Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 03:22 WIB
Mata yang Malas (13)
| jodhi | Minggu, 22 November 2009 | 01:22 WIB
|
Share:

ilustrasi

Cerber FX Rudy Gunawan

“Sekali lagi, saya harapkan saudara-saudara bekerja dengan sungguh-sungguh. Selamat bekerja.”
“Baiklah saudara sekalian. Demikian tadi sambutan dan petunjuk dari Saudara Menteri Pertahanan selaku penanggungjawab TKWMM. Sekarang, saya selaku ketua TKWMM membuka dan memulai rapat ini. Mari kita mulai rapat kerja pertama kita. Notulis siap? Coba tuliskan dulu agenda rapat kita hari ini, ‘penentuan nama wabah’. Pilihan pertama, ‘wabah mata yang malas’ dan pilihan kedua, ‘wabah mata yang membangkang’, pilihan lain akan disusulkan dalam kesempatan pertama rapat ini. Sebelumnya, akan dibuka forum untuk memberikan berbagai pandangan terhadap wabah ini guna mencari istilah yang paling tepat. Setiap anggota berhak untuk memberikan pendapatnya. Silakan!”
“Ketua, saya usul.”
Seorang anggota dari perwakilan sebuah partai politik langsung menyahut.
“Silahkan, sampaikan pendapat Saudara dengan jelas dan singkat.”
“Baik Ketua. Pertama-tama saya bermaksud mengingatkan bahwa hal yang paling penting dalam penentuan nama ini adalah aspek politiknya. Apapun nama yang dipilih harus mempertimbangkan situasi politik saat ini seperti misalnya nama itu tidak boleh berbau diskriminatif, baik suku, ras, maupun agama. Nama mata yang sipit misalnya, jelas mengandung unsur SARA. Partai kami akan keberatan dengan nama tersebut….”
“Apa usulan atau pilihan Saudara sebenarnya, kita semua tahu SARA itu dilarang.”
“Baik Ketua. Hal kedua yang juga penting untuk digaris bawahi adalah konstelasi politik dan komposisi kekuatan-kekuatan yang berperan dalam pemerintahan kita. Ingat, kita tak bisa seenaknya saja mengabaikan kekuatan-kekuatan kecil atau sisa-sisa kekuatan Orde Baru yang kita tahu masih eksis di….”
“Saudara, harap langsung pada istilah pilihan atau usulan Saudara!”
“Baik Ketua. Terus terang saya belum punya pilihan atau usulan istilah baru, saya hanya bermaksud….”
“Cukup. Saya berikan kesempatan pada anggota TKWMM yang lain untuk bicara.”
“Tapi Pak Ketua….”
“Cukup, Saudara. Ya, silahkan Saudara dari aspek kajian budaya!”
“Terimakasih Ketua. Saudara-saudara sekalian, kita harus memakai kerangka pendekatan yang holistic untuk mencari istilah yang tepat bagi wabah ini, wacana analitis, psiko-sosial, dan ontologis….”
“Maaf, saudara dari aspek kajian budaya, harap Saudara menggunakan istilah-istilah yang umum. Ini bukan forum ilmiah Saudara.”

“Begini maksud saya Ketua. Suatu istilah tidak dapat dilepaskan dari sistem nilai yang berlaku di masyarakat. Politik bahasa yang dilakukan pemerintah Orba adalah contoh betapa bahasa telah menjadi alat kontrol yang efektif dalam menjinakkan potensi-potensi perlawanan yang ada dalam masyarakat. Eufimisme yang diterapkan dalam bahasa Orde Baru bisa menjadi studi yang menarik.

Kita bisa memulainya dari teori filsafat tentang pemahaman yang dikembangkan dari sumber Hegelian/Marxis….”
“Saudara, sekali lagi saya ingatkan agar Saudara tidak menggunakan istilah-istilah yang hanya dimengerti oleh Saudara sendiri!”
“Dan jangan bicara tentang Marxisme!”
Yoe tiba-tiba menambahkan dengan suara lantang membuat Ketua melirik tak senang ke arahnya.

“Maaf Ketua, saya hanya mengingatkan.”