Rabu, 16 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS.com
Rabu, 16 Mei 2012 | 19:41 WIB
Jazz dan Musik Batak
| jodhi | Sabtu, 14 November 2009 | 14:00 WIB
|
Share:

KOMPAS/AUFRIDA WISMI WARASTRI
Musisi tradisional Batak, Alister Nainggolan (meniup seruling), dan musisi dari Pusat Latihan Opera Batak bermain dalam satu panggung dengan musisi jazz dunia, Mike Del Ferro (piano), Lewis Pragasam (drum), dan Marcus Dengate (bas), dalam Konser Jazz/Musik Batak di Auditorium RRI, Medan, Kamis (12/11) malam. Selain di Medan, acara yang disponsori Erasmus Huis/Pusat Kebudayaan Belanda juga akan ditampilkan bersama musisi tradisi di Jakarta, Yogyakarta, dan Bogor

Aufrida Wismi

Musik adalah bahasa universal. Lewat suaranya, musik mampu menembus batas-batas etnis dan perbedaan, membentuk bahasa keindahan yang bisa dinikmati banyak orang. Hal ini terjadi saat Mike Del Ferro, musisi jazz asal Amsterdam, Belanda, spesialis piano, bersama Lewis Pragasam penggebuk drum asal Malaysia dan Marcus Dengate, pemetik bas asal Australia bersama musisi tradisi dari Pusat Latihan Opera Batak menggelar konser di Auditorium RRI, Jalan Gatot Subroto, Medan, Kamis (12/11) malam.

Kehadiran Mike Del Ferro dan Alister Nainggolan, maestro musik tradisi Batak, yang dimotori Pusat Kebudayaan Belanda Erasmus Huis itu memberi hiburan tersendiri bagi penikmat musik di Kota Medan yang langka mendapat hiburan berkualitas.

Dalam jumpa pers sehari sebelumnya, Mike dan Alister mengaku baru bertemu Rabu petang itu. Alister memperdengarkan tiupan serulingnya. Ia langsung mendapat acungan jempol dari Mike dan Lewis.

Ditanya bagaimana Mike akan menggabungkan musiknya dengan musik tradisi Batak, ia tersenyum dan menjawab, tidak bisa menerangkan. Kecuali bahwa bahasa musik akan bertemu sendiri untuk menemukan bahasa yang sama.

Bahasa musik yang universal itu sudah ia temui dalam pengalamannya berkeliling dunia, bermain musik dengan para musisi tradisi dari Amerika Latin, Asia, hingga Afrika. Dalam setahun, kata Mike, ia sedikitnya berkeliling di 20 negara. Hingga kini sudah lebih dari 80 negara ia kunjungi untuk bermain musik. ”Hidup saya sangat menarik dan sangat saya syukuri,” katanya menceritakan pengalamannya.

Selain di Medan, bersama Erasmus Huis ia akan bermain di Yogyakarta bareng dengan pemusik gamelan, di Bogor dengan pemusik angklung, dan di Jakarta. ”Selama satu minggu, saya menjadi lebih mengerti soal musik Indonesia,” kata Mike.

Seperti di Medan, sebelum pentas, ia melakukan lokakarya bersama para pemusik tradisi. Di situlah kolaborasi itu terjadi.

Menyaksikan Alister Nainggolan dan kawan-kawannya bermain musik bersama Mike Del Ferro benar-benar melihat musisi sejati yang bermain musik karena musik itu sendiri. Mereka bermain musik dengan hati, meretas atribut-atribut yang sering dilekatkan pada seseorang.

Suara seruling Alister melengking naik turun diiringi kecapi, garantung, taganing (gondang), hesek, bersama drum, piano, serta bas Mike Del Ferro dan kawan-kawannya menghibur lebih dari 100 pengunjung malam itu.

Pada sesi pertama, Mike menampilkan repertoarnya bersama dua kawannya, baru kemudian repertoar bersama pemusik tradisi Batak ditampilkan di sesi kedua. Mereka menampilkan lima repertoar. Tiga repertoar dibarengi vokal berjudul ”Jamila”, ”Anjuhau”, dan ”Butet”. Dua repertoar lagi ditampilkan tanpa vokal, yakni ”Tumbasisir” dan ”Supir Motor Lama”. Hanya dua lagu, yakni ”Anjuhau” dan ”Butet” yang bukan musik pengiring dalam opera Batak.

Tepuk tangan penonton bergema setiap kali satu repertoar selesai. Dalam dialognya di panggung, Mike berkali-kali mengucapkan terima kasih pada apresiasi masyarakat.

Sayang, konser yang menarik itu ”harus” dijaga ketat. Belasan polisi mencolok di dalam dan di luar gedung Auditorium RRI membuat suasana menjadi kurang nyaman. Pertunjukan musik di ruang tertutup dengan musisi dunia sebagai penampil jelas tak sama dengan demonstrasi.

Thomson HS, direktur artistik PloT, mengakui, masalah perizinan penyelenggaraan hiburan dengan pihak keamanan memang masih berbelit-belit. Ia mencatat ada 18 polisi berjaga. Dana perizinan dan keamanan pun perlu disiapkan ekstra.

Selain itu, meskipun panggung pertunjukan dan gedung Auditorium RRI memiliki akustik yang bagus, gedung tidak dilengkapi alat pendingin ruangan yang bagus. ”Kami pentas sibuk dengan panggung yang sangat panas,” kata dia. Tampaknya Medan memang harus berbenah menyiapkan panggung dan pendukungnya yang nyaman.

Sumber :
Kompas Cetak