itu. Karena lewat hangatnya
suapanmu di mulut kecilku yang lahap menelan makanan yang kau
sodorkan, aku merasa sempurna menjadi anakmu.
Biarlah dua sosok bunda yang lain hadir merengkuhku. Karena hatiku
sudah kau bawa ke syurga sana. Bunda, ibu, mama, okasan, …sungguh aku
tak lagi terganggu dengan bayang-bayangmu yang menjadi bagian misteri
dalam hidupku….Karena segalanya memberiku hikmah tersendiri.

Kuakhiri tulisan ini dengan kehangatan baru yang mengurai. Menebarkan
wangi melati Seakan hadirkan sosok-sosok itu kembali. Bunda adalah
cahaya hidupku. Takdir memintaku memikirkan ketiga sosok bunda….lewat
tiga wajah yang sempurna…,

Note : dalam rangka menyambut hari ibu 22 des 2009