Untuk Chairil (1)
tuan.
kemarin aku bermain bayangan
jauh dilubuk otak lugu
menanti nanti dirimu
yang dikubur 60tahun lalu.
tuan.
detik berputar tanpa malu
kapan kita bisa bertemu?
tuan.
taukah kau siapa aku?
aku si perangkai kata
seperti kau waktu muda.
sepi.
manis.
pedas.
perih.
amarah.
ditiap sisipan kata.
tuan.
detik berputar tanpa haluan
kapan kita bisa bertemu?
jangan katakan di kematian.
14 Oktober 2009
Untukmu Chairil (2)
bangun chairil
alam memanggil tubuhmu
ukiran tulisanmu terukir kembali
rajutan kata katamu menguak
di setiap insan pujangga muda
sayupan semangat menyala
kau dimana sekarang?
aku dalam perjalanan mimpi
membawa kretek siap dihisap
kau dimana sekarang?
aku dalam perjalanan mimpi
membawa tangisan negeri ini
kau dimana sekarang?
aku dalam perjalanan mimpi
membawa jeritan alam nusantara
kau dimana sekarang?
aku dalam perjalanan mimpi
jutaan huruf mulai kupikul
demi duduk bersama
merangkai manis setiap untaian kata
bersama sedikit air mata.
9 Agustus 2009
Harga mati
Berdiri teguh menantang
Tak sekalipun berbantah
Rasa takut tak pernah hinggap
Meski penjajah ribuan kakinya
Nyawa taruhanmu..
Tidak..
Kau tak mundur.
Bersiram darah itu keharusan
Serang.
Terjang.
Menembus hujan tak peduli
Menembus terik tak malu
Kobaran api merdeka membara
Membakar darah setiap jiwamu
Tua muda demi merah putih
Kan berdiri sampai kau mati.
9 Agustus 2009
Mulut palsu
Kau bilang ini tanah demokrasi
Kau bilang ini tanah surga
Tapi apa?
Hidup kami tumbuh layu
Sesak hati menanti janji
Lantang terucap kala dibawah
Diam malu kala di puncak
Terkubur rapi dalam mulut busukmu
Sambil duduk memilah uang
Sela rapat korupsi setiap hari
July 2009
Biodata :
Samuel E. L. Tobing; Mahasiswa Sosial Ekonomi Pertanian Unpad.
Aktif menulis sebagai karya kecil dan belajar pendalaman menulis puisi.

