
Ada saatnya
Ada saatnya untuk memahami benak
memahami pertarungan panjang tanpa pemenang
baiknya kita memang cuma berdiri disebuah garis
diluar
selalu benak punya kendali
Saatnya pertarungan usai
akan ada yang pergi diam-diam.
Ada saatnya menjadi bijak dengan tidak bertanya
kenapa gerimis hari ini turun dengan begitu ritmis?
Karena kesendirian tidak harus selalu dipertanyakan toh?
Saat yang tepat untuk berpisah selalu ada.
Selalu ada. Seperti dalam sebuah perjalanan kereta
selalu ada saatnya berhenti pada tujuan.
Karena jikapun tidak,
selalu ada stasiun paling akhir
yang menggagalkan tujuan mu kemana saja
Bacalah
Bacalah,
seperti kau menyebut deretan kata-kata asing saat kau sangat belia ;
terpatah-patah mengeja konsonan
tergelincir mengeja vokal
tanpa harakat,
dan nafas tersengal tanpa titik dan koma
Bacalah,
seperti kau mengeja tulisan mu sendiri di kaca-kaca bus yang penuh sesak sehabis hujan
barisan huruf dari campuran embun uap nafas mu
dan sedikit tetesan gerimis
: begitu rapuh dan buram hingga sulit kau kenali apa abjad yang tercetak disana
Bacalah,
seperti kala pertama kau terima surat ber cap pos sebuah nama kota - yang kau hafal diluar kepala seluk beluk jalan nya
Bacalah dengan perlahan
seperti dulu kau temukan potongan-potongan takdir mu
di sela-sela akhir kalamnya yang tercetak tajam:
dengan cinta
SONET XX
Seperti Sapardi, nyatanya aku adalah penggemar sebermula
awalan itu begitu memukau, ketimbang akhiran toh?
mulamulanya adalah salju
mulamulanya adalah sejarah
mulamulanya adalah gerimis
mulamulanya adalah takjub
pada mulanya, ialah: Kita
Ada seribu satu purba sangka dalam permulaan
ada begitu banyak misteri pada awalan
tapi toh, kita tetap mencaricari yang di depan saja agaknya?
permulaan membuat kita nyaman kerana akhiran ibarat masih di ujung kilometer sana
sesuatu yang baru, yang nyaris begitu misterius, membuat kita asyik mengutak-atik skalaperhitungan
semacam bilangan Binomial atau perlakuan sampling dalam riset sains
: kiranya fantastis skala pendugaan ini
Sebermula adalah ekstase yang memabukkan
kita mudah terlupa
entah nanti lusa dan mungkin tahun mendatang
nun,
kita akan bertemu juga pada akhiran.
Depok
Kota ini menjadi tua dalam sebuah catatan
Akan halnya kesetiaan ia adalah cinta tanpa kesudahan
Sejauh kau melangkah ia menjadi beban yang sarat
Bagai Ibunda yang memanggil: lewat surat, lewat isyarat
Menunggu gerimis jatuh
senja segera runtuh sebentar lagi
kerlap emasnya tinggal segaris saja
tapi dari rerimbun gerimis, dapat ku tangkap jejak mu nan sansai
seperti hendak berbisik
tapi aku seperti pendekar muda sahaja layaknya
sombong dan angkuh pada hal-hal romantik,
padahal inilah sebenarbenarnya pemuja sejarah dan duka lama.
***
gerimis sudah berganti reda
beberapa tetesan hujan masih dapat ku cium aromanya dari sini.
saat itu seperti ada yg gemerisik di sebrang kabut
seperti suara serak seorang gadis
memungut daundaun sejarah
Cuma Pengembara
0
Aku cuma seorang pengembara dari gurun-ke gurun,
menunggu hujan dari angin yang bertipu kencang
Aku cuma pengembara yang melintas padang gersang tak bertuan.
Hidup dengan oase dan gelisah mimpi
Aku cuma pengembara yang ingin singgah
pada mata air yang mengalir
membasuh muka,
dahaga dan
kering kata-kata
1
Tubuhmu adalah lekuk-lekuk rahasia
adalah gurindam dan sajak yang belum selesai
Biarkan aku memelukmu dengan pena dan cinta
agar ku gores ribuan kata dan sajak tak bersudah
Biarkan aku bernyanyi di dadamu yang perih
menyanyat biola dan membiarkan kunang-kunang bertelur disana.
2
Cuma mata yang berkilat
tapi kulihat ada api dan hutan-hutan terbakar
Kekasih,
Musim apakah ini?
Jika hujan mulai turun, dan ini Oktober
maka biarkan kita menari hingga senja tiba
hingga hutan terbakar dimatamu
meredup
mari sudahi semua dengan
kabut, embun, uap
dan
hangat bibirku
ini jelaga:
Ini jelaga hitam yang mengusung perapian sejarah. Membuat petak-petak ceritanya sendiri. Yang memasung untuk diam dan melihat titik-titik. Oh betapa indah jelaga. Ku bisa diam dan tak berkaca lagi. Sebab berkaca makin bingunglah karena hitam dimana-mana.
