Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 07:50 WIB
Sosok Rendra Diperkenalkan kepada Generasi Muda
Yurnaldi | made | Jumat, 27 November 2009 | 20:08 WIB
|
Share:

Kompas/Sujiwo Tejo
WS Rendra

JAKARTA, KOMPAS.com - Generasi muda, khususnya anak-anak sekolah, yang tidak bersentuhan langsung dengan almarhum WS Rendra dan karya-karyanya, perlu dan penting kenal sosok WS Rendra. Hanya dengan cara memperkenalkan kembali sosok Rendra, warisan Rendra bisa terus dipelihara dan diteruskan untuk masa yang tidak terbatas.

Ketua Pelaksana Festical Rendra Ratna Riantiarno mengatakan hal itu pada pembukaan Festival Rendra, Kamis (26/11) malam di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. "Rendra adalah sosok penting dalam kebudayaan Indonesia. Festival Rendra kami niatkan untuk memperkenalkan kembali sosok Rendra kepada generasi muda," katanya.

Ratna menjelaskan, Rendra yang lahir di Solo, 7 November 1935 dan berpulang karena sakit di Depok, 6 Agustus 2009, mulai berkarya dengan menulis puisi, berlanjut ke teater, terus melebarkan perhatiannya kepada lapangan sosial, politik, lingkungan hidup, dan kebudayaan pada umumnya. Sebuah pribadi yang sangat kompleks, penuh kontroversi, bisa dilihat dari sisi mana pun, untuk kepentingan apa pun, pada saat kapan pun.

Pada diri Rendra ditemukan sejenis ramuan yang unik: totalitas kesenimanan, karya yang bagus, kontekstual, dan banyak pengagumnya.

Malam pembukaan itu, sahabat Rendra, mantan menteri di masa Orde baru, Moerdiono, bercerita tentang awal kenalnya Mordiono dengan Rendra, yang terjadi sekitar 30 tahun lalu.

"Mulanya, Rendra minta jadwal bertemu. Saya laporkan ke Presiden Soeharto, atasan saya ketika itu. Saya yakinkan Presiden, bahwa lebih baik dapat kritik tajam daripada kritik yang menyesatkan. Ini saya katakan karena Rendra dikenal sebagai budayawan dengan kritik keras. Presiden, ternyata, tak keberatan," kata Moerdiono, yang ketika itu menjabat Menteri Muda Sekretaris Kabinet.

Pada pertemuan untuk pertama kali itu, karena hidangan yang tersedia untuk satu orang, akhirnya Moerdiono dan Rendra berbagi dua. Setelah itu, Moerdiono mengaku sering bertemu Rendra. Ia menilai, kritik yang sering dilontarkan Rendra melalui karya-karyanya, itu baik.

Kamis malam pada Festival Rendra itu, menampilkan pembacaan puisi oleh Adi Kurdi, Slamet Rahardjo, Renny Jayusman, musik, dan pertunjukan teater hasil workshop Bib-Bob , dengan peserta dari berbagai komunitas teater dan perseorangan di Jakarta.

"Workshop dimaksudkan untuk membangkitkan dan memperkenalkan kembali teater mini kata Bib-Bob kepada para pekerja teater generasi mutakhir, dengan narasumber para anggota Bengkel Teater yang mengalami langsung pementasan Bib-Bob pertama kali tahun 1968, seperti Chaerul Umam, Amak Baldjun, dan Putu Wijaya," kata Adi Kurdi.

Berlangsung hingga Minggu (29/11), Festival Rendra juga menampilkan kegiatan lain seperti diskusi, pameran, pemutaran film, pertunjukan teater, pembacaan puisi, esai, dan monolog, serta lomba baca puisi untuk siswa SLTA.