Kamis, 18 September 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 18 September 2014 | 18:40 WIB
Kain Tenun Tradisional Mengandung Ayat Kehidupan
Penulis: Jodhi Yudono | Senin, 7 Desember 2009 | 21:31 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

Warta Kota/Pradaningrum
Contoh motif batik betawi

KARANGASEM, BALI, KOMPAS.com--Selembar kain tenun tradisional Indonesia memiliki kekayaan pembelajaran berbagai hal, mulai dari nilai tradisional, sosiologis, mempertahankan kehidupan, seni dan budaya, hingga sejarah dan proses pengembangan dan pengayaan suatu komunitas.

"Selain itu, yang juga tidak kalah penting adalah suatu yang sering kita lupakan, yang kami istilahkan sebagai sesuatu yang mengandung ’ayat-ayat kehidupan’," kata Ketua Persatuan Istri Tentara Kartika Chandra Kirana Daerah IX/Udayana, Tuti Pandjaitan, di Desa Sinduwati, Kabupaten Karangasem, Bali, Senin petang.

"Inilah yang sebetulnya mengukir keluhuran seni dan budaya kita di Indonesia," ia menjelaskan.

Bali, NTB, dan NTT, yang menjadi wilayah kerja pembinaan para istri tentara TNI-AD di lingkungan Komando Daerah Militer IX/Udayana, katanya, memiliki sangat banyak misteri kekayaan budaya berwujud kain tenun tradisional yang masih belum dikenali secara baik.

Banyak di antara kekayaan tenun itu yang telah punah sejalan perkembangan jaman, namun tidak sedikit pula yang masih bertahan dan dilestarikan hingga kini oleh komunitas pengembangnya. Bali sebagai misal, memiliki tenun ikat tradisional yang teknik pembuatan dan pemakaiannya masih mengacu pada tata cara tradisional.

Di Desa Sinduwati itu, Tuti Pandjaitan memimpin kunjungan para anggota Persit Chandra Kirana Daerah IX/Udayana ke satu sentra kerajinan tenun ikat Bali milik Gusti Ayu Oka Swastika. Mereka melihat secara langsung proses pewarnaan benang, penyusunan motif, penenunan, dan penyelesaian akhir.

Semua proses itu memakai cara tradisional, yang dipertahankan hingga kini sejak beberapa generasi sebelumnya. "Ini pusaka kami, tidak akan kami ubah penenunannya memakai mesin tenun mesin.  Untuk menenun selembar kain, seorang perajin perlu waktu sebulan atau lebih," kata Swastika.

Menurut Tuti Pandjaitan, "Dari selembar kain tenun itu, terkandung satu etos kerja, dedikasi,  dan ketekunan tiada putus dari tangan dan karsa para perajin yang membuatnya. Keunggulan citra rasa seni kain tradisional itu terwujud melalui perjalanan panjang dalam tradisi beragam, kaya, dan penuh makna."

Guna turut melestarikan kekayaan budaya nasional itulah, maka Komando Daerah Militer IX/Udayana bersama Kementerian Negara Kebudayaan dan Pariwisata akan menggelar malam "Bali Nusra Tangi 2009", di Hotel Discovery Kartika Plaza, Kuta, pada 12 Desember nanti. Itu adalah upaya untuk mengangkat keunggulan kain tradisional ini ke panggung internasional.

Beberapa perancang busana utama nasional menyumbangkan karyanya yang akan dibawakan para peragawati dan peragawan. Para perancang busana itu adalah Obin, Ghea, Samuel Wattimena, Oscar Lawalatta, dan Carmanita.

"Bisa dibilang, malam itu akan menjadi ’gong’ dari rangkaian kegiatan kami. Sebelumnya telah dilakukan lomba dan pembinaan kain tenun di Bali, NTB, dan NTT. Jurinya juga para ahli di bidang kain tenun tradisional. Tujuannya untuk meningkatkan mutu dan memperkaya material dan rancangan tradisional yang telah dimiliki yang akan bisa meningkatkan kesejahteran masyarakatnya," kata Tuti Pandjaitan.

Menurut dia, selama ini kebiasaan menghasilkan sesuatu yang instan cenderung mulai ditinggalkan oleh para pecinta busana. Dengan kata lain, nilai lebih satu busana boleh dijejaki mulai dari penyusunan bahan hingga penyelesaian akhir.

"Nilai lebih kini justru dimiliki kain-kain tradisional yang dikerjakan secara tradisional pula. Masyarakat perajin sebetulnya telah sangat akrab dengan itu semua dan inilah yang kami coba kembangkan," katanya.

Sumber :
ANT
Editor :
jodhi