Oi, duka. Jika lara adalah pecut untuk lari darimu. Maka pecutlah aku kuat-kuat. Rangkul lah aku dengan kesakitan mendera. Biar makin sedih, dan keram bibir ini oleh teriak sakit. Tapi esok mungkin kan santai ku senyumi dunia : sebebas kenari meliuk pada sebuah klausul dunia.
Oi, awan. Jika hujan adalah isyarat. Maka cepat kirimi petir kuat-kuat. dan aku tak akan lari. Jutaan volt yang kau aliri biar ku teruskan ke bumi. Maka nanti aku tak lagi berbaring lemah. Berdiri, menerjang badai berputar-putar sekalipun.
Senja 2
Daun-daun berguguran di taman kampus
bersama debu menuliskan jejaknya pada
sajak ku.
Dipelataran kampus petang ini,
senja mengemas di kantung jaketku
meninggalkan cerita yang belum sempat ku tuliskan pada
dunia.
Merpati-merpati singgah sebentar
membawa sebuket bunga
lalu pergi meninggalkan sepi yang ngilu
didada ku.
Tentang Bunga-Bunga
Aster 1
Ia menyiram pokok aster yang kemarin petang baru saja ditanam dibelakang taman
Mungkin sudah berbulan-bulan
rencana menanam aster dirajut dalam benak mungil kepalanya
bagaikan cerita klasik peri-peri : ia sedang menunggu pangeran bertahta intan mahkota
berkendara kuda poni abu-abu mengajaknya ke sebuah perburuan dihutan
sambil menyanyikan tembang tentang alam dan cinta yang terbuang.
Ia masih menyiram di taman belakang,
waktu cuaca seperti gelap
dan ia bergegas masuk kedalam rumah.
Sore itu akhirnya ditutup dengan hujan lebat.
Sepotong aster yang mulai kuncup condong ke arah barat waktu ditiup angin.
Aster 2
Dia memotong tangkai terakhir bunga aster yang tumbuh dihalaman belakang,
menyimpan dalam lipatan buku dan menaruh hati-hati dalam tas biru.
Sambil menengadah langit, dia berharap hujan akan turun
lalu seperti sulap
ada peri yang memunculkan tunas baru di patahan aster
yang baru saja terpotong itu.
Alamanda
Seikat alamanda mungkin mengingatkan mu
akan jeruji penjara didalam kampus
menahanmu untuk tak dapat pergi kemana-mana.
Bahkan ketika kau diam-diam pergi tanpa pamit
Seikat alamanda itu diam-diam kuncup dalam lentik senyum mu.
Bougenville
Batang bougenville itu tak pernah benar-benar tegak sempurna.
Dulu waktu kita tinggalkan kampus,
mungkin tingginya hanya setegak badan kita.
Mungkin hanya kita yang benar-benar memperhatikan batang bougenville itu ada,
padahal mahasiswa lalu lalang setiap hari.
Ah, dasar, mungkin mahasiswa kita yang terlalu tebal menenteng kumpulan teks kuliah semacam; Agronomi 2 dan kalkulus jilid 1,
hingga benar-benar khilaf tak dapat melihat bougenville itu ada.
Atau mungkin kita yang tak pernah sungguh-sungguh berniat kuliah
karena teks-teks kajian sains pertanian nyaris tak pernah menetap lama dalam tas, terhalang bacaan semacam ; Pengantar kritik sastra, atau kumpulan cerpen Kompas yang tebalnya dua jari.
Tapi kini bougenville itu sudah tegak hampir menjuntai dilantai 2 gedung pusat university.
Itu pun ku tahu waktu tak sengaja lewat ke perpustakaan pusat IPB.
Mencari literature untuk mengantar membaca Sapardi
Tentang Waktu
Siapa mencuri dalam gelisah tidur mu:
Waktu!
Siapa teriak diatas meja kerjamu:
Waktu!
Siapa menitip isyarat di daun itu:
Waktu!
Apa yang kau catat dalam tiap perjalanan lalu:
Waktu!
Apa yang kau bunuh di tepi subuh:
Waktu!
Siapa tamu yg kaubunuh ditengah malam,
saat semua tidur sambil memeluk bulan?
Waktu!
Hatta : Mantan mahasiswa jurusan menejemen pertanian, IPB. Hampir hijrah ditahun kedua kuliah ke Jurusan Bahasa Indonesia FSUI, tapi gagal mendapat restu orangtua. Sempat bergabung sebentar dalam komunitas Sastra Salju Bogor (kini berubah maya dalam situs kumpulan cerpen www.sriti.com ). Menulis puisi dan mencetaknya dalam lembar fotokopi-an saat SMA dan kuliah bersama rekannya Wicak Hidayat (kini redaktur IT Detik.com). Tinggal di Bogor dan berprofesi sebagai analis disebuah perusahaan swasta. Menulis puisi sekadar dokumentasi sejarah saja.