Cerber FX Rudy Gunawan
“Ntar jangan lupa sama aku ya Pram.”
“Eh, dik Pram, aku punya banyak rencana proyek pengentasan kemiskinan lho! enpemkamiskot kan?”
“Mas Pram tolongin si Tono ya, itu lho keponakanmu yang baru diwisuda dan belum dapat erja….”
“Nanti aku diajak jalan-jalan naik mobil dinasnya ya Om Pram? Volvo kan?”
“Pasti asyik banget tuh ya?”
“Aku benar-benar bangga sama kamu lho Pram. Selamat!”
“Selamat ya Pram!”
“Horee Om Pram jadi menteri, horee!”
“Horee Pakde Pram jadi menteri, hore-horee….”
Istri Pram berbinar-binar penuh kebanggaan dan kebahagiaan. Ia menerima setiap ucapan selamat dengan wajah ceria. Semringah sekali. Senyum lebar plus lesung pipit di pipi kirinya, terus mengembang seolah wajahnya membeku pada posisi senyum lebar itu. Seluruh situasi dalam acara arisan dan ditambah wajah istrinya yang membeku pada posisi senyum lebar, adalah alasan lain yang melatarbelakangi keputusan Pram untuk menerima jabatan sebagai Menpemkamiskot.
Nama ke 4: Roy Pangaribuan. Roy termasuk orang politik yang dekat dengan pusat kekuasaan tapi juga cukup dihormati oleh para aktivis, mahasiswa, dan rakyat banyak karena sikapnya yang cukup kritis. Filosofinya adalah melakukan perubahan dari dalam. Ikut arus sambil mencoba meluruskannya sedikit-sedikit. Aku membaca profil Roy dengan seksama. Fotonya yang agak buram, mungkin karena masalah tehnis di percetakan, membuat wajahnya menjadi tidak begitu jelas. Terutama di bagian hidung dan bibirnya. Roy, berwajah mirip Soekarno. Handsome, tapi ia tidak sepesolek Soekarno.
Penampilannya sederhana dan sering agak berantakan. Bahkan dalam wawancara khusus atau talk show di tv-tv swasta, Roy selalu tampil seadanya. Sepertinya, ia akan memilih tidak tampil jika dipaksa untuk mengenakan stelan jas atau pakaian perlente lainnya. Roy biasanya hanya mengenakan jaket untuk membungkus kemejanya yang lusuh. Penampilan seadanya itu semakin terkesan berantakan dengan rokok yang nyaris selalu menempel di bibirnya.
Aku melihat penampilan Roy sebagai penampilan orang depresi. Menjadi orang berprinsip dengan kekuasaan yang lumayan dalam genggaman, kurasa ibarat menjadi seorang pertapa dalam kerumunan 7 bidadari cantik, dan ini sumber depresi yang potensial bagi siapapun seperti hidup yang menjemukan, tak bertujuan dan tak berpengharapan. Saat melihat Roy di tv, aku selalu mencoba melihat matanya.
Aku ingin memastikan ada sorot depresi di matanya, entah itu keputusasaan, kemuakan, atau indikasi lain dari sorot sebuah mata yang depresi. Tapi Roy selalu mengenakan kacamata minus yang berlensa kecoklat-coklatan, seperti sengaja menghindari konfontrasi eye-to-eye dengan siapa saja.
Lensa kecoklat-coklatan itu membuatku tak pernah bisa melihat mata Roy sampai saat ini. Di koran yang kubaca, foto Roy tampaknya foto lama. Ia berkacamata tapi kacamatanya masih memakai lensa putih biasa dengan model agak kuno. Foto itu tak menjelaskan banyak tentang matanya karena selain buram, untuk dapat melihat mata seseorang, foto kurang memadai.
Untuk dapat “melihat” mata seseorang, yang paling sempurna adalah jika aku langsung melihatnya.
Selama ini aku hampir selalu benar “membaca” seseorang lewat matanya. Aku bisa “membaca” hal-hal elementer saja dari diri seseorang lewat matanya. Semacam watak-watak dasar saja. Lewat mata, aku bisa “melihat” apakah seseorang itu baik atau jahat, pengecut atau pemberani, oportunis atau tidak, bisa dipercaya atau pengkhianat, penjilat atau bukan, keras kepala atau justru sebaliknya.
Aku tak tahu darimana aku mendapatkan kemampuan “membaca mata” seperti itu. Seingatku, kemampuan ini muncul sekitar masa-masa aku beranjak dewasa. Sekitar usia 16-17 an tahun, justru ketika penglihatanku mulai terganggu dan aku mulai mengenakan kacamata minus. Saat itu, secara sambil lalu dan tiba-tiba kukatakan pada Yoe bahwa ketua OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah) yang baru, orangnya jahat. Yoe tak mempercayaiku.
“Darimana kamu tahu itu?”
“Dari matanya, aku melihatnya di mata dia.”
“Ah, gila kamu ya?”
“Nggak percaya ya sudah, tapi lihat saja nanti. Pasti omonganku akan terbukti.”
“Ha-ha-ha!”
Sekitar 6 bulan kemudian, omonganku ternyata terbukti. Ketua Osis baru itu menggunakan sejumlah anggaran tahunan kegiatan siswa untuk membeli sepeda motor bekas. Sekolah heboh oleh ulah koruptor kecil itu, tapi Yoe lebih heboh lagi mengabarkan kebenaran omonganku ke seluruh penghuni sekolah. Sejak peristiwa itu, Yoe menjuluki aku sebagai Si Pembaca Mata.

