
JAKARTA, KOMPAS.com - Dramawan terkemuka Putu Wijaya, Sabtu (28/11) pukul 19.30 WIB, di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini Raya, Jakarta akan mementaskan Monolog Burung Merak.
Pementasan tersebut, merupakan pementasan terakhir Putu Wijaya bersama Kelompok Teater Mandiri yang dipimpinnya, setelah roadshow sejak 8 November di 13 tempat di Jawa dan Bali, yaitu di Bandung, Pekalongan, Semarang, Kudus, Yogyakarta, Solo, Unair (Surabaya), Mojokerto, Jombang, Metropoklis Apartemen Surabaya, Universitas Ma Chung Malang, dan Singaraja (Bali).
Selain monolog Burung Merak yang menceritakan tentang beberapa pemikiran Rendra yang mendasar, juga ada monolog Merdeka/Raksasa/Zetan/Bumi Tersedu/Poligami yang mendapat inspirasi dari pemikiran-pemikiran itu. "Sejumlah anggota Teater Mandiri, seperti Tanty, Kardi, Bei, Alung Seroja, dan Imam Soleh, membacakan sajak-sajak Rendra," kata Putu Wijaya, Jumat (27/11) di Jakarta.
Menurut Putu Wijaya, keberanian Rendra melawan kekuasaan yang mencengkeram kebebasan berekspresi, berpendapat dan memilih pandangan, usahanya untuk mempertimbangkan kembali tradisi yang sudah terkontaminasi, ajakannya untuk gagah dalam kemiskinan, pantang menyerah, serta memilih sudut pandang baru, sering terlupakan.
Hal itu terjadi karena dokumentasi dan pengkajian sejarah merupakan sesuatu yang rentan dalam kehidupan kini. "Karena itu, Teater Mandiri berniat untuk menghidupkan pemikiran-pemikiran almarhum dalam posisinya sebagai empu," jelasnya.