23.
TRILOGI (part tree)
di bumi kedap suara begini
mau bilang apa?
kata-kata terucap hampa
atau sembunyi di batik kalbu
ah, ingin aku tak acuh
tapi kupingku malah jadi sakit
aku meronta
alam kebisingan diri
(Rys Revolta)
***
SI BANDEL terlonjak kaget dari lamunannya. Dia memandang ke pintu deng.an cemas. Seolah-olah ada yang menakutkan di sana. Dengan bersijingkat dia menuju pintu.
Gedoran di pintu terdengar lagi.
"Gimana, Roy?" Nuni memeluk permata hatinya dengan gelisah.
"Sssst!" Roy menempelkan telunjuk ke bibirnya.
Si kecil tiba-tiba menangis. Nuni kelabakan dibuatnya.
Gedoran tambah keras lagi, sehingga pintu yang terbuat dari triplek seperti mau jebol saja.
Orang-orang yang sedang asyik tidur di kamarnya malam itu hanya sempat menggeliat lalu meneruskan tidur lagi. Ada memang yang memasang telinga lebar-lebar atau bertanya-tanya: Ada apa? Hanya sebatas itu saja. Mereka mikir-mikir dulu kalau mesti ikut campur-tangan.
"Buka saja, Roy," Nuni pasrah sekali. Dia berdiri, membaringkan si kecil, yang tampak begitu gembira.
Tangannya yang mungil bergerak-gerak. Menggemaskan bagi yang melihatnya.
Ah, tegakah kita melukai si kecil yang belum tahu apa-apa?
Baru saja Roy membuka kuncinya, kedua orang yang memata-matai tadi mendorongnya dengan kasar.
Roy kecut sekali terpelanting. Pintu mereka tutup lagi.
"Ada apa lagi, heh?" berani sekali Nuni menghardik mereka.
"Tuan Bambang tetap pada tawaran semula," kata yang berkumis.
"Aku nggak peduli Tuan Bambang! Mana Tono, suamiku? Apa katanya tentang nasibku ini? Istrinya?!"
Rupanya Tuan Bambang, ayah suami Nuni, yang memegang peranan dalam kemelut rumah tangga ini.
Tapi, mana Tono? Kenapa dia tidak muncul?
"Apakah Tono, suamiku, disekap ayahnya? Sehingga dia tidak bisa berbuat apa-apa? Atau dia pura-pura bego saja, dengan apa yang telah dilakukan ayahnya terhadap istrinya?
"Kalau mereka sama gilanya, bilang sama mereka, aku juga tetap pada pendirian semula!" napasnya turun naik saking emosi. Dia bertolak-pinggang menghadapi kacung-kacung itu.
"Nyonya!" si kumis menyerobot. Tapi kawannya yang lebih kalem menahannya.
"Maafkan kami, Nyonya. Kami hanya pesuruh. Kami paling tidak suka bertindak kasar kepada wanita.
Karena itu, janganlah Nyonya mempersulit diri," katanya tenang sekali.
"Bagus itu!" Nuni tertawa hambar.
"Jadi, Nyonya setuju?" dia merogoh saku celananya. Sebuah amplop yang tebal isinya, ada digenggamannya. "Bagaimana, Nyonya?" amplop itu disodorkannya.
"Siapa yang bilang aku setuju?" Nuni berang sekali.
"Ayolah, Nyonya! Jangan berbelit-belit begitu!" si kumis tambah sewot. Dia memang gampang bertindak kasar, kalau pekerjaannya dihalang-halangi orang.
Roy memandang iba kepada nyonya muda itu.
"Apa Mas-mas tega, melihat seorang ibu yang kehilangan anaknya, karena dipaksa?" Roy mulai ikut campur ke dalam persoalan mereka.
"Diam!" si kumis membentak. "Kamu cah cilik, tahu apa heh?!"
Roy tersenyum, "Saya, tahu apa?" pancingnya.
"Bukankah Mas disuruh Tuan Bambang, ayahnya suami Nyonya ini, untuk mengambil anaknya dengan ditukar beberapa lembar uang?
"Bukan begitu?
"Ini pemaksaan, Mas! Kalau kami lapor polisi, Mas-mas bisa ditangkap! Dipenjara!" Roy mulai sok tahu.

