Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 02:44 WIB
Pertunjukan Wayang Semakin Dangkal
Irene Sarwindaningrum | jodhi | Selasa, 15 Desember 2009 | 22:36 WIB
|
Share:

Anggodo

YOGYAKARTA, KOMPAS.com--Pertunjukan wayang dinilai mengalami pendangkalan makna selama beberapa tahun terakhir. Hal ini karena inovasi wayang cenderung mengutamakan aspek pertunjukan namun melupakan sisi filosofis dan makna lakon pewayangan.

Hal ini muncul dalam seminar wayang Garap dan Makna di Universitas Gadjah Mada (UGM), Selasa (15/12). Pertunjukan wayang sekarang lebih mengutamakan pertunjukan wayang yang menarik dan spektakuler dengan mengandalkan teknologi modern, namun lupa makna dan nilai yang ingin disampaikan lakon wayang itu, tutur Sukisno, Kepala Seksi Penyajian dan Pengembangan Seni Budaya Taman Budaya Yogyakarta yang menjadi salah satu peserta diskusi.

Dari sisi pertunjukan, inovasi wayang telah berkembang dengan tata suara dan tata cahaya dengan peralatan modern. Bahkan, sejumlah pertunjukan wayang juga telah memadukan dengan tayangan film dan multimedia.

Akan tetapi, cerita wayang seringkali mengalami penyederhanaan dan pemadatan hingga kerap menghilangkan nilai dan ajaran kesempurnaan hidup yang menjadi inti dari wayang. Salah satu contohnya, kata Sukisno, tokoh Rahwana seringkali dihadirkan hanya sebagai tokoh antagonis semata. Padahal, Rahwana juga mempunyai karakter kesetiaan luar biasa yang tidak dimiliki tokoh-tokoh lainnya.

Menurut Dalang asal Surakarta Ki Purbo Asmoro, pendangkalan juga seringkali dalam penayangan pertunjukan wayang bayang-bayang di televisi. Wayang bayang- bayang yang dimaksud adalah wayang yang direkam dari balik layar hingga hanya terlihat bayangan wayang. Dengan metode ini, sabetan dalang tidak kelihatan, padahal di situlah salah satu letak keistimewaan dalang, tuturnya.

Selain itu, wayang bayang-bayang juga meniadakan corak warna dan kesemarakan panggung yang menjadi salah satu daya tarik utama pertunjukan.

Ki Purbo yang juga dosen Institut Seni Indonesia Surakarta itu menuturkan, semakin pendeknya waktu pertunjukan wayang juga seringkali menyulitkan dalang untuk mempertahankan kedalaman filosofis dalam lakon wayang. Untuk itu, seorang dalang harus semakin pintar mengatur membuat garapan lakon sehingga meskipun waktu sempit, nilai yang ingin disampaikan tetap ada, ujarnya.

Ketua Program Studi Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa Pascasarjana UGM Timbul Haryono mengatakan, untuk mencegah pendangkalan, berinovasi dan berimprovisasi, seorang dalang harus tetap berpegang pada nilai-nilai yang ingin dia sampaikan. Dengan berpegang teguh pada nilai-nilai ini, apa pun bentuk inovasi dan improvisasi tidak akan menghilangkan makna lakonnya, katanya.

Menurut Timbul, inovasi dan improvisasi dalam pertunjukan wayang justru harus dilakukan untuk mengikuti perkembangan zaman. Hal ini merupakan keharusan untuk melestarikan kesenian tradisional di zaman yang berubah dengan cepat ini. (IRE)

Sumber :
Kompas Cetak