Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 05:16 WIB
Balada Si Roy (103)
| jodhi | Selasa, 24 November 2009 | 01:34 WIB
|
Share:

istimewa

Si bandel memang paling tidak bisa berdiam diri kalau ada ketidakadilan di depannya. lni bukannya sok jagoan. Bukan. Ini, mungkin, terdorong oleh sifat petualangannya, rasa keingintahuannya.
"Kurang ajar!" tangan si kumis sudah menampar wajah Roy. Tapi dengan gesit, Roy berkelit ke samping. "Melawan, ya?!" dengan geram si kumis menyerbu.
"Sabar, Man!" kawannya mencekalnya. "Tahan emosimu, kenapa?!"
"Aku muak dengan pekerjaan ini, Dro! Cepat bereskan!"
"Ya, ini sedang aku bereskan!" hardik Hendro.
"Kerjamu lambat!" Leman mengumpat kesal.
Mereka mulai tidak kompak dan bersitegang.
"Sebetulnya pekerjaan ini bertentangan dengan nurani Mas-mas sendiri, kan?" Roy menyindir mereka.
"Kataku, diam!" Leman sudah tidak bisa mengendalikan emosinya. Dia menghajar si bandel tanpa ampun.
Roy tersungkur. Dia mengerang. Meradang. Darah remaja dan naluri berkelahinya naik ke ubun-ubun. Dia sadar bahwa, si kumis ini memang bukan lawan yang sepadan. Tapi sebuah perlawanan harus diberikan, agar dia tidak menjadi bulan-bulanan. Tidak jadi kaum yang tertindas, di mana si lemah selalu harus kalah oleh si kuat.
"Nekat juga ini anak!" Leman mendesaknya ke tembok.
"Sudah, Man!" Hendro melerai. Dia iba juga melihat remaja nekat yang babak-belur ini.
Nuni hanya berteriak-teriak sambil menggendong si kecil.
"Mau lagi?!" Leman mengasongkan tinjunya dengan gemas. Lalu melepaskan cekalannya, sambil membalikkan badan.
Dasar si Roy memangbandel dan nekat. Ketika si kumis membalik badan tadi, dia melayangkan tinjunya ke wajah si kumis brengsek. Sekuat tenaga dia melakukannya. Lengkap dengan amarahnya.
Yang terjadi kemudian, Leman tersungkur. Bibimya pecah berdarah. Dia mengerang geram, dan matanya nyalang dibokong begitu. Dia langsung hendak menerjang.
Hendro buru-buru menahannya. "Biar aku beresi, Le!" dia menggeleng-gelengkan kepalanya.
Nuni menggigit bibir. Dia mundur dua tindak, sambil mendekap erat-erat bayi mungilnya.
"Diam di situ, Mas!" hardik Roy geram.
Suaranya menggelegar, membuat semua t:erkesima, terpaku pada tempatnya. Teriakan Roy tadi bagai halilintar. Ada kekuatan dahsyat di dalamnya. "Aku tidak takut mati, Mas!" dia sudah nekat sekali.
"Sudah, sudah, Roy!" teriak Nuni melindunginya. Si kecil dalam gendongannya menangis meronta-ronta. "Maafkan Mbak sudah menyusahkan kamu, Roy." Tangisnya ikut meledak.
"Kita bicarakan baik-baik, Nyonya," Hendro menenangkan suasana.
"Kalian tega memukuli dia!" Nuni menuding mereka dengan berang.. "Di mana rasa manusiawi kalian, heh"
"Serahkanlah anak Nyonya pada kami. Kakek-neneknya akan mengurusnya baik-baik. Dia akan menjadi seorang cucu yang disayang oleh mereka," Hendro mencoba memegang kepala si kecil, tapi Nuni menghindar.
"Kasihan suami Nyonya. Dia juga sama menderitanya seperti Nyonya. Orang tuanya tidak setuju kalau dia kawin dengan Nyonya. Karena itu, jalan keluar yang terbaik, ya... seperti inilah, Nyonya," Hendro berbicara lagi.
"Tidak! Kataku tidak, tidak!" teriak Nuni terisak-isak. "Katakan pada mereka pada suamiku. Uang boleh melimpah mereka punyai! Berapa pun mereka tawarkan padaku, aku tetap pada pendirianku semula!
"Akan aku urus sendiri anak ini!"
"Apa Nyonya tidak kasihan kepada orang kecil semacam kami? Yang kalau tidak menjalankan perintah majikannya berarti akan kehilangan pekerjaannya?" Hendro melemparkan persoalannya sebagai orang kebariyakan.
"Aku lebih baik memilih dipecat, Mas, daripada memilih pekerjaan kotor begini," Roy ikut campur lagi.
"Aku tidak bicara sama kamu, Dik," tegur Hendro.
"Anak ini sok pintar!" Leman semakin berang mendengarnya. Sepertinya dia ingin menerkam si bandel.
"Tono, suamiku, mana dia?"
"Dia tidak bisa berbuat apa-apa, Nyonya. Dia lelaki pengecut! Yang tidak berani menghadapi kenyataan!" Hendro memaki kesal. "Kalau dia ikuti pendirian Nyonya, dia takut akan kehilangan segala-galanya.
"Kehilangan keluarga dan harta warisannya!" sinis sekali suara Hendro barusan.
Kemudian Hendro mendekati Nuni. Berusaha membujuknya agar mau menyerahkan bayinya. Nuni mempertahankannya sambil meronta dan berteriak-teriak. Hendro tampaknya sudah kehilangan kesabarannya. Tadi dia sudah dengan cara halus tidak berhasil. Apa boleh buat, kini dia mulai dengan cara kasar.

Roy buru-buru mencegahnya. Tapi Leman mencegahnya. Menghadangnya. Roy melawan. Mereka bergumul. Beberapa pukulan si kumis itu melayang ke arahnya. Pada mulanya Roy masih bisa menangkis dan membalas dengan pukulan serta tendangannya. Tapi akhirnya, dia jadi bulan-bulanan.
Si bandel terbentur ke tembok. Tiba-tiba, akhirnya, dia merasa ada awan hitam menggayut di pelupuk matanya. Semuanya jadi berubah gelap. Berputar-putar. Dia terhuyung-huyung. Dan jatuh tergeletak.
Nuni histeris melihatnya, dan hanya bisa menyesali nasib.