Jumat, 10 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS.com
Jumat, 10 Februari 2012 | 07:51 WIB
Mata yang Malas (24)
| jodhi | Sabtu, 5 Desember 2009 | 13:48 WIB
|
Share:

shutterstock

Cerber FX Rudy Gunawan

Aku mengikuti langkah-langkah kecil keponakanku dengan bersijingkat tanpa suara di belakangnya.

Gadis mungil berusia 6 tahun itu selalu mempesonaku dalam setiap hal. Beberapa hari ini aku sengaja menginap di rumah adikku untuk melihat keadaan mereka dalam serangan wabah mata yang malas yang semakin meluas. Syukurlah, Btari, keponakanku masih sehat.

Matanya yang besar dan indah, dengan sorot lembut yang polos tetap seperti semula. Wabah mata yang malas mudah-mudahan tidak akan menyentuhnya.  Bagiku, yang paling penting untuk diperhatikan dan diselamatkan dari ancaman wabah mata yang malas adalah anak-anak seperti Btari.

“Doorr!” aku mengagetkan Btari dari belakangnya.
“Aahhh, Paman nakal, Paman nakal! Ibuuu, Paman nakal nih, Tari dikagetin!”
“Ssstt, jangan bilang Ibumu, ntar Paman dimarahin deh sama Ibu. Sini, kita kan friend? Ayo Tari sini.”
“Paman, apa sih sebenarnya wabah itu?”
“Wabah itu ya penyakit, tapi yang sekaligus menyerang banyak orang. Itu namanya wabah.”
“Oo, jadi itu ya yang namanya wabah?”
“Paman, Ibu bilang ayah terkena wabah ya?”
“Paman belum tahu pasti, tapi mudah-mudahan Ayahmu hanya sakit mata biasa, jadi akan segera sembuh. Btari jangan terlalu khawatir okay? Paman akan bantu mengobati ayahmu.”
“O ya, Paman punya teman dokter, siapa tuh namanya? Om Yoe ya Paman? Tari lupa, he-he, maaf ya Paman.” (Yoe selalu mengaku sebagai seorang dokter jika dikenalkan pada anak-anak)
“Nggak apa-apa. Ayo sekarang kita main petak umpet lagi yuk!”
“Paman yang jadi ya?”
“Okay bos kecil!”

Aku kemudian menutup mataku dan mulai berhitung.
“Satu…, dua…, tiga…, empat….”
Tiba-tiba, pada hitungan ke 5, aku menyadari betapa wabah mata yang malas mirip dengan permainan petak umpet. Kita menutup mata, orang lain bersembunyi, dan ketika kita membuka mata pada hitungan ke 10, mata kita yang kaget oleh sergapan cahaya tiba-tiba, tak bisa menemukan siapa-siapa di hadapan kita. Dalam beberapa kasus, aku melihat wabah itulah yang menjadi lawan kita dan memaksa kita untuk mencarinya setelah ia memaksa kita untuk menutup mata.

Suami adikku satu-satunya, sudah menunjukkan gejala terkena wabah mata yang malas. Gejala yang dialaminya belum terlalu parah, hanya mata yang memerah dan perih, tapi ia masih bisa melihat dengan benar meskipun apa yang dilihatnya kerap mengalami distorsi bentuk menjadi melengkung-lengkung atau memanjang seperti penggambaran sosok hantu dalam film kartun Ghost Buster.