KOMPAS
Rabu, 10 Februari 2010 Selamat Datang  |     |  
Mata yang Malas (15)
Selasa, 24 November 2009 | 18:14 WIB
ilustrasi

Cerber FX Rudy Gunawan

Sampai break makan siang, baru 4 orang anggota yang berbicara. Anggota lain banyak yang terpaksa menahan geram karena belum juga mendapat kesempatan bicara. Hanya Doktor Filsafat itu yang menyimak semua pendapat dengan tenang tanpa bernafsu untuk berbicara. Yoe memperhatikan dari tempat duduknya. Ia menunggu lontaran pendapat sambil lalu dari doktor eksentrik itu tapi sampai waktu break tiba, doktor itu belum melontarkan apapun. Di ruang makan siang, semua anggota makan sambil membahas dengan serius rapat sesi pertama. Mereka berkelompok menurut kepentingan masing-masing.

Sementara anggota TKWMM  istirahat makan siang di hari rapat kerja pertama, puluhan pedagang asongan mulai menjajakan koran sore yang baru selesai dicetak. Headline koran sore bertajuk: “Pemerintah Bentuk Tim Khusus Penanggulangan Wabah Mata yang Malas”. Aku membeli koran itu di lampu merah perempatan Jl. Thamrin dari seorang bocah penjual koran yang kurus dan dekil.  Bocah itu tampaknya sudah terkena wabah mata yang malas. Ia mengembalikan uang lima ribuan yang kuberikan dengan lima ribuan lainnya. Aku mengembalikannya lagi dan seperti di film-film kukatakan padanya agar mengambil kembalian uang itu.
“Simpan duitmu baik-baik, minta uang pas saja pada orang-orang yang membeli koranmu.”
“Ya Om, makasih Om.”

Hanya itu yang bisa kulakukan. Aku tak tahu bagaimana harus mengatakan pada bocah itu bahwa matanya sudah terkena wabah mata yang malas. Aku juga tak bisa membayangkan bagaimana jika dia terus salah memberikan kembalian dalam jumlah lebih besar.

Tak ada yang baru dalam berita utama koran sore itu. Satu hal yang menarik justru sambungan berita itu di halaman 11 yang menampilkan profil 20 anggota TKWMM lengkap dengan pas fotonya.  Dicomot dari berbagai latar belakang, mereka sebagian adalah orang-orang politik, baik “orang lama” yang masih bercokol maupun para new comer yang sedang begitu gigih dan bersemangatnya bermain di panggung kekuasaan.  Sebagian lagi, adalah “orang-orang netral” yang pengertiannya bisa diinterpretasikan sangat luas. Netral bisa berarti tidak punya sikap yang jelas, bisa berarti oportunis, bisa berarti tidak peduli pada wilayah politik, dan bisa juga netral dalam arti mengatasi segala kelompok, gap, atau bahkan ideologi. Kulihat para anggota TKWMM kategori netral ini, cenderung merupakan orang-orang netral dalam pengertian tidak peduli pada wilayah politik.

Selain wajah Yoe yang sangat kukenal, sejumlah wajah lain juga adalah wajah-wajah yang tidak asing bagi masyarakat Jakarta.  Wajah orang-orang politik anggota TKWMM yang cukup populer antara lain Ahmad Trisna, Mansyur Jali, Pramudya Ansori, Roy Pangaribuan, dan Asep Syamsudin. Ahmad Trisna, lengkapnya Ahmad Sutrisna Purwanto, mencuat namanya sejak era reformasi. Ahmad seperti muncul begitu saja dari permukaan bumi. Sebelum reformasi, masyarakat tak pernah mendengar namanya. Reformasi atau apapun namanya, menjadi momentum kemunculan lelaki kelahiran Magetan, Jawa Timur, tahun 1968 ini, dalam lembaran sejarah politik sebuah bangsa bernama Indonesia. Banyak nama-nama lain yang juga tercatat sebagai anak-anak reformasi dalam lembaran sejarah politik Indonesia.

Bagaimana mereka muncul dalam lembaran itu berbeda cara satu sama lain. Namun secara mudah bisa dikelompokan dalam 2 kategori. Pertama adalah kelompok nama-nama yang muncul karena kesadaran sejarahnya yang begitu tinggi dan dengan berbagai upaya mencoba mencatatkan namanya dalam lembaran bernama sejarah itu. Lalu kelompok kedua adalah nama-nama yang muncul karena sejarah memang memilih mereka.

Editor: jodhi Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.