Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 05:16 WIB
Balada Si Roy 109
| jodhi | Rabu, 2 Desember 2009 | 00:02 WIB
|
Share:

istimewa

25.
HOMESICK

-Petualang mana pun selalu ingat dan pulang
ke rumahnya
.
(pepatah lama)


***


BURUNG kuntul terbang bergerombol di langit, membentuk busur ke arah matahari tenggelam.

Beberapa dari gerombolan itu melesat ke depan menjadi anak panahnya. Lalu menyebar membentuk formasi bintang, atau menjadi kelompok-kelompok kecil, dan kemudian menyatu lagi menjadi kekuatan penuh.

Mereka seperti parade pesawat tempur yang sedang memamerkan kekompakan dan kelihaian para pilotnya dalam melakukan aerobatik.

Burung-burung kuntul itu sedang pulang ke sarangnya. Ketika pesawahan diselimuti warna lembayung, bapak tani menggiring kerbaunya sambil, memikul alat bajaknya. Dia sudah terbenam di lumpur seharian tadi. Sekarang dia merindukan masakan istrinya dan tak lupa menyiapkan dongeng buat anak-anaknya.
Dia juga pulang ke rumahnya.

Dan remaja bandel itu kelihatan kebingungan di sepanjang Jalan Surabaya-Banyuwangi. Dia beberapa kali menepi sampai lebih ke pinggir, karena bis-bis meniupkan angin kencang ke tubuhnya.

Sopir sekarang memang suka gila-gilaan mengemudikan kendaraannya. Seharusnya mereka diberi kesempatan untuk berpacu di Sirkuit Ancol, melawan Aswin Bahar. Pasti seru, tuh!

Roy betul-betul bingung dihadapkan pada pilihan: Terus ke timur, atau mundur lagi ke barat? Menuju matahari terbit memang dambaan hati, karena di sana kita bakal banyak melihat dan mengalami sesuatu yang baru. Ke tempat sang kehidupan muncul berarti kita bergerak dan menyongsongnya.

Jangan mengekor ke mana bola merah raksasa itu menggelincir, karena di situ kita dikendalikan dan tidak punya peranan apa-apa.

Akulah anak panah yang meluncur! Batinnya berteriak menirukan Khalil Gibran. Ya, akulah putra Sang Hidup yang rindu pada diri sendiri! batinnya lagi.

Sebuah bis berhenti tidak jauh darinya. Dari pintunya berhamburan anak-anak penerus bangsa. Tas menggantung di pundak mereka, seperti beban masa depan bangsa ini. Dan dari mulut mereka terdengar tawa riang, cerita-cerita lucu di sekolah tadi.
Mereka pun pulang ke rumah, Roy!

Lalu dia melihat ke dirinya sendiri. Setelan jeans lusuh membalut tubuhnya. Tangannya memegang rambutnya yang gondrong acak-acakan. Kusut! Dia meraba-raba setiap lekuk wajahnya. Seperti apa aku sekarang ini?