Cerber FX Rydy Gunawan
“Roy…, ahh Roy…, sudah selesaikah kamu bercinta dengan istrimu? Terus apa yang kamu lakukan sekarang? Keluar kamar dan mengisap sebatang rokok? Membuka pintu dan duduk termangu di teras rumahmu sambil menenggak sekaleng bir? Apa yang ada di pikiranmu Roy?
Akukah? Atau kamu biarkan saja pikiranmu kosong-melompong karena tak ada lagi yang bisa kamu lakukan? Sering kamu bilang dulu betapa tak berdayanya sebenarnya manusia, aku ingat itu Roy dan kini aku mengerti ketakberdayaanmu adalah ketakberdayaanku juga.
O tidak, kupikir kamu tidak akan bengong seperti itu malam ini, kamu pasti memikirkan wabah mata yang malas dan berusaha untuk mencari data-data yang bisa kamu pelajari. Ya, aku yakin kamu melakukan hal itu sekarang. Mungkin hanya membaca seperti aku, atau mungkin browsing di internet, atau malah mungkin kamu sedang berada di jalanan, keluyuran melihat orang-orang yang menjadi korban wabah sialan ini!”
Dugaan Tania yang terakhirlah yang benar. Roy Pangaribuan selalu keluyuran setiap malam sejak wabah mata yang malas semakin meluas dan meningkat keganasannya. Berbeda dengan Yoe yang keluyuran di wilayah kehidupan malam seputar diskotik dan kafe-kafe, Roy memilih keluyuran di wilayah kehidupan malam di pasar-pasar tradisional yang sudah memulai aktivitasnya pada jam 11 malam.
Para pedagang sayuran, pedagang ikan, daging, dan buah-buahan mulai menurunkan dagangan mereka dari mobil-mobil pick-up sewaan dan menumpuknya di lapak-lapak sebelum mendistribusikannya pada pedagang pasar yang lebih kecil. Dengan mata yang selalu merah karena kantuk, orang-orang itu bekerja ketika setengah warga Jakarta tengah terlelap dan terbuai dalam mimpi-mimpi indah mereka.
Melihat orang-orang itu bekerja membuat Roy merasa semangat dan etos kerja dirinya yang dibangga-banggakan selama ini, menjadi kecil. Tak ada artinya dibandingkan dengan semangat dan etos kerja para pedagang di pasar-pasar tradisional itu. Bahkan dalam serangan wabah mata yang malas, para pedagang itu tetap berusaha melakukan kegiatan rutin mereka.
Roy takjub pada kerukunan dan solidaritas mereka yang membuat berbagai dampak wabah mata yang malas menjadi lebih terkendali dan tidak menimbulkan kekisruhan di antara mereka. Dalam kejadian yang baru saja dilihatnya, seorang kuli bongkar muat melemparkan kelapa hijau dari mobil pick-up ke kepala pedagangnya sampai dua kali dan membuat kepala pedagang kelapa itu benjol besar.
Tapi karena semua pedagang di pasar itu telah diberi penjelasan panjang lebar oleh Roy, pedagang kelapa itu bisa menahan emosinya meski hampir ia lepas kendali ketika kelapa kedua menimpa kepalanya dengan keras.

