
GOOD SHEPPARD
Aku bersembunyi
di antara kupu-kupu
menggerombol dan menari
berputar dan terbang
untuk menghindari wajah Mu
Aku berbaur
dengan kunang-kunang
berkamuflase memberi terang
berputar dan terbang
untuk menutup suara Mu
Tapi Engkau turut menggerombol
tapi Engkau turut berbaur
menari dan bernyanyi
berkamuflase memberi terang
bersama ku
Aku memeluk lutut
membeku seperti batu
Engkau malah menggendong ku
IBU, AKU DATANG MENGADU
Ibu,
aku datang pada Mu
bersimpuh sujud di ujung kaki Mu
minta di manja, di pangkuan Mu
tapi sungguh aku malu
Ibu,
aku mau saja mencuci kaki Mu
dengan setiap tetes air mata
dengan setiap peluh keringat
dengan setiap bulir darah
yang membuncah ruah
dan menyekanya dengan muka ku
Ibu,
dari setiap bulir kehormatan
yang mendaraskan doa dan pengharapan
dari setiap syair dan nyanyian
yang mendengingkan pujian dan keagungan
aku menyapa Mu
mengharap kasih Mu
mengharap dukungan Mu
mengharap penghiburan Mu
Ibu,
kemana harus ku lempar gemetar ini ?
di mana harus ku tampung gelisah ini ?
kepada siapa harus ku nyatakan resah ini ?
Ibu,
jika aku harus menangis
mau kah Engkau menangis bersama ku ?
jika aku harus merintih
mau kah Engkau menjadi pemulih ?
mau kah Engkau memeluk ku ?
Ibu,
aku tidak bisa berhenti menangis di pangkuan Mu
aku tidak bisa berhenti mengeluh di peraduan Mu
aku tidak bisa berhenti merintih dalam sujud ku
aku tidak bisa menelan gelisah ini
aku tidak bisa memendam gemetar ini
aku tidak bisa menghapus rasa ini
aku tidak bisa mengerti
Ibu,
aku tenggelam
Ibu,
aku hanyut
BAGAIKAN ANAK KECIL (01/02/08)
Aku bagaikan seorang anak kecil
yang menari-nari sepanjang hari
yang menyanyi dengan senandung tak berarti
karena bahagia merasa di cinta
karena bahagia ada yang menjaga
Bagai anak kecil yang belajar berjalan
Kau menuntun ku agar tak jatuh terluka
Bagai anak kecil yang senang membantah
Kau menimang ku tiada lelah
Ketika ku tutup telinga ku
agar tak terdengar suara Mu
Kau beri aku gambar yang terang
agar aku melihat kedamaian yang benar
Ketika ku pejam mata ku
karena malu memandang Mu
Kau lunakkan hati ku
dengan lagu dan kisah-kisah lugu
Aku bagaikan anak kecil
yang sering lupa karena di manja
yang tahu tak kan dibiarkan terluka
yang terlalu senang karena di cinta
KEMBANG SEPATU UNTUK MAKAN MALAM (26/05/08)
Aku membawakan mu
sekuntum kembang sepatu
yang merahnya seharum bau tubuh mu
yang mekarnya seranum ujung pipi mu
Sekuntum kembang sepatu dari ku
akan ku selipkan di balik telinga mu
menyibakkan rambut ikal mu
hingga nampak seluruh keceriaan dan manja mu
Akan ku bawa engkau ke tempat tertinggi
di atas awan di langit yang tinggi
di tempat banyak orang yang menunggu sambil memamerkan gigi
Tidak lah perlu kau mempersiapkan diri
dengan pakaian hitam penuh aksi
dengan selop ber hak tinggi
dan menggantung tas kecil berkelas luar negeri
Aku hanya perlu
hati mu
untuk menemani kita
untuk menikmati makan malam kita
di tempat tertinggi
di atas awan di langit yang tinggi
Biar saja sekuntum kembang sepatu
yang menjadi hiasan
yang menghiasi hati
BINTANG
Aku terhenti sejenak
Kaget.....
Semalam aku kehilangan 2 bintang
Yang biasa aku hitung
Untuk menemani malam-malamku
.......
Aku terdiam
masih kaget....
Ternyata bintang itu ada di matamu
Berbinar
Indah sekali..
KASMARAN (16/11/07)
Memandangmu 2 detik saja,
aku sudah mabuk kepayang.
Menikmati senyummu, hanya sekilas saja,
aku merasa melayang di awan
Mendengar tawamu, yang renyah
Jantungku berdegup gelisah
Duhai...aku kasmaran
KETIKA ENGKAU TERPEJAM (Feb 2008)
Ketika engkau terpejam
aku mendengar ada senyum di bibir mu
aku melihat ada tawa di garis mata mu
aku merasa ada gelinjang riang di bahu mu
aku diterpa harum bau tubuh mu
Ketika engkau terpejam
aku melihat indahnya malam
dengan bulir keringat berkeriapan
ditingkahi sinar rembulan
merajai sunyi
Ketika engkau terpejam
setiap helai rambut di sela jemari ku
terhitung dalam bilik keharuman
setiap kecup mesra di kelopak mata mu
adalah kesegaran
setiap desah yang berhamburan
adalah hulu kehidupan ku
--------
Bayu Sih Hanggoro. Lahir di Jakarta tahun 1971. Bekerja di sebuah bank besar. Menyukai puisi sejak dalam kandungan karena sering dinyanyikan dan dibacakan sajak doa oleh Ibu dan Ayahanda tercinta.
Lebih menyukai sajak dan puisi ketika mengenal dengan baik mahluk perempuan. Kecanduan menulis dan membaca puisi karena ingin lebih mencintai.