Cerber FX Rudy Gunawan
“Sebenarnya, apa sih wabah ini? Bahkan namanya pun kita kan belum tahu….”
Semua orang tersipu-sipu mendengar lontaran sambil lalu doktor filsafat lulusan Universitas Leiden itu.
“Anda betul sekali Doktor, bahkan namanya saja kita belum tahu ya?”
Akhirnya, berkat lontaran sambil lalu doktor filsafat itu, sidang memutuskan bahwa agenda rapat kerja pertama adalah penentuan nama untuk wabah tersebut. Nama sementara yang diusulkan adalah wabah mata yang malas, usulan kedua adalah wabah mata yang membangkang. Yoe menatap kagum pada doktor ahli filsafat itu dan menyalaminya setelah sidang mencapai kesepakatan.
“Anda sungguh luar biasa Doktor, mengagumkan sekali.”
“Terimakasih, tapi Anda salah. Saya tidak luar biasa, saya hanya menyatakan sebuah fakta saja.”
“Ya, tapi itu tetap luar biasa bagi saya.”
“Terimakasih. Maaf saya harus pergi.”
Doktor filsafat itu lantas berlalu meninggalkan Yoe yang masih menatapnya dengan kagum. Tubuhnya tinggi besar seperti penyanyi seriosa Pavarotti. Langkahnya mantap menjejak bumi seolah gaya gravitasi menariknya begitu kuat. Seandainya ia melangkah di tanah becek berlumpur, bekas sepatunya pasti sangat dalam. Sepertinya ada hubungan yang teramat erat antara doktor filasafat itu dengan sesuatu di dalam bumi.
Yoe menceritakan doktor filsafat itu padaku dengan bersemangat seperti biasanya. Aku ingin tertawa ngakak, tapi karena tak ingin merusak kegembiraan Yoe (untuk jabatan barunya sebagai Komandan ILWMM) dan kekagumannya pada doktor filsafat itu, aku menahan tawa sebisanya meski itu pasti meninggalkan ekspresi lucu di wajahku.
Aku juga kagum pada doktor filsafat itu, tapi aku lebih takjub pada kekonyolan seluruh anggota TKWMM. Mereka konyol sekali. Jelas doktor filsafat itu telah mempermainkan dan melecehkan mereka semua dengan cara yang sangat jitu ketika dia memecah kebuntuan sidang penentuan agenda rapat pertama TKWMM dengan lontaran sambil lalunya.
Ironisnya, semua orang justru terkagum-kagum pada doktor filsafat yang aku yakin, tertawa sambil menangis melihat seluruh anggota TKWMM yang dengan penuh semangat ingin menentukan agenda rapat kerja pertama. Sementara wabah mata yang malas terus menimbulkan akibat-akibat yang tak terbayangkan oleh mereka. Peristiwa tukang ojek pasti sesuatu yang tak terbayangkan di kepala sebagian besar anggota TKWMM.

