Rabu, 3 September 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 3 September 2014 | 06:02 WIB
Sutardji Calzoum Bachri : Pengusaha Butuh Ventilasi Dalam Puisi
Penulis: | Selasa, 24 November 2009 | 03:42 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

istimewa
Butet dan Clara Shinta ikut membacakan puisi karya Slamet Widodo

Pengusaha butuh ventilasi atas situasi yang dihadapinya, dan pilihan seorang Slamet Widodo yang pengusaha pada puisi adalah hal yang wajar. Lewat puisi-puisinya ia bertutur tentang kehidupan sehari-hari dalam bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti.  

Demikian dikemukakan oleh Presiden Penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri ketika memberikan sambutan singkatnya saat peluncuran kumpulan puisi “Simpenan” karya A. Slamet Widodo, Jumat malam (20/11) di Warung Apresiasi (Wapres), Bulungan ,Jakarta Selatan. Puisi berjudul “Simpenan” sendiri dibacakan oleh monolog ternama, Butet Kartaredjasa yang sempat berkomentar nakal “Pengusaha pura-puranya bikin puisi padahal membuat catatan harian”.

Peluncuran itu ditandai dengan penyerahan buku oleh Slamet Widodo kepada Sutardji yang mewakili penyair, Antok Baret (pimpinan Wapres), Bens Leo (musik), Nugroho Suksmanto (pengusaha) dan Johannes Sugianto (Sastra Reboan) usai penampilan menawan dari Butet yang berduet dengan Clara Sinta membaca puisi “Mbah Darmo Gandhul”. Duet Butet dan puteri penyair besar Rendra ini mampu menghanyutkan pengunjung pada alam perenungan perjalanan hidup sepasang suami isteri yang telah menikah selama 60 tahun lamanya.

Dalam pengantarnya di buku yang terbilang mewah untuk kumpulan puisi, Butet Kartaredjasa mengatakan bahwa pengalaman personal sebagai pelaku bisnis memungkinkan Slamet membawa kata-kata bertamasya ke jagat lain. Dengan lincah dia memainkan dan memperlakukan kata-kata. Termasuk memperlakukan “secara  tidak senonoh”. Karena itu setiap kata yang semula seperti tak memunyai kekuatan apa-apa, begitu diseret dan diletakkan dalam konteks jagat yang baru, jagat Slamet Widodo, kata-kata itu jadi bersayap. Mengandung makna baru. Namun, lanjut Butet, “kelucuran” dalam sejumlah puisinya, masih memperlihatkan betapa Slamet rada sembrono memperlakukan dan mendudukan kaum perempuan.

Acara yang dipandu oleh Sinta, Herwin dan Joko itu diawali dengan penampilan duo penyanyi cilik yang tergabung dalam S2S dalam lagu “Ibuku” dan “Indonesiaku”. Penyair Rukmi Wisnu Wardhani tampil memikat lewat pembacaan dua puisi “Puisi Babu kepada Ndaranya” dan “Puisi Ndara kepada Babunya”. Hal serupa juga ditampilkan oleh Bambang Sugianto yang membuat puisi “Ratu Adil” lebih hidup dan berbicara.

Puisi lainnya yang ditampilkan adalah “Bus di Metropolitan” oleh Ferdy dari penyair jalanan dengan permainan vokalnya yang cukup menarik sebelum penyanyii Fia dan Sintamar, membawakan lagu dari puisi Slamet Widodo yang sebelumnya telah menerbitkan kumpulan puisi Potret Wajah Kita (2004), Bernapas dalam Resesi (2005), Kentut (2006), dan Selingkuh (2008).

Usai peluncuran bukunya yang keenam itu, Slamet Widodo sendiri tampil membaca dua puisinya. “Puisi Tengah Malam” sudah mengundang gelak tawa karena hanya satu kata saja “Sateeee”, sebelum gerr berlanjut saat ia membawa puisi “Susu”. Ia sendiri tampak menahan geli ketika membacakan puisinya yang diselingi dengan jargon “ah mosok” yang sudah banyak dikenal pengunjung Wapres, terutama saat tampil di Sastra Reboan.

Di penghujung acara, beberapa musisi ber-jam session membawakan karya-karya Slamet Widodo yang berlangsung hingga tengah malam. (gie)

Editor :
jodhi