KOMPAS
Rabu, 10 Februari 2010 Selamat Datang  |     |  
Mata yang Malas (20)
Selasa, 1 Desember 2009 | 23:55 WIB
ilustrasi

Cerber FX Rudy Gunawan

“Ini demi kebaikan daerah kita saudara-saudara, karena jika daerah kita menjadi sorotan negatif maka yang rugi adalah kita semua juga! Bayangkan saja, masyarakat luas akan mengisolasi kita, menjadikan kita sebagai objek tontonan, atau bahkan melihat kita sebagai orang-orang terkutuk seperti para penderita kusta.”
“Lalu bagaimana cara kita mengatasi wabah itu sendiri?”
“Ya, apakah kita akan bisa mengatasinya sendirian? Tanpa bantuan dari pusat?”
Syam mengerahkan segenap kemampuan orasinya yang hebat. 
“Saudara-saudara, percayakan semua itu pada kami. Saya akan membentuk tim khusus yang beranggotakan para ahli mata terkemuka dari berbagai daerah secara diam-diam. Saya yakin tim tersebut akan mampu mengatasi wabah mata ini sesegera mungkin. Saya sendiri sebagai bupati akan terlibat langsung dan memimpin tim tersebut, nah sementara kami bekerja, saudara-saudara cukup menunggu hasilnya tanpa membuat pemberitaan apapun. Anggaplah wabah itu sudah tidak ada. Atau jika tetap harus menulis berita tentang wabah ini, tulislah wabah ini sebagai wabah yang tidak berarti, yang sama sekali tidak berbahaya. Ingat, saudara-saudara, ini demi kita semua, demi daerah kita, dan demi saudara-saudara sendiri.”

Syam berhasil menyakinkan para wartawan terutama karena sebagian besar wartawan itu kebetulan bisa disuap. Syam menyuap mereka semua dalam jumlah yang cukup besar. Setiap wartawan diberinya amplop berisi uang Rp. 500.000,- atau 10-15 kali lipat jumlah “amplop” yang biasa diterima wartawan di daerah Syam menjadi bupati pada masa itu. Koresponden koran-koran nasional  yang berada di daerah itupun, yang biasanya tidak mudah disuap, juga tergiur oleh “amplop” khusus dari Syam. Khusus untuk mereka, Syam memberi 2 amplop.

Syam akhirnya lolos dari wabah itu karena strateginya membendung informasi berhasil dilakukan. Wabah itu seakan-akan tiba-tiba lenyap. Koran-koran hanya memberitakan dalam kolom-kolom kecil bahwa wabah itu sama sekali tidak berbahaya dan korbannya juga sangat sedikit. Serius dan berbahayanya wabah itu diatasi Syam dengan strategi mengisolir para korban.

Mereka dikarantina di beberapa lokasi rahasia yang hanya diketahui oleh segelintir orang saja. Sebagian bahkan ditempatkan bersama para penderita gangguan jiwa di sebuah rumah sakit jiwa.  Syam bersama aparat-aparatnya, menggiring mereka tanpa peduli pada jerit tangis anak-istri-cucu para korban. Mereka semua diangkut waktu menjelang tengah malam atau dini hari sekali. Kepada keluarga para korban Syam tak menjelaskan apapun kecuali bahwa ayah, suami, atau kakek mereka harus diperiksa. Suasana pengangkutan itu mengingatkan sejumlah korban para peristiwa pemberontakan PKI tahun 1965.

Kepada Gubernur, Syam melaporkan bahwa semua korban wabah sudah ditangani dan diatasi dengan baik. Wabah sudah diisolir dan terbukti tidak berbahaya. Ketika Gubernur melakukan inspeksi lapangan, Syam membawanya pada beberapa korban secara acak. Gubernur pun puas melihat kesigapan dan kinerja Syam. Masyarakat luas dan pers tak pernah tahu bahwa sebenarnya ada ratusan korban wabah yang menjadi buta dan meninggal.

Masyarakat dan pers tak pernah tahu karena mereka meninggal bukan sebagai korban wabah. Mereka tercatat meninggal sebagai pasien rumah sakit jiwa, pasien penyakit ginjal, atau hanya meninggal karena usia tua.   Rahasia ini tersimpan rapat-rapat di pojok paling tersembunyi dalam ingatan Syam sampai saat ini. Sejumlah orang yang terlibat juga akan menyimpannya di tempat yang sama dalam diri mereka karena membocorkannya berarti menghancurkan diri mereka juga.

Peristiwa 10 tahun lalu itu, kini muncul kembali di benak Syam dengan jelas. Syam bahkan dapat melihat setiap detil dari peristiwa itu. Wajah-wajah para korban yang ketakutan, jerit tangis istri dan anak-anak mereka di antara suara angin malam yang bertiup kencang, wajah garang aparat-aparatnya, dan semua detil lain. Semuanya muncul kembali begitu ia dipilih dan diminta menjadi anggota TKWMM, dan ini membuatnya semakin sering merasa kesal, uring-uringan, dan tak berdaya. Apakah ini karma?

Editor: jodhi Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